Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

AS Serang Fasilitas Radar-Drone, Iran Tembakkan Misil ke Pangkalan Militer

j
Penulis: jpg❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Serangan ke menara komunikasi di Pulau Sirik, Iran, adalah bukti kesekian bahwa Amerika Serikat (AS) tak mematuhi gencatan senjata. Bahkan, dalam pengakuan Negeri Paman Sam itu sendiri, sepanjang akhir pekan lalu mereka juga menyerang fasilitas radar serta drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.

“Serangan kami lakukan untuk melindungi diri,” kata Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), seperti dikutip dari Middle East Eye kemarin (1/6).

Jadi, tak mengherankan jika Iran merespons dengan keras. Dalam video yang diunggah Kantor Berita Fars kemarin (1/6), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan misil serta pesawat nirawak ke pangkalan militer yang menjadi basis serangan ke Pulau Sirik.

Advertisement

IRGC tak menyebut pangkalan mana persisnya yang mereka serang kemarin. Namun, Kuwait mengumumkan bahwa mereka berhasil mencegat serangan misil dan drone.

Jadi, hampir bisa dipastikan ke negara tetangga Irak itulah serangan Iran diarahkan. Dan, IRGC mengklaim bahwa serangan mereka berhasil mencapai sasaran.
“Blokade laut dan eskalasi kejahatan perang di Lebanon yang dilakukan rezim genosida Zionis adalah bukti bahwa AS tak mematuhi gencatan senjata. Setiap pilihan mengandung konsekuensi dan mereka harus menanggung konsekuensi itu,” tulis Mohammad Bagher Ghalibaf ketua delegasi Iran dalam perundingan dengan AS, di akun X-nya.

Ketegangan itu yang membuat perundingan Iran-AS tak kunjung mencapai kesepakatan. Iran bersikeras menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan AS dan Israel mulai 28 Februari sampai gencatan Iran-AS berlaku per 8 April. Juga, pencairan aset di luar negeri yang dibekukan Washington DC dan kendali penuh Selat Hormuz.

Advertisement

Di sisi lain, AS, seperti disuarakan Presiden Donald Trump, menuntut penyerahan stok uranium Iran. Juga, mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kondisi di Lebanon

Kebrutalan tiada henti Israel di Lebanon juga menjadi kendala tercapainya kesepakatan Iran-AS. Terbaru, Israel merebut Kastil Beaufort, legasi abad pertengahan, di sebelah utara Sungai Litani di sisi selatan Lebanon. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memang memerintahkan militernya untuk merangsek sampai ke Dahiyeh, wilayah di sisi selatan Lebanon, yang diklaim sebagai basis Hizbullah.

Kecaman datang bertubi-tubi. Kuwait, salah satu sekutu AS, meminta dihentikannya serangan Israel sesegera mungkin. “Kuwait mendukung penuh kedaulatan, kesatuan, dan integritas teritorial Lebanon,” kata Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam rilis resmi mereka.

Seorang pejabat AS kepada Al Jazeera mengatakan, AS tengah menyusun peta jalan untuk deeskalasi serangan Israel. Dalam rancangan tersebut, Hizbullah diminta menghentikan serangan ke wilayah utara Israel dan Israel juga diminta menyetop serbuan ke sisi selatan Lebanon. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga sudah melakukan kontak telepon dengan Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun. (ttg/jpg)

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Minyak Dunia Bertahan Setelah Anjlok pada Awal Pekan, Pasar Tunggu Kepastian Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Bertahan Setelah Anjlok pada Awal Pekan, Pasar Tunggu Kepastian Selat Hormuz

Harga minyak dunia bergerak stabil, tetapi masih menuju penurunan mingguan lebih dari 10 persen. Pasar menunggu kepastian Selat Hormuz.

Harga Emas Dunia Bertahan Dekat Level Tertinggi 7 Pekan, Pasar Cermati Kesepakatan Selat Hormuz

Harga Emas Dunia Bertahan Dekat Level Tertinggi 7 Pekan, Pasar Cermati Kesepakatan Selat Hormuz

Harga emas bertahan dekat level tertinggi 7 pekan setelah harapan kesepakatan Selat Hormuz menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Fatamorgana Damai di Padang Perang

Fatamorgana Damai di Padang Perang

Fatamorgana Damai di Padang Perang mengulas rapuhnya harapan damai AS, Israel, dan Iran di tengah konflik berkepanjangan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer