PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas bergerak menguat pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (17/2). Namun, secara keseluruhan, emas masih berada di jalur pelemahan mingguan kedua karena data inflasi yang tinggi mendinginkan prospek penurunan suku bunga The Fed lebih awal.
Harga emas di pasar spot naik 0,4% menjadi $2.012,86 per ons. Akan tetapi, sejauh ini telah kehilangan 0,6% pada minggu ini. Sementara harga emas di pasar berjangka AS ditutup 0,5% lebih tinggi menjadi $2.024,1.
Kenaikan dolar AS dan benchmark imbal hasil US Treasury 10-tahun membuat emas kurang menarik. Data inflasi AS yang tinggi menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga pada bulan Maret, sehingga emas mungkin akan kesulitan untuk naik jauh di atas level $2.000.
Pertumbuhan ekonomi AS yang kuat dan inflasi yang tinggi merupakan hambatan bagi emas. Para pedagang memperkirakan harga emas akan terus turun ke level $1.960an.
Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi meredupkan daya tarik emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
"Karena The Fed kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga pada bulan Maret, emas mungkin akan kesulitan untuk naik jauh di atas level $2.000," kata Everett Millman, kepala analis pasar di Gainesville Coins seperti dilansir Reuters.
Pertumbuhan ekonomi di AS cukup kuat, menunjukkan inflasi yang lebih tinggi, yang merupakan hambatan bagi emas. "Saya memperkirakan harga emas akan terus turun ke level $1.960an," tambah Everett.
Pasar saat ini memperkirakan peluang pemotongan suku bunga sebesar 73% pada bulan Juni. Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan pada hari Kamis bahwa diperlukan lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan prospek penurunan suku bunga.
Di sisi lain, premi emas di India naik ke level tertinggi dalam lebih dari empat bulan pada minggu ini seiring dengan meningkatnya permintaan untuk musim pernikahan.(rtr)