
PADEK.JAWAPOS.COM -- Amerika Serikat (AS) sibuk di dua front pada hari-hari ini. Di dalam negeri, AS berkutat dengan persiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Di Timur Tengah, AS sibuk mengupayakan agar eskalasi antara Israel dan Iran tidak semakin membesar.
Mengutip Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump berhasil menahan rencana serangan besar Israel terhadap Iran setelah memberikan peringatan keras kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Bibi, sapaan akrab Netanyahu, semula menyetujui operasi militer besar itu dijalankan pada Senin (8/6).
Namun, serangan tersebut dibatalkan pada menit-menit terakhir ketika jet tempur Israel sudah bersiap di landasan pacu. “Saya berkata, ’Bibi, sebaiknya Anda berhati-hati atau Anda akan segera sendirian’,” kata Trump.
Iran menyerang wilayah utara Israel pada Minggu (7/6) malam setelah Negeri Yahudi itu terus menggempur Lebanon Selatan, wilayah tempat Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, berada. Serangan itu dilakukan karena Teheran menganggap Tel Aviv melanggar gencatan senjata yang disepakati dengan AS pada 8 April lalu.
Israel membalas serangan tersebut. Kedua negara pun saling bergantian menembakkan rudal dan roket.
Trump menegaskan bahwa proses negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik masih berlangsung. Karena itu, melalui akun Truth Social miliknya, dia mendesak kedua negara untuk menghentikan serangan.
Netanyahu menyetujui permintaan Trump tersebut, meski keputusan itu disebut menimbulkan kebingungan di jajaran komando militer Negeri Zionis. Sebab, pesawat-pesawat tempur sudah bersiap menjalankan misi.
“Saat ini serangan telah kami hentikan karena setelah rezim teroris di Teheran dilumpuhkan, mereka berhenti menyerang kami,” ujar Netanyahu sembari memperingatkan bahwa penghentian serangan itu bersifat sementara.
Serangan Iran memicu keterkejutan banyak pihak di Israel. “Kami tak menduga mereka akan berani melakukannya,” kata Alon Ben David, koresponden Channel 13 di Tel Aviv, Israel.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



