
PADEK.JAWAPOS.COM -- Kenaikan harga minyak dunia yang efeknya merembet sampai ke Indonesia dipicu ketegangan di Timur Tengah. Kabar buruknya, situasi di kawasan tersebut justru terus memanas.
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Iran sebagai balasan atas jatuhnya helikopter Apache milik mereka di dekat Selat Hormuz.
Teheran pun langsung membalas dengan menyerang puluhan target militer seterunya tersebut di kawasan Teluk Persia.
Ketegangan bermula pada Senin (8/6) ketika sebuah helikopter Apache milik AS jatuh di dekat Selat Hormuz. Menurut Washington, kedua awak helikopter berhasil diselamatkan setelah dievakuasi menggunakan pesawat nirawak laut.
Sebagai respons, Pusat Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Rabu (10/6) dini haru. Sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan lokasi radar di sekitar Selat Hormuz menjadi target utama.
Teheran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap 21 target yang terkait dengan militer AS di sekitar Teluk. Sasaran mencakup fasilitas dan pangkalan AS di Bahrain, Yordania, serta sejumlah lokasi lain.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, negaranya tidak akan membiarkan serangan lawan berlalu tanpa balasan. “Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, Amerika memilih untuk menguji tekad kami,” tulis Araghchi melalui akun X.
Ketegangan juga dipicu perkembangan di Lebanon. Pada Selasa (9/6), pasukan Israel melancarkan serangan ke wilayah Lebanon selatan. Teheran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap operasi militer baru Israel terhadap sekutunya di kawasan dapat memicu gelombang serangan balasan tambahan.
Meski konflik terus meningkat, Iran dan AS sebenarnya masih berada dalam proses negosiasi diplomatik. Namun, eskalasi militer terbaru membuat prospek perundingan menjadi semakin tidak menentu.
Dilansir dari Middle East Eye, Juru Bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menuding Washington terlalu cepat menyalahkan Teheran atas jatuhnya helikopter Apache tersebut. “Hanya dalam dua hari, Pentagon dan Gedung Putih menyimpulkan bahwa kecelakaan helikopter di Selat Hormuz adalah ulah Iran,” kata Rezaei.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




