Tokoh adat yang juga zuriat Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Kesultanan Banten (Paguron Singandaru Karuhun Banten Indonesia) ini, datang dalam kapasitasnya sebagai Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru serta Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Talago Biru Indonesia Pengda Riau.
Kedatangan beliau disambut hangat oleh tokoh adat, ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, hingga guru-guru silek tradisi di kediaman Mak Tuo Bundo Kanduang, Ibu Yuliar.
Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bagian dari upaya pelestarian nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah perjuangan leluhur.
Turut hadir dalam rombongan tersebut sejumlah tokoh adat dan pendekar silat ternama: Datuak Banso, Tuanku Bandaro Putiah, Asmiral Tuangku Sati, Malin Tumanggung, Datuak Tan Marajo. Lalu, H Tarmizi Akbar (H Kobar)-Ketua Himpunan Silek Tuo Minangkabawi Afrizal Can Sutan Rajo Mudo-Guru Tuo Silek Taralak dan PPS Talago Biru Indonesia.
Lalu, Anasrul Tuangku Rajo (Perisai Diri), Tuangku Hidayat Datuak Rajo Intan, (Paguron Singandaru Karuhun Banten Indonesia) serta Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru, Tuangku Edi Datuak Talangik, dan Tuangku Hardianto Datuak Yan Basa. Kegiatan ini diadakan di kediaman Yuliar/tuo bundo kanduang.
Dalam sambutannya, Tubagus Ahmad Abdari mengutip QS Al-Hujurat ayat 13, menekankan pentingnya saling mengenal di antara suku dan bangsa, sebagai dasar untuk memperkuat silaturahmi dan persaudaraan antarbudaya.
“Kemajuan suatu negeri tidak akan tercapai jika ajaran adat hanya tinggal sebutan dan tidak diamalkan sepenuh hati,” tegasnya dalam petuah adat yang disambut anggukan para hadirin.
Silaturahmi ini menjadi momen untuk mengingatkan kembali pentingnya sejarah sebagai pondasi karakter bangsa. Dalam diskusi yang hangat, disinggung pula tiga strategi penjajahan terhadap negeri yang ingin dilemahkan, mengaburkan sejarah, menghancurkan bukti sejarah, dan memutus hubungan masyarakat dengan leluhur.
Silaturahmi ini juga menegaskan kembali pentingnya pelestarian seni budaya dan silek tradisi. Pencak silat, khususnya Silek Minangkabau, bukan sekadar seni bela diri, tetapi filosofi hidup dan warisan jati diri yang harus terus dihidupkan oleh generasi muda.
“Mari kita jaga dan lestarikan budaya tradisi, serta pencak silat sebagai identitas bangsa. Sejarah ini tidak boleh dilupakan. Semangat juang itu harus kita wariskan,” ujar Tubagus dengan penuh semangat.
Kegiatan ini contoh nyata bagaimana warisan leluhur, nilai-nilai adat, dan semangat kebangsaan bisa dirajut dalam bingkai kebersamaan.
Kamang tidak hanya menjadi saksi sejarah perjuangan masa lalu, tapi juga panggung kebangkitan budaya untuk masa depan Indonesia yang berakar kuat pada adat dan tradisi.
Nagari Kamang dikenal memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan penjajah, mulai dari Perang Kamang tahun 1908 yang dipelopori tokoh-tokoh seperti Haji Abdul Manan dan Siti Manggopoh, hingga keterlibatannya dalam Perang Padri (1803–1837) bersama tokoh besar seperti Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Imam Bonjol. (rdo)
Editor : Adetio Purtama