Warga kesulitan mendapatkan Pertalite, Pertamax, hingga Solar dan terpaksa membeli BBM eceran dengan harga lebih tinggi.
Kondisi ini dipicu penghentian operasional SPBU di Jalan Diponegoro, Kubang, Jorong Surabayo, yang selama ini menjadi salah satu titik distribusi utama BBM di wilayah tersebut.
Pengawas SPBU PT Gunung Sago Prima, Meggi Parli, menjelaskan bahwa penghentian operasional terjadi karena kontrak kerja sama pengelolaan telah berakhir setelah berjalan selama 20 tahun.
Menurutnya, perjanjian kerja sama pengusahaan SPBU DODO Reguler 14264574 milik PT Gunung Sago Prima berakhir pada 23 Maret 2026.
Hingga kini, pembaruan kontrak belum dapat dilakukan karena sejumlah dokumen administrasi masih dalam proses.
“Masih ada beberapa dokumen yang belum selesai, seperti Sertifikat Layak Fungsi, dokumen UKL-UPL, serta pengesahan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Agam,” kata Meggi.
Ia menambahkan, proses administrasi juga mencakup pengalihan hak ahli waris dari pemilik sebelumnya kepada pihak keluarga, sehingga membutuhkan waktu.
“Paling cepat sekitar tiga bulan. Tapi kalau semua dokumen lengkap, Pertamina bisa mempercepat prosesnya,” ujarnya.
Pasokan Terputus, Harga Melonjak
Dalam surat resmi yang beredar, penghentian penebusan BBM diberlakukan sejak 22 Maret 2026 hingga kontrak baru ditandatangani. Kebijakan ini memutus salah satu jalur pasokan utama BBM di Lubuk Basung.
Akibatnya, warga harus mencari BBM ke lokasi lain atau membeli dari pengecer dengan harga lebih mahal. Di tingkat eceran, harga Pertalite dilaporkan naik dari sekitar Rp13 ribu menjadi Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per liter.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Kesiapan Layanan Energi Jelang Arus Balik Lebaran
Sementara itu, harga Pertamax juga mengalami kenaikan dari Rp16 ribu menjadi sekitar Rp20 ribu per liter.
Warga Keluhkan Dampak Aktivitas
Salah seorang warga, Fitri Suci Rahma, mengaku kelangkaan BBM mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama untuk kebutuhan bekerja.
“Cari BBM susah, harganya pun makin tinggi. Jadi susah untuk pergi kerja,” ujarnya.
Ia mengatakan terpaksa membeli BBM eceran karena harus menempuh jarak cukup jauh ke SPBU lain, dengan antrean panjang yang memakan waktu berjam-jam.
“BBM di SPBU langka, sementara harus pergi menempuh waktu lumayan jauh untuk ke SPBU yang lainnya, antrean panjang menunggu berjam-jam, terpaksa beli eceran meski harganya cukup mahal,” katanya.(*)
Editor : Hendra Efison