Pelaku usaha di era digital ini diharapkan dapat segera menyesuaikan aktivitas bisnisnya dengan perkembangan teknologi digital.
Harus diyakini bahwa teknologi digital telah membawa perubahan dan dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk menciptakan berbagai keunikan, mulai dari model bisnis hingga pengalaman pelanggan (customer experience).
Pelaku UMKM harus siap beradaptasi mengikuti tren bisnis di era digital. Meskipun produksi tradisional yang dikelola dengan manajemen pemasaran modern.
Strategi pemasaran dan kinierja keuangan merupakan kunci sukses pebisnis menjalankan dan mengukur keberhasilan bisnis.
Penggunaan aplikasi-aplikasi keuangan dengan dukungan teknologi digital telah mempermudah pelaku usaha memperoleh informasi keuangan untuk mengukur kinerja bisnis.
Produksi dan usaha rinuak dendeng menjadi perhatian Tim Pogram Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bung Hatta (UBH) melalui program insentif pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) berbasis Indikator Kinerja Utama (IKU) yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).
Tim terdiri Dr Dwi Fitri Puspa. S.E, M.Si, Ak, CA sebagai Ketua PKM Prodi Akuntansi bersama anggota tim Herawati, S,E, M,Si, Ak, CA dan Neva Novianti S.E. M.Acc beserta Nailal Husna, S.E, M.S. dari Prodi Manajemen.
Perhatian tertuju pada pelaku UMKM di Negeri Lubukbasung Kabupaten Agam selingkar Danau Maninjau.
"Melalui tema penggunaan digital marketing dan aplikasi keuangan praktis, pelaku bisnis dendeng rinuak diberikan pengetahuan, pelatihan dan keterampilan dari nara sumber dari praktisi dan akademisi yang disajikan dalam bentuk konsep digital marketing dan laporan keuangan sederhana bagi pelaku ekonomi mikro kecil dan menengah," kata Dwi.
Tema dan pelatihan ini telah menarik perhatian UMKM, antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat yang tinggi.
Antusias peserta termotivasi dengan produk-produk dendeng rinuak milik pelaku UMKM melalui PKM ini dapat dipromosikan ke berbagai media sosial berbayar, di antaranya Review Selegram, Promosi Info Sumbar, Instagram Sponsor, Facebook Ads, Videoa Review Selebgram, Minanglipp, Instagram Info PKU, dan Google Ads.
"Diharapkan pelaku UMKM di Lubukbasung ke depan-nya sudah sangat familiar menggunakan media sosial untuk memperkenalkan, mempromosikan produk seheingga lebih dikenal oleh penggemar kuliner tidak hanya di Sumatera Barat, tapi juga wisatawan daerah lainnya. Menggunakan pemasaran berbasis digital dipastikan jangkauannyanya lebih luas tanpa batas, dan diharapkan permintaan pelanggan diluar Lubukbasung sebagai sentral produksi dendeng rinuak semakin meningkat," jelasnya.
Perlu diketahui, Rinuak adalah spesies ikan terkecil di dunia yang hanya ada di Danau Maninjau Sumatera Barat. Masyarakat sekitar danau turun-temurun mengelola dan memproduksi rinuak menjadi makanan khas yang digemari tidak hanya di Sumatera Barat tapi juga dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan, terutama perantau Minang.
Pada awalnya rinuak tidak dikemas sebagai makanan siap saji atau hanya dijual dalam bahan mentah kering atau basah. Seiring kemajuan zaman, saat ini rinuak sudah diproduksi dalam bentuk dendeng rinuak.
Dendeng awalnya hanya dikenal terbuat dari daging sapi, dan hadirnya produksi dendeng rinuak telah memperkaya kekhasan masyarakat Urang Minang yang aroma dan rasanya sangat gurih dan dikemas sebagai makanan yang relatif tahan lama.
Inilah salah satu yang menarik perhatian oleh tim dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat. Pada kegiatan PKM ini, tim secara khusus mendesain program aplikasi keuangan praktis yang sangat mudah digunakan dan diperuntukan bagi pelaku UMKM dendeng rinuak yang tergabung dalam forum UMKM Lubuk Basung.
Selanjutnya program dan aplikasi ini diberi nama Buku Kadai. Aplikasi buku kadai ini dapat menghasilkan Buku Kas dan Laporan Laba Rugi yang sangat dibutuhkan pelaku bisnis UMKM.(rel)
Editor : Admin Padek