Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lahan Relokasi Disiapkan di 3 Titik

Putra Susanto • Jumat, 7 Juni 2024 | 13:37 WIB

TERUS BANGKIT: Sekkab Agam yang juga Kepala BPBD Agam Edi Busti memaparkan kondisi terkini kebencanaan di daerah itu saat rapat koordinasi bersama BNPB, Kamis (6/6).(HUMAS PEMKAB AGAM FOR PADEK)
TERUS BANGKIT: Sekkab Agam yang juga Kepala BPBD Agam Edi Busti memaparkan kondisi terkini kebencanaan di daerah itu saat rapat koordinasi bersama BNPB, Kamis (6/6).(HUMAS PEMKAB AGAM FOR PADEK)
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam Edi Busti menyampaikan kondisi terkini kebencanaan dalam rapat koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (6/6). Dalam rapat yang berlangsung secara daring tersebut, beberapa poin penting disampaikan terkait penanganan dan relokasi korban banjir bandang serta upaya normalisasi sungai.

Hingga saat ini, sebanyak 51 rumah yang terdampak banjir bandang, pemiliknya telah bersedia melakukan relokasi secara mandiri.  “Masyarakat yang terkena dampak banjir bandang sudah mulai melakukan relokasi mandiri. Tercatat ada 51 rumah rusak yang pemiliknya telah pindah secara sukarela,” ujar Edi Busti yang juga Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Agam itu.

Untuk relokasi terstruktur lanjutnya, masih menunggu persetujuan penuh dari warga. Namun, setelah dilakukan pendekatan dan sosialisasi, pada prinsipnya masyarakat mau direlokasi.  “Kami sudah melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat. Secara prinsip, mereka setuju untuk direlokasi. Kami saat ini tinggal menunggu lokasi yang diinginkan oleh masyarakat, yang disiapkan di Balingka, Matur dan Lubukbasung,” tuturnya.

Mengenai pemanfaatan tanah eks Hak Guna Usaha (HGU) sebagai lahan relokasi, prosesnya kata Edi, sudah selesai. Gubernur Sumbar dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) bahan sudah menyetujui.  Dalam proses relokasi dan penanganan pascabencana katanya lagi, beberapa hambatan masih perlu diatasi.

Salah satunya adalah kebutuhan akan alat pemecah batu untuk proses demolisi. “Proses demolisi di Batuanguih sudah selesai. Namun, kami masih membutuhkan alat pemecah batu untuk mempercepat proses ini,” katanya.

Selain itu, terdapat enam jembatan yang akan diperbaiki, yang masih menunggu persetujuan dari BNPB. “Ada enam jembatan yang perlu diperbaiki segera. Kami masih menunggu persetujuan dari BNPB untuk memulai pekerjaan ini,” katanya.

Isu kritis lainnya yang diangkat pada rakor tersebut yakni normalisasi sungai. Masyarakat Galuang yang berada di bantaran sungai sudah bersedia menyerahkan tanah mereka tanpa ganti rugi untuk keperluan ini. “Masyarakat di Galuang sudah sepakat untuk menyerahkan tanah mereka guna normalisasi sungai tanpa meminta ganti rugi,” jelasnya.

Namun, jembatan di Galuang juga perlu diperbaiki karena berisiko tinggi terhadap banjir susulan. “Jembatan di Galuang perlu segera diperbaiki karena berisiko terhadap banjir susulan,” tambahnya. 

Selain itu, beberapa spot di sungai lain juga membutuhkan normalisasi segera. Pemerintah daerah terus memberikan dukungan kepada warga terdampak dengan menyediakan suplai makanan dua kali sehari. “Kami memastikan bahwa suplai makanan untuk warga terdampak terus berlanjut. Dua kali sehari, makanan didistribusikan kepada mereka,” ungkapnya. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#lahan relokasi #Edi Busti #BPBD Agam #hgu