Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Produksi Budidaya Ikan Agam Lampaui Target 2025 di Tengah Bencana Hidrometeorologi

Putra Susanto • Selasa, 13 Januari 2026 | 11:05 WIB

 

MATI MASSAL: Pembudidaya ikan KJA Danau Maninjau kembali dihadapkan pada musibah kematian ikan secara massal dan memicu angka kerugian yang besar di sektor perikanan di Agam sejak November 2025.(ROSVA
MATI MASSAL: Pembudidaya ikan KJA Danau Maninjau kembali dihadapkan pada musibah kematian ikan secara massal dan memicu angka kerugian yang besar di sektor perikanan di Agam sejak November 2025.(ROSVA

 

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah hantaman bencana hidrometeorologi yang meluluhlantakkan sektor perikanan, Kabupaten Agam justru berhasil mencatatkan capaian produksi budidaya ikan yang melampaui target pada 2025.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam mencatat produksi budidaya mencapai 33.699,91 ton, melampaui target 33.684 ton atau setara 100,05 persen.

Namun, angka manis itu menyembunyikan pil pahit di lapangan. Pada akhir November 2025, bencana hidrometeorologi menerjang hampir seluruh wilayah Agam dan menghantam sektor perikanan tanpa ampun. Total kerugian sektor ini ditaksir mencapai Rp 82,84 miliar.

Kepala DKPP Agam, Rosva Deswira, menyebut pukulan terberat dialami petani keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau. Cuaca ekstrem memicu upwelling atau pembalikan massa air yang membuat air miskin oksigen dan mengandung gas beracun naik ke permukaan.

“Cuaca ekstrem memicu upwelling. Oksigen di perairan turun tajam dan ikan KJA mati massal,” kata Rosva, Senin (12/1).

Akibatnya, 1.428,73 ton ikan nila mati, dengan nilai kerugian ekonomi mencapai Rp 32,86 miliar.

Ratusan petani KJA di nagari sekitar Danau Maninjau seperti Sungaibatang, Tanjungsani, Duokoto, Maninjau, dan Kotogadang Anamkoto, terpukul telak. Modal hilang, panen lenyap, dan utang pakan menggunung.

Bencana tak berhenti di situ. Longsor menimbun 31,16 hektare lahan pembenihan, menyeret lebih dari 25 juta benih, 15 ribu induk ikan, serta 37,86 ton pakan. Puluhan titik kolam air tenang dan kolam air deras juga rusak.

Di pesisir Tanjungmutiara, nelayan kehilangan tiga perahu, empat mesin tempel, sekitar 70 alat tangkap serta satu unit rumah pengolahan ikan.

Ironisnya, secara statistik produksi budidaya 2025 justru naik dibanding 2024 yang tercatat 33.409,39 ton. Tahun lalu, kontribusi terbesar datang dari KJA Maninjau (12.451,70 ton), disusul kolam air deras (10.442,24 ton) dan kolam air tenang (8.816,12 ton).

Pada 2025, struktur produksi relatif masih ditopang sektor yang sama. Budidaya kolam air deras 10.720,41 ton, kolam air tenang 8.858,09 ton, dan KJA 12.949,49 ton, sementara sisanya berasal dari kolam terpal, keramba irigasi, minapadi, sariban, dan tambak.

Artinya, secara statistik Agam memang tampak berjaya. Tapi di bawah permukaan, ratusan petani ikan sedang berjibaku bangkit dari bencana yang menyapu bersih kolam, keramba, dan modal usaha mereka.

Produksi boleh tembus target. Namun tanpa pemulihan cepat dan perlindungan terhadap petani ikan, angka-angka itu bisa runtuh pada siklus berikutnya. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#DKPP Agam #Hidrometeorologi #Upwelling #Rosva Deswira #danau maninjau