PADEK.JAWAPOS.COM-Musibah kematian ikan secara massal kembali menghantam Danau Maninjau. Sedikitnya 252 ton ikan Keramba Jaring Apung (KJA) dilaporkan mati akibat fenomena upwelling yang dipicu bencana hidrometeorologi sejak pertengahan November 2025.
Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat bagi ribuan pembudidaya ikan dan nelayan di Kabupaten Agam, sekaligus memperparah kondisi ekonomi masyarakat pascabencana.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam, Doni Afdison, mengatakan angka 252 ton merupakan data sementara yang dihimpun hingga 2 Desember 2025. Ia menegaskan jumlah ikan mati di lapangan diperkirakan lebih besar.
Baca Juga: 30 Proyek di Mentawai Terancam Putus Kontrak, Bobot Pekerjaan di Bawah 50 Persen
“Data yang kami pegang saat ini masih sementara, sebanyak 252 ton. Namun, dalam perkiraan di lapangan, jumlah ikan yang mati bisa jauh lebih banyak. Kami belum bisa mengekspos data yang benar-benar valid sebelum seluruh laporan masuk secara lengkap by name by address dari nagari,” ujarnya, Senin (15/12).
Menurut Doni, proses pendataan menghadapi tantangan serius akibat cuaca ekstrem, keterbatasan akses, serta luasnya wilayah terdampak di sekitar Danau Maninjau.
Banyak pembudidaya masih fokus membersihkan keramba dan menyelamatkan sisa aset, sehingga laporan belum sepenuhnya rampung.
Baca Juga: Pelantikan Lima Pejabat Tinggi Pratama, Annisa Tekankan Birokrasi Profesional dan Berbasis Data
Fenomena upwelling menyebabkan massa air dari dasar danau yang miskin oksigen serta mengandung gas beracun naik ke permukaan. Kondisi tersebut membuat ikan di KJA mengalami stres hingga mati secara serentak dalam waktu singkat.
“Peristiwa ini bukan hal baru di Maninjau, namun intensitas dan skalanya kali ini sangat besar. Faktor cuaca ekstrem mempercepat proses upwelling, sehingga ikan tidak memiliki waktu untuk beradaptasi,” jelasnya.
Dampak terparah tercatat di Kecamatan Tanjungraya, wilayah dengan konsentrasi KJA tertinggi di Danau Maninjau.
Baca Juga: Polda Sumbar Serahkan Tiga Jenazah Korban Bencana, Enam Korban Teridentifikasi Lewat Tes DNA
Selain kematian massal ikan, longsor dan banjir turut merusak lahan pembenihan ikan seluas 31,16 hektare, menghanyutkan lebih dari 25 juta benih ikan, sekitar 15 ribu induk, serta 37,86 ton pakan.
“Kerugian pembudidaya di Tanjungraya sangat besar. Banyak yang kehilangan seluruh siklus produksi. Ini bukan hanya soal ikan mati, tetapi juga hilangnya modal, pakan, dan sarana produksi,” katanya.
Secara keseluruhan, DKPP Agam mencatat kerugian sektor perikanan di enam kecamatan terdampak mencapai Rp12,34 miliar. Kerugian tersebut mencakup budidaya perairan, kolam air deras, kolam air tenang, hingga perikanan tangkap di wilayah pesisir.
Baca Juga: Harga Cabai Merah di Pessel Tembus Rp 90 Ribu per Kg
Di Kecamatan Palembayan, banjir bandang merusak kolam air tenang seluas 0,24 hektare, menghancurkan 28 unit kolam air deras, serta menghanyutkan 4,72 ton ikan dan 1,65 ton pakan.
Sementara di Lubukbasung, banjir menyeret 25 ton ikan, merusak 13 unit kolam air deras, merendam pakan, dan menghanyutkan 30 ribu benih ikan.
Wilayah pesisir Kecamatan Tanjungmutiara juga terdampak. Nelayan kehilangan tiga unit perahu, empat mesin tempel, sekitar 70 unit alat tangkap, satu rumah pengolahan ikan, serta puluhan kilogram ikan dan benih.
Baca Juga: Harga Cabai Merah di Pessel Tembus Rp 90 Ribu per Kg
Di Kecamatan Tilatang Kamang, tercatat 1,04 ton ikan hanyut, 10 ribu benih ikan mas, dan 80 induk lele mati. Sementara Kecamatan Kamang Magek kehilangan sekitar 7,5 ton ikan budidaya.
Doni menegaskan sektor perikanan merupakan salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat Agam. Kematian ikan massal ini berdampak langsung terhadap pendapatan ribuan keluarga.
“Kami memahami kondisi psikologis dan ekonomi para pembudidaya dan nelayan saat ini. Banyak yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor perikanan. Karena itu, pendataan kami lakukan seteliti mungkin agar menjadi dasar penanganan dan bantuan ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: Petani Bawang Merah Tertekan Biaya Bibit Mahal dan Risiko Musim Hujan
Ia menambahkan, DKPP Agam terus berkoordinasi dengan pemerintah nagari, penyuluh perikanan, serta instansi terkait untuk mempercepat pendataan dan menyusun langkah pemulihan. Upaya jangka panjang juga dinilai penting guna menekan risiko kejadian serupa.
“Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan Danau Maninjau harus dilakukan secara berkelanjutan. Diperlukan sinergi semua pihak agar bencana ekologis tidak terus berulang dan merugikan masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Novitri Selvia