Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Varietas Unggul di Sumbar, Durian Kamang Punya Rasa Berbeda-beda

Novitri Selvia • Selasa, 13 Desember 2022 | 10:55 WIB
PALING DIMINATI: Fatmawati penjual durian, memperlihatkan durian terbaik yang ia jual.(SY RIDWAN/PADEK)
PALING DIMINATI: Fatmawati penjual durian, memperlihatkan durian terbaik yang ia jual.(SY RIDWAN/PADEK)

Beda lingkungan beda pula rasanya, beda perawatan beda pula hasilnya. Ternyata kondisi lingkungan dan juga cuaca dapat mempengaruhi cita rasa sebuah durian. Hal ini berlaku untuk semua jenis durian, termasuk juga dengan buah durian Kamang yang menjadi pembahasan kali ini.

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat atau pemerhati durian akademisi Unand, Bidang Konservasi genetik, Dr. PK Dewi Hayati beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa jenis kebun durian itu ada dua macam, yang pertama memang kebun durian intensif yang sengaja dijadikan bisnis oleh seseorang.

“Dan itu kita di Sumbar udah banyak ya kayak yang emang dijadikan tempat kunjungan bagi pecinta durian, dan ada juga kebun durian alam milik masyarakat, tapi ada juga yang semi intensif,” ujarnya.

Maksud dari semi intensif itu sendiri yaitu dimana masyarakat ketika menanam dengan memilih bibit yang unggul menurutnya. Akan tetapi tidak ada perawatan tambahan yang dilakukan seperti perawatan perkebunan intensif. Kemudian, musim durian itu terus bergerak, dimana ketika di satu daerah musimnya sudah habis, di daerah lainnya baru mulai musim berbuah.

“Dimana semi intensif (durian alam, red) ini masyarakat tidak ada yang perawatannya diberi pupuk, mereka hanya mengikuti kearifan daerah lokal masing-masing, sementara untuk yang intensif perawatannya diupayakan bagaimana pohon durian ini dapat menghasilkan rasa yang enak dan berkualitas,” terangnya.

Menurutnya, terkait rasa dari durian Kamang sendiri itu berbeda-beda. Terkadang dalam satu batang pohon durian saja setiap musimnya bisa menghasilkan rasa yang berbeda-beda. Hal tersebut tergantung kepada kondisi lingkungan pohon durian tersebut.

“Nah inilah yang kita sedang coba jelaskan, ada satu pohon durian yang musim pertama menghasilkan buah yang manis, tekstur yang pas tidak lembek tidak juga keras. Tapi pada musim berikutnya rasanya bisa berubah loh, bisa juga malah sebaliknya,” jelasnya.

Hal ini disebabkan karena pengaruh dari lingkungan. Jika pada suatu musim ada banyak orang yang melakukan pembakaran disekitarnya, maka asap yang mengenai buah durian di pohonnya akan berpengaruh. Bisa rasa yang jadi tidak enak, atau matang yang tidak sempurna.

“Tidak hanya itu, cuaca yang tidak menentu juga bisa mempengaruhi rasa durian, kalau kadar panas dan juga air yang menyerap ke durian tidak seimbang, rasanya juga bisa beda. Jadi sebenarnya tidak mudah untuk merawat durian kalau ingin rasanya yang berkualitas,” lanjutnya.

Tapi bukan berarti rasa durian alam tidak bisa menyerupai rasa durian yang dirawat dengan intensif (komersil). Menurutnya, durian kamang bisa dijadikan sebagai varietas unggul di Sumbar, namun hal tersebut kembali lagi kepada bagaimana dukungan dari pemerintah daerah setempat.

Dewi juga menyebutkan untuk rasa durian Kamang sendiri ada beragam macam, ada yang manis seutuhnya, ada juga yang manis dan pahit, ada juga yang asam manis. Artinya, meskipun duriannya tumbuh di satu daerah Kamang, rasanya belum tentu sama semuanya.

“Ciri khas durian yang enak bagi masyarakat lokal itu adalah, durian yang rasanya manis, tapi di ujung ada rasa pahitnya juga gitu. Filosofinya dimana kehidupan itu tidak hanya keindahan saja, tapi ada pahit (kesulitan) juga,” tuturnya.

Dia juga menyebut bahwa sampai saat ini belum ada alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi kebagusan dari sebuah durian. Sampai sekarang masih belum ada yang bisa memastikan isi dari durian tersebut bagus atau tidaknya.

“Seperti menerka-nerka ya, ini duriannya enak loh, dagingnya empuk, rasanya manis nggak ada pahitnya. Itu belum ada satu pun alat yang bisa kita gunakan, selain membuka atau membelah duriannya terlebih dahulu, baru kita bisa lihat bagaimana bentuk isinya,” sambungnya.

Hal sama juga disampaikan oleh salah seorang warga Muaro Tantang, Kecamatan Palembayan Sumbar, Ika Varya. Ia membeli buah durian Kamang sebanyak 10 buah. Tapi setelah dicoba, masing-masingnya punya rasa yang berbeda. “Iya kemarin (8/11) suami saya lewat daerah sana jadi beli beberapa,” ucapnya.

Menurutnya, ada durian yang dagingnya keras, ada juga yang terlalu lembek, ada juga warnanya yang kuning. Tapi ada juga yang rasanya enak, ada manis dan pahit-pahitnya.
“Padahal kata suami saya belinya masih di tempat dan orang yang sama, tidak tahu juga kenapa bisa beda-beda rasanya, mungkin beda pohon kali yah,” terangnya. (cr4)

Editor : Novitri Selvia
#Dewi Hayati #Durian Kamang #durian