“Hari ini kami sedang menyiapkan sebuah pesawat Norwegia yang dapat membawa warga kami pulang. Kami telah merancang solusi ini bersama dengan maskapai penerbangan Norwegia selama beberapa hari terakhir,” ujar Menteri Luar Negeri Norwegia Anniken Huitfeldt kemarin (11/10) seperti dikutip CNN.
Pesawat tersebut dijadwalkan meninggalkan Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv tadi malam. Langkah serupa dilakukan Swedia. Mereka bekerja sama dengan negara-negara Nordik lainnya untuk mengangkut penduduknya keluar dari Israel.
Prancis juga berencana mengevakuasi warganya dari Israel mulai hari ini (12/10) menggunakan Air France. Yang menjadi prioritas adalah anak di bawah umur tanpa pendamping, wanita hamil, dan penyandang disabilitas maupun memiliki kondisi medis tertentu.
Jerman memilih melakukan evakuasi via Jordania. Mereka akan dibawa dengan bus ke Amman dan baru diterbangkan ke Jerman. Ada 100 ribu warga Jerman di Israel dan 5 ribu di antaranya minta dievakuasi. Sejauh ini yang sudah dievakuasi adalah para murid Jerman di Israel dari 17 kelas.
Amerika Serikat (AS) di pihak lain tengah bernegosiasi dengan Israel dan Mesir untuk membuat jalur aman guna mengeluarkan warga AS dan warga sipil lainnya dari Gaza. Penduduk AS di Gaza merasa putus asa karena pengeboman bertubi-tubi yang dilakukan Israel.
Rencananya, Menlu AS Antony Blinken dan Menlu Inggris James Cleverly bakal bertandang ke Israel hari ini. Menurut seorang pejabat AS, Mesir ingin menggunakan koridor kemanusiaan untuk mengirim makanan dan pasokan medis ke Gaza, tapi tidak ingin membuka perbatasan untuk menerima warga sipil yang melarikan diri.
Jika kesepakatan gencatan senjata sementara tercapai, Mesir akan mengirimkan bantuan lewat perlintasan Rafah dan Semenanjung Sinai. Situasi diperkirakan bakal lebih memburuk dalam beberapa hari ke depan. Blokade total Israel mengakibatkan tidak ada aliran listrik, gas, dan air bersih ke Gaza.
Listrik produksi lokal yang menyuplai 20 persen penduduk sudah mati sejak kemarin karena kehabisan bahan bakar. Sebagian penduduk memiliki genarator, tapi bakal segera mati karena tidak adanya suplai bahan bakar. Situasi bakal kian mengenaskan jika generator di rumah sakit yang berada di Gaza mati.
Padahal, saat ini ribuan pasien terus berdatangan tanpa henti akibat bombardir Israel. Hingga kemarin 1.055 warga Palestina dipastikan tewas dan 5.184 lainnya luka-luka. PBB menyatakan, lebih dari 180 ribu warga Gaza telah kehilangan rumahnya akibat serangan Israel.
Di pihak Israel, 1.200 orang tewas dan 2.800 orang lainnya luka-luka. Israel saat ini bersiap untuk melakukan serangan darat guna memastikan kekuatan militer Hamas lumpuh sepenuhnya. Sekitar 300 ribu pasukan pertahanan Israel (IDF) sudah berada di wilayah perbatasan Gaza.
Sementara itu, pesawat pertama yang membawa bantuan militer AS telah tiba di Israel. Negara yang dipimpin Presiden Joe Biden itu mengirim amunisi dan bantuan keamanan lainnya. Salah satunya adalah misil untuk mengisi Iron Dome milik Israel.
PM Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa saat ini Israel sedang membentuk pemerintahan darurat dan kabinet manajemen perang. Pemerintah tidak akan mengesahkan undang-undang atau membuat keputusan apa pun yang tidak menyangkut jalannya perang.
Israel Serang Lebanon Selatan
Di sisi lain, Israel juga meluncurkan tembakan yang menghantam kota-kota di Lebanon selatan pada Rabu (11/10) sebagai respons atas serangan roket yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Hizbullah, ketika kekerasan lintas batas berlanjut di hari keempat. Pihak Hizbullah mengatakan, pihaknya telah menembakkan rudal presisi ke arah Israel akibat terbunuhnya anggota mereka dalam penembakan Israel awal pekan ini.
Hizbullah juga berjanji akan memberikan tanggapan lebih lanjut terhadap serangan di wilayah Lebanon yang dilakukan oleh Israel. Menanggapi hal tersebut, militer Israel mengatakan telah menyerang posisi Hizbullah dengan serangan udara dan juga menyerang Lebanon.
Dilansir dari Reuters, Rabu (11/10) serangan oleh Israel ini dilakukan setelah sebuah pos militer yang berada di dekat kota Arab al-Aramshe di Israel menjadi sasaran tembakan pada hari Rabu (11/10). Sebuah sumber dari keamanan Lebanon mengatakan Hizbullah telah menembak dua rudal presisi milik Israel yang dianggap sebagai kelompok musuh bebuyutannya.
Penduduk kota Rmeish di Lebanon mengatakan penembakan yang dilakukan Israel terjadi di dekat mereka. Sumber keamanan mengatakan bahwa peluru artileri Israel telah mengenai titik peluncuran roket yang berada di sekitar Dhayra, seberang Arab al-Aramshe.
Warga Lebanon mengatakan kekerasan yang terjadi baru-baru ini mengingatkan mereka pada kenangan musim panas tahun 2006 ketika Hizbulla yang didukung Iran dan Israel terlibat pada perang brutal selama satu bulan.
Sebuah stasiun televisi lokal Lebanon menampilkan gumpalan asap putih mengepul dari dekat kawasan hitan yang dekat dengan beberapa rumah dan lahan pertanian di Dhayra. Hizbulla dan faksi Palestina Hamas mengklaim bahwa serangan dari Lebanon tersebut mereka yang bertanggung jawab.
Hizbulla mengunggah sebuah video yang memperlihatkan penembakan peluru kendali ke arah tank Israel dan Hamas mengatakan pihaknya telah meluncurkan salvo roket dari Al-Koleilah ke Israel. Militer Lebanon mengatakan pada hari Rabu (11/10) bahwa mereka telah menemukan platform peluncuran roket di Al-Koleilah. (sha/c9/fal/jpg) Editor : Novitri Selvia