PADEK.JAWAPOS.COM-Ramadhan sudah di depan mata, beragam persiapan mulai dilakukan pelaku UMKM. Seperti halnya usaha kue Nona Cake yang mulai menerima pesanan kue kering dari konsumennya. Beragam varian disiapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen pada saat Lebaran.
Siapa yang tak suka cake dan kue kering? Cemilan yang terbuat dari telur, tepung dan butter cocok dihidangkan dalam setiap kesempatan. Di Kota Pariaman, cake produksi Nona Cake jadi incaran. Selalu ada alasan untuk kembali ke Nona Cake.
Untuk Kota Pariaman sekitarnya, Usaha Kue Nona Cake sudah tak asing lagi. Usaha yang dirintis pasangan suami istri, Nanda Saputra dan Nova ini sudah mulai produksi sejak tahun 2013.
Terbuat dari bahan-bahan berkualitas dan halal, ada beragam cake yang di produksi di Nona Cake. Mulai dari cake Jerman atau biasa disebut marmer cake, cake tiga rasa, cake pandan, cake cokelat, brownies, lapis surabaya hingga bolu gulung aneka rasa serta kue soes durian.
Untuk cake ultah, Nona Cake juga menyediakan beragam cake berkualitas, cake red velvet, cake cream cheese hingga cake greentea dan tiramisu. Konsep hiasan cake ultah yang simpel dan kekinian membuat cake ultah disini selalu habis setiap hari.
Ada juga panganan khas tradisional seperti putri mandi, talam durian, kue cantik manis dan puding aneka rasa. Untuk yang kurang suka manis, toko ini menyediakan camilan gurih seperti pizza, risoles serta tahu boga.
Untuk harga sangat terjangkau mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 300 ribu. Harga di atas Rp 100 ribu biasanya adalah cake ultah dengan berbagai ukuran dan request konsumen.
Kue-kue ini diproduksi langsung di dapur yang menyatu dengan toko dan langsung dijual dalam keadaan hangat, fresh from oven. Ia dibantu sejumlah karyawan yang melakukan produksi setiap harinya.
Dalam produksi, Nanda menyebut selain bahan berkualitas, kebersihan dan kehigienisan merupakan prioritas utama yang sudah diterapkan sejak awal produksi. Begitu juga untuk penyimpanan produk yang telah diproduksi selalu dalam keadaan bersih dan higienis.
Karyawan wajib mengenakan sarung tangan plastik saat mengambilkan pesanan cake dan aneka makanan yang dipajang di etalase.
“Saat Ramadhan, kami juga menghadirkan jajanan khas pabukoan. Kami juga produksi kue kering yang Alhamdulillah selalu menjadi favorit bagi konsumen,” ujarnya.
Untuk kue kering beragam varian yang bisa menjadi pilihan konsumen, mulai dari nastar, putri salju, sagun bakar, cornflakes hingga kue kering kekinian lainnya.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung jenis kuker mulai dari Rp 50 ribu per toples hingga Rp 85 ribu per toples. Satu toples setara kurang lebih 350 gram.
Tahun lalu ia berhasil menjual mencapai 500 toples, tentunya ia berharap menjual lebih banyak pada Lebaran tahun ini. Hingga saat ini respon konsumen masih positif, 20 kotak kue kering yang ia taruh etalase sudah habis terjual, padahal belum memasuki Ramadhan.
Selain kue kering, jelang Lebaran, konsumen biasanya juga banyak memesan cake yang biasa di makan saat Lebaran atau menjadi buah tangan saat berkunjung ke keluarga.
Jenis cake yang ditawarkan mulai dari cake marmer, cake pandan, cokelat, vanila dan lapis surabaya. Harganya juga bervariasi mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 200 ribu per loyang. Pesanan biasanya sudah mulai datang mulai dari H-3 hingga H + 5 Lebaran, terjual hingga 1.500 kotak.
Pesanan kue-kue tersebut tidak hanya dari warga Pariaman namun juga banyak dari perantau, baik dalam maupun luar negeri yang menghubunginya lewat media sosial untuk mengantarkan cake, kue kering untuk sanak keluarga mereka di Pariaman.
Agar semakin eksklusif, Nanda mencetak khusus kemasan cake produksinya. Ia mengadopsi kearifan lokal dalam desain kemasan, warna marawa, merah, kuning dan hitam merupakan komposisi utama di kotak kue.
“Desain kotak tersebut sudah jadi identitas Nona Cake, kapan dan dimana saja konsumen lihat kotak ini pasti ingat Nona Cake,” ujarnya tersenyum.
Ia menyebut meski saat ini kondisi perekonomian sedang tidak baik-baik saja namun harus tetap optimis. Ia juga berharap pemerintah berhati-hati dalam penerapan efisiensi anggaran. Jangan sampai yang awal mulanya berniat hemat namun malah berdampak terhadap usaha rakyat seperti UMKM. (ZIKRINIATI ZN—
Pariaman)