PADEK.JAWAPOS.COM— Pembangunan Sabo Dam Batang Jabua di Jorong Labuang, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, terus berjalan. Infrastruktur pengendali lahar dan sedimen vulkanik Gunung Marapi itu dirancang untuk mengurangi risiko banjir lahar dingin yang mengancam permukiman, fasilitas pendidikan, dan lahan pertanian warga.
Perwakilan pelaksana proyek dari PT Subur-Berkah KSO, Idral, mengatakan progres fisik pembangunan Sabo Dam Batang Jabua telah mencapai 40 persen berdasarkan kondisi yang disampaikan saat wawancara pada Kamis (22/10/2026).
“Progres pembangunan Sabo Dam Jabua di Jorong Labuang, Nagari Canduang ini sudah 40 persen mengikuti pembangunan tiga sabo dam lainnya di kaki Gunung Marapi wilayah Tanah Datar secara kumulatif,” kata Idral.
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan pengendali lahar dan sedimen kawasan Gunung Marapi yang dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang di bawah Kementerian Pekerjaan Umum.
Idral menjelaskan, pada tahap pekerjaan tahun ini terdapat empat titik pembangunan Sabo Dam, yakni di Batang Jabua, Kabupaten Agam, serta tiga titik lainnya di kawasan kaki Gunung Marapi wilayah Kabupaten Tanah Datar.
Menurut dia, setelah rampung, Sabo Dam Batang Jabua diproyeksikan mampu menampung sekitar 18.000 meter kubik material sedimen, pasir, batu, dan lahar dingin yang terbawa aliran sungai.
Bendungan Utama Masih Dikerjakan
Di lokasi proyek, pengerjaan difokuskan pada pembangunan bendungan utama atau main dam. Struktur tersebut dirancang dengan tinggi total 11 meter dari dasar fondasi dan lebar puncak empat meter.
Bangunan ini menggunakan sistem berundak tiga tingkat, terdiri dari satu bendungan utama di bagian hulu serta dua bendungan pembantu atau sub dam di bagian hilir. Sistem tersebut menjadi bagian dari rancangan bangunan pengendali sedimen di alur Sungai Batang Jabua.
“Sub dam sudah selesai, main dam yang masih proses, juga sayap pengunci kiri kanan yang belum,” ujar Idral.
Berdasarkan kondisi pekerjaan yang disampaikan dalam bahan peliputan, struktur sub dam dan lantai olakan atau apron telah selesai. Sementara itu, dinding utama masih dikerjakan secara bertahap, disertai pekerjaan fondasi dan pembesian pada dinding sayap di kedua sisi sungai.
Dinding sayap berfungsi mengunci sisi bangunan dengan tebing sungai. Bagian tersebut penting dalam konstruksi untuk membantu mencegah aliran menerobos sisi bangunan.
Di lapangan, pekerjaan melibatkan sekitar 20 tukang dan pekerja konstruksi. Dua unit ekskavator disiagakan untuk membantu pengerukan dasar sungai, memindahkan batu berukuran besar, serta menata material di sekitar lokasi pembangunan.
Kontrak pembangunan paket tahap pertama ditandatangani pada 23 Desember 2025, dengan masa pelaksanaan 739 hari kerja dan target penyelesaian pada akhir 2027. Nilai kontrak keseluruhan paket mencapai sekitar Rp249,8 miliar yang bersumber dari APBN. Nilai tersebut mencakup paket pekerjaan, bukan hanya pembangunan Sabo Dam Batang Jabua.
TKD Tambahan Dukung Pemulihan Daerah
Pembangunan Sabo Dam Batang Jabua dibiayai melalui APBN pada paket pekerjaan Kementerian Pekerjaan Umum. Karena itu, proyek ini tidak menggunakan tambahan Transfer ke Daerah (TKD) sebagai sumber pendanaan langsung. Meski demikian, dukungan tambahan TKD sebesar Rp10,6 triliun yang disalurkan pemerintah pada 2026 menjadi bagian dari penguatan kapasitas fiskal daerah untuk mendukung kebutuhan pemulihan sesuai kewenangan pemerintah daerah. Dukungan tersebut melengkapi program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikerjakan kementerian/lembaga melalui APBN, bukan menggantikan atau membiayai paket Sabo Dam ini.
Melindungi Permukiman dan Lahan Pertanian
Pembangunan Sabo Dam Batang Jabua penting bagi kawasan Canduang Koto Laweh yang memiliki riwayat bencana banjir bandang dan lahar dingin.
Berdasarkan catatan sejarah dalam bahan peliputan, luapan Sungai Batang Jabua pada masa lalu pernah menyapu kawasan permukiman. Pada awal 2000-an, banjir juga menghancurkan dua jembatan penyeberangan warga. Sementara itu, banjir lahar dingin setelah erupsi Gunung Marapi pada Mei 2024 merusak lahan pertanian dan menutup akses jalan di Jorong Labuang.
Kawasan ini memiliki sekitar 836 hektare lahan sawah produktif, permukiman penduduk, serta sejumlah lembaga pendidikan agama, termasuk pondok pesantren. Karena itu, risiko bencana di sepanjang aliran sungai tidak hanya berkaitan dengan keselamatan warga, tetapi juga keberlangsungan pendidikan dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Keberadaan Sabo Dam diharapkan membantu mengendalikan sedimen dan material vulkanik yang terbawa aliran sungai. Namun, efektivitas perlindungan tetap bergantung pada kondisi aliran, volume material, pemeliharaan bangunan, dan pengelolaan risiko bencana secara menyeluruh.
Terintegrasi dengan Jaringan Irigasi
Selain fungsi pengendalian sedimen, Sabo Dam Batang Jabua dirancang terintegrasi dengan jaringan irigasi Batu Nanang Panjang yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Agam.
Idral menjelaskan, bangunan tersebut akan dilengkapi pintu penyadap air atau intake untuk mengalirkan air sungai ke jaringan irigasi persawahan di bagian hilir. Pada bagian atas bangunan juga direncanakan pembangunan oprit atau akses jembatan untuk mendukung mobilitas warga.
“Jadi Sabo Dam ini multifungsi,” katanya.
Integrasi fungsi pengendalian sedimen dan dukungan terhadap irigasi membuat pembangunan infrastruktur ini berkaitan langsung dengan upaya menjaga keberlanjutan pertanian. Meski demikian, manfaat irigasi tersebut baru dapat dinilai setelah fasilitas terbangun dan berfungsi sesuai perencanaan.
Bagian dari Percepatan Pemulihan Pascabencana
Pembangunan Sabo Dam Batang Jabua sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028. Dalam sektor sumber daya air, kebijakan tersebut menekankan pemulihan fungsi sungai, pengendalian risiko banjir, penanganan sedimentasi, dan penguatan mitigasi bencana secara terpadu.
Pendekatan tersebut penting karena pemulihan pascabencana tidak cukup hanya memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Infrastruktur juga perlu dirancang untuk mengurangi risiko kerusakan berulang dan mendukung keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, dalam Rapat Pemulihan Pascabencana Sumatera di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (21/10/2026), mengingatkan agar program pemulihan yang telah direncanakan tetap dilaksanakan meskipun terdapat penyesuaian anggaran.
“Kegiatannya enggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat,” kata Tito, merujuk pada rencana penggeseran anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi yang tidak terserap pada 2026 ke tahun berikutnya.
Satgas PRR Kawal Percepatan Pemulihan
Dalam pelaksanaan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera, Satgas PRR menjalankan fungsi koordinasi, pemantauan, pengawasan, dan evaluasi terhadap program kementerian/lembaga serta pemerintah daerah. Pengawasan dilakukan untuk memastikan kegiatan yang telah direncanakan berjalan, kemajuannya terpantau, dan kendala pelaksanaan dapat ditindaklanjuti oleh instansi yang bertanggung jawab. Pembangunan fisik Sabo Dam Batang Jabua sendiri dilaksanakan BWS Sumatera V Padang di bawah Kementerian Pekerjaan Umum.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan program pemulihan. Dalam konteks kawasan Gunung Marapi, pembangunan infrastruktur pengendali lahar seperti Sabo Dam Batang Jabua menjadi salah satu upaya untuk memperkuat mitigasi risiko bencana, sekaligus mendukung perlindungan permukiman dan kegiatan produktif masyarakat.
Dengan progres fisik yang dilaporkan mencapai 40 persen, pekerjaan selanjutnya perlu terus dipantau hingga seluruh struktur dan fasilitas pendukung selesai. Keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh penyelesaian konstruksi, tetapi juga oleh fungsi bangunan dalam pengendalian sedimen serta keterpaduannya dengan pengelolaan sungai, irigasi, dan kesiapsiagaan masyarakat. (Tim Media Satgas PRR)
Editor : Tandri Eka Putra