PADEK.JAWAPOS.COM-Bupati Agam Benni Warlis Dt Tan Batuah menegaskan pentingnya legalitas dan tata kelola yang akuntabel dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di setiap nagari.
Ia menyebut, keberhasilan program gizi tidak hanya diukur dari jumlah anak penerima, tetapi juga dari kepastian izin, mutu pelayanan, dan dampak ekonomi lokal.
Peringatan itu disampaikan Bupati saat kunjungan kerja ke Kecamatan Ampeknagari, Selasa (21/10), yang sekaligus menjadi forum koordinasi dengan pemerintah nagari dan masyarakat setempat.
“Setiap dapur MBG harus punya legalitas jelas. Tanpa izin dan pengawasan resmi, program ini bisa kehilangan arah dan akuntabilitas,” tegas Benni Warlis di hadapan wali nagari, pengelola yayasan, dan perangkat kecamatan.
Menurut Bupati, keberadaan dua yayasan pengelola MBG di Ampek Nagari patut diapresiasi sebagai langkah cepat masyarakat mendukung program prioritas daerah. Namun ia mengingatkan, semangat sosial harus berjalan seiring dengan kepatuhan regulasi.
“Kita ingin MBG tidak hanya berjalan hari ini, tapi berkelanjutan. Untuk itu, izin operasional, standar gizi, dan pengelolaan keuangannya harus tertib dan transparan,” ujarnya.
Ia menambahkan, legalitas bukan sekadar formalitas administrasi, tetapi jaminan keberlangsungan dan perlindungan hukum bagi pengelola maupun penerima manfaat.
Lebih jauh, Bupati menekankan bahwa MBG tidak boleh berhenti pada penyediaan makanan gratis. Program ini harus mendorong rantai ekonomi lokal, dengan melibatkan Koperasi Merah Putih, BUMNag, dan pelaku usaha kecil dalam pengadaan bahan pangan.
“Kalau sayur, telur, dan berasnya dibeli dari petani nagari, maka setiap piring bergizi juga menghidupkan dapur masyarakat sekitar,” jelasnya.
Dengan pola itu, program MBG dapat menjadi gerakan sosial-ekonomi terpadu yang menyentuh dua sisi: perbaikan gizi anak dan penguatan ekonomi warga.
Selain membahas MBG, Bupati juga memaparkan dua program lain yang saling terhubung: “Bangkik dari Surau” di bidang keagamaan dan Sawah Pokok Murah (SPM) untuk ketahanan pangan.
Ketiganya, menurutnya, membentuk tiga poros pembangunan Agam Madani: gizi untuk tubuh, iman untuk jiwa, dan pangan untuk kemandirian.
“Kalau dapur bergizi tertib, surau ramai, dan sawah produktif, maka Agam akan tumbuh kuat dari akar nagari,” pungkasnya. (ptr)