PADEK.JAWAPOS.COM - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus membangun budaya pencegahan infeksi di lingkungan pelayanan kesehatan.
Beberapa waktu lalu, rumah sakit yang merupakan UPT Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan pengunjung di Poliklinik Paru Non Infeksi Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.
Kegiatan edukasi itu menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya dalam mencegah penularan penyakit infeksi melalui penerapan etika batuk dan bersin yang benar.
Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai narasumber Ns. Sepriati, S.Kep yang menyampaikan materi bertajuk “Etika Batuk dan Bersin yang Benar”.
Di hadapan pasien dan keluarga pasien yang sedang menunggu pelayanan kesehatan, ia menjelaskan bahwa etika batuk merupakan tata cara batuk dan bersin yang benar untuk mencegah penyebaran kuman kepada orang lain.
“Etika batuk adalah perilaku sederhana namun memiliki dampak besar dalam memutus rantai penularan penyakit. Saat seseorang batuk atau bersin, tubuh akan mengeluarkan droplet yang dapat mengandung virus maupun bakteri, dan droplet tersebut bisa menyebar hingga radius 1 sampai 2 meter,” jelas Ns. Sepriati.
Ia menambahkan, penerapan etika batuk dan bersin sangat penting dalam pencegahan berbagai penyakit infeksi saluran pernapasan, seperti influenza, COVID-19, Tuberkulosis, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menurutnya, langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan perlindungan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar.
“Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan perlindungan tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ns. Sepriati menjelaskan bahwa cara batuk dan bersin yang benar dapat dilakukan dengan menggunakan tisu sekali pakai untuk menutup mulut dan hidung, kemudian segera membuang tisu ke tempat sampah setelah digunakan.
Jika tisu tidak tersedia, masyarakat dianjurkan menutup batuk atau bersin menggunakan lengan bagian dalam atau siku, bukan menggunakan telapak tangan. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan tangan setelah batuk atau bersin guna mencegah penyebaran kuman melalui sentuhan.
“Jangan lupa, setelah batuk atau bersin segera lakukan kebersihan tangan. Bisa menggunakan hand sanitizer selama 20 hingga 30 detik, atau mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 40 sampai 60 detik agar tangan benar-benar bersih dari kuman,” katanya.
Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diingatkan mengenai sejumlah kebiasaan yang sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
Beberapa di antaranya yakni batuk tanpa menutup mulut, menutup batuk menggunakan tangan kosong lalu langsung menyentuh benda di sekitar, tidak mencuci tangan setelah batuk atau bersin, serta membuang tisu bekas secara sembarangan.
“Kebiasaan-kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama di area publik maupun fasilitas pelayanan kesehatan,” ungkap Ns. Sepriati. Selain penerapan etika batuk dan kebersihan tangan, penggunaan masker juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penularan penyakit infeksi.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker saat sedang mengalami flu, batuk, atau pilek, ketika berada di tempat umum dan area ramai, saat merawat orang sakit, maupun ketika berada di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Masker dianjurkan digunakan saat seseorang sedang mengalami flu, batuk, atau pilek, ketika berada di tempat umum atau area ramai, saat merawat orang yang sedang sakit, serta ketika berada di fasilitas pelayanan kesehatan,” imbaunya.
Melalui kegiatan edukasi tersebut, RSUP Dr. M. Djamil berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya etika batuk, bersin, serta kebersihan tangan dapat terus meningkat sehingga budaya pencegahan infeksi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, masyarakat memahami bahwa menjaga etika saat batuk dan bersin bukan hanya bentuk menjaga diri sendiri, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan secara benar dan konsisten, kita bersama-sama dapat mencegah penyebaran penyakit dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” tutup Ns. Sepriati. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril