Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Longsor dan Banjir Susulan Melanda Agam–Kayutanam, Warga Kian Tertekan

Aris Prima Gunawan • Senin, 8 Desember 2025 | 11:13 WIB

WASWAS: Warga tampak menyaksikan arus Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman makin deras akibat hujan lebat mengguyur wilayah Asampulau, kemarin (7/12).
WASWAS: Warga tampak menyaksikan arus Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman makin deras akibat hujan lebat mengguyur wilayah Asampulau, kemarin (7/12).

PADEK.JAWAPOS.COM-Hujan lebat yang kembali mengguyur wilayah Kabupaten Agam sejak Sabtu (6/12) pagi hingga Minggu (7/12) membuat kecemasan warga kembali memuncak.

Debit sejumlah aliran sungai naik drastis, banjir kembali menggenangi permukiman, sementara longsor susulan muncul di berbagai titik.

Di Maninjau, air sudah naik hingga badan jalan dan kawasan permukiman di Pasar Maninjau. Di Sungaibatang, aliran Batang Tamayo juga terpantau meninggi. Kondisi ini membuat warga kian cemas.

“Saat ini ada longsor baru di Kukuban, tapi masih terkendali. Apakah sudah memutus akses, belum diketahui. Hari masih hujan, kami belum berani memantau jauh ke lapangan,” ujar Rudi Yudistira, warga Sungaibatang, Minggu (7/12) pukul 17.15 WIB .

Sehari sebelumnya, hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu pagi sempat kembali memutus akses transportasi Lubukbasung–Maninjau–Bukittinggi. Longsor dan banjir susulan merendam Kotomalintang, Kotokaciak, Bayua hingga Pasar Maninjau.

Di Kelok 44, longsor dilaporkan muncul kembali di ruas Kelok 8–10. Kondisi serupa terjadi di Sungai Landia, Kecamatan Ampekkoto, serta ruas Panta–Batas Kota Bukittinggi di Kampuang Pisang.

Jembatan darurat di Panta, Matur, hasil gotong royong warga dan petugas juga kembali terdampak luapan air. “Akses jalan menuju Bukittinggi dari Lubukbasung kembali terganggu akibat banjir dan longsor,” terangnya.

Selain itu, lanjut Rudi, bencana kembali berdampak pada rumah warga, sawah, hingga badan jalan yang kembali tenggelam lumpur dan material banjir. Bahkan, beberapa jembatan darurat yang sebelumnya dibangun untuk membuka akses antarjorong hanyut terbawa arus.

Meski demikian, tambahnya, akses yang putus tersebut kembali tersambung Minggu pagi. Akses Lubukbasung–Maninjau–Matur kembali bisa dilewati kendaraan roda dua dan empat setelah petugas membersihkan material banjir dan longsor.

Namun kondisi jalan masih sangat berbahaya. Lumpur menebal, jalan licin, dan penyempitan jalur terjadi di banyak segmen. “Pengguna jalan harus ekstra hati-hati,” imbuhnya.

Akses Matur–Sungailandia juga sudah dapat dilalui setelah pembersihan di dua titik longsor, termasuk pembenahan ulang jembatan darurat.

Kemudian, hancurnya badan jalan sepanjang sekitar 60 meter membuat jalur dari Maninjau menuju Jorong Kukuban, Pondok Pesantren Prof Dr Buya Hamka hingga Nagari Sungaibatang dan Tanjungsani juga sempat lumpuh total.

Namun, warga Jorong Bancah, Nagari Maninjau kembali bergotong royong membangun jembatan darurat bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. 

Di bagian hilir, dampak terban dan banjir merusak ratusan hektare sawah hingga ke nagari tetangga.

Di Nagari Sungaibatang, kerusakan terparah terjadi di Jorong Labuah, Jorong Nagari, dan Jorong Kubu, di mana aliran air membawa lumpur dan material besar ke kawasan permukiman serta lahan pertanian.

Di tengah kerja keras memperbaiki akses, warga berharap cuaca segera membaik dan rangkaian bencana ini segera berlalu.

“Semoga kita semua diberi kekuatan. Semoga musibah ini menjadi pengingat untuk lebih bermuhasabah, tawadu’ dan bertawakal kepada Allah SWT,” ujarnya.

Warga tak Bisa Pulang
Di Palembayan, air Batang Nanggang juga meluap pada Sabtu (6/12) sore, menghanyutkan jembatan darurat yang dibangun warga, TNI, dan Polri. “Hujan hanya sekitar satu jam, tapi air langsung besar,” ujar Farel, warga Salareh Aia.

Sejumlah warga tidak bisa pulang dan memilih menginap di pengungsian. Di sisi lain, Polres Agam memastikan tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini. Jalan provinsi Padang Kotogadang–Ampek Koto Palembayan ditutup sementara demi keselamatan.

Hilang Pekerjaan, Tertekan Keuangan

Sementara itu, setelah banjir besar menerjang Korong Asampulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman, dampaknya tidak hanya dirasakan pada hunian warga. Aktivitas ekonomi masyarakat ikut lumpuh.

Pasalnya, dominan warga di sana usahanya bertani dan menjadi penambang pasir tradisional (menggunakan perahu). Sawah dan lahan pertanian tidak bisa digarap karena terdampak banjir dan longsor.

Sedangkan mengambil pasir, mustahil dalam kondisi Batang Anai yang masih sangat deras di sana. Sekarang, warga benar-benar hanya bergantung hidup dari bantuan.

Warga pun menyadari kondisi itu tidak akan mudah. Untuk itu, mereka berharap pemerintah bisa dengan cepat melakukan pemulihan daerah mereka. Termasuk menjadi sumber mata pencarian. Yakni lahan pertanian.

Arif, 35, salah seorang warga Kampuang Tarandam, Korong Asampulau mengungkapkan, betapa beratnya kondisi yang dihadapi warga. Hal itu lantaran hilangnya sumber pekerjaan masyarakat. Baik Bertani ataupun menjual pasir.

“Kalau kondisi ini berlangsung panjang, kami benar-benar khawatir dengan masa depan keluarga kami. Sebab sekarang soal keuangan keluarga ikut darurat,” ungkapnya, kemarin.

Ia menambahkan, beralih atau mencari pekerjaan lain di luar menurutnya tidak mudah bagi warga. Terlebih kebutuhan sehari-hari terus mendesak.

Di sisi lain, wilayah lain juga tengah terdampak bencana, sehingga peluang kerja maupun bantuan tambahan menjadi semakin terbatas.

“Masyarakat sangat berharap pemerintah daerah memberikan perhatian dan dukungan lanjutan untuk meringankan beban ekonomi warga. Kerusakan lahan pertanian dan berhentinya berbagai aktivitas pekerjaan membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat. Sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Semoga perbaikan infrastruktur serta pemulihan ekonomi dapat segera dipercepat agar aktivitas masyarakat kembali normal,” tukasnya.

Pantauan Padang Ekspres kemarin, kondisi cuaca di Asampulau hujan lebat berulang. Kondisi itu membuat tim BPBD, TNI, Polri, dan relawan kebencanaan siaga terhadap potensi bencana yang membahayakan warga. Terlebih aliran Batang Anai tampak makin deras.

Waspadai Gelombang Empat Meter

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur, Kota Padang, mengingatkan masyarakat potensi gelombang tinggi hingga empat meter di perairan provinsi itu pada 7-10 Desember 2025 pukul 19.00 WIB.

Gelombang kategori tinggi yakni 2,5 hingga empat meter berpeluang terjadi di perairan khususnya Kepulauan Mentawai di antaranya perairan barat Siberut, perairan barat Sipora dan perairan barat Pagai.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur Rangga Nugraha Rasy mengatakan, perairan lainnya berpotensi gelombang tinggi kategori sedang yakni 1,25 hingga 2,5 meter.

Di antaranya di perairan Agam-Pasaman Barat, perairan Padang-Padang Pariaman, perairan Pesisir Selatan, perairan timur Siberut, perairan timur Sipora dan perairan timur Pagai. “Kondisi tersebut cukup berisiko terhadap keselamatan pelayaran,” ujar dia.

Ia menekankan, kondisi itu berisiko terhadap pelayaran perahu nelayan apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1.25 meter.

Kemudian, terhadap pelayaran kapal tongkang apabila kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1.5 meter, serta kapal ferry jika kecepatan angin mencapai 21 knot dengan tinggi gelombang mencapai 2.5 meter.

“Jadi kondisi ini dapat mengganggu aktivitas perahu nelayan kecil, kapal tongkang, dan kapal ferry di laut,” tukas dia. (ptr/apg/ant)

Editor : Novitri Selvia
#Sungai Landia #2x11 Kayutanam #Matur #longsor #polres agam #banjir #maninjau