PADEK.JAWAPOS.COM-Semangat pantang menyerah Jubir Pamurah, 46 patut diacungi jempol. Warga Kampung Medan Baik, Nagari Kambang, Pesisir Selatan (Pessel) ini sukses beralih profesi dari pengusaha furnitur menjadi petani tambak udang vaname.
Sebelumnya, Jubir Pamurah adalah pengusaha furnitur yang juga cukup dikenal di daerah itu. Namun, ketika melihat geliat pasar dan peluang besar di sektor perikanan sangat menjanjikan, tanpa ragu dia beralih haluan sebagai petani tambak udang vaname.
Baginya, udang vaname menawarkan masa depan yang cerah, bukan hanya dari sisi keuntungan, tapi juga kemudahan dalam pengelolaan.
“Udang vaname lebih mudah dibudidayakan, masa panen singkat, harganya juga tidak terlalu tinggi, cepat terserap pasar dan permintaan pasar stabil,” ujarnya saat ditemui di lokasi tambak, Minggu (20/4).
Di lahan seluas 1 hektare di Pantai Kayangan Pasir Lakitan, Lengayang, ia membangun lima tambak udang sejak Februari 2023 dengan modal awal Rp 1,2 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun instalasi tambak, membeli peralatan, menyiapkan bibit, serta mencukupi kebutuhan pakan.
“Rata-rata dari lima tambak itu, saya bisa panen udang vaname sebanyak 600 kilogram. Harga 1 kilogram saat ini Rp 65 ribu, dengan keuntungan yang didapatkan setelah dikeluarkan modal dan biaya operasional bisa mencapai 40 hingga 50 persen,” jelas ayah Seano Al Wafi, 13, dan Zabina Al Wadi, 10, dari seorang istri bernama Gussyafri Yenti, 45 ini.
Dari usaha yang digelutinya itu, Jubir telah memiliki enam pekerja. Bila kondisi pasar tetap stabil dan terus membaik, maka tidak tertutup kemungkinan ia akan memperluas usaha sehingga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Menurutnya, hasil panen tambak udang dibeli langsung oleh para pedagang dari Pariaman dan sejumlah pedagang dari daerah lain. Para pembeli datang langsung ke lokasi panen, atau cukup melakukan pemesanan lewat sambungan telepon.
“Hingga saat ini belum ada pembeli lokal dari Pesisir Selatan, sehingga seluruh produksi langsung dikirim keluar daerah,” tuturnya.
Jubir menjelaskan udang vaname adalah jenis udang yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Udang ini memiliki ciri khas kaki putih dan tubuh ber buku-buku, serta dikenal dengan pertumbuhan cepat dan daya tahan terhadap penyakit yang baik.
“Karena keunggulan itu, sehingga udang jenis ini sangat cocok dikembangkan,” ungkapnya.
Dia juga menyadari keberhasilan usaha budidaya udang tidak lepas dari tantangan. Mulai dari fluktuasi harga pakan, potensi serangan penyakit, hingga perubahan iklim. Namun, ia meyakini, dengan edukasi yang tepat dan jaringan kemitraan yang solid, semua itu bisa dihadapi.
Ke depan, dia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun lembaga keuangan untuk mendukung pengembangan usaha serupa di wilayah pesisir. Tidak hanya soal pembiayaan, tetapi juga akses pelatihan dan pasar.
“Sebab bila ini dikelola serius, bukan mustahil Pesisir Selatan bisa menjadi sentra udang vaname di Sumbar,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Pessel, Firdaus mengatakan udang vaname memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena tidak saja populer di pasar Indonesia, tapi juga internasional.
“Udang ini juga tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan dan penyakit. Pertumbuhannya juga cepat, dengan masa pemeliharaan relatif singkat,” jelasnya.
Permintaan udang vaname saat ini terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Bahkan saat ini Indonesia merupakan salah satu eksportir utama udang vaname ke pasar internasional, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa.
“Dengan masa panen yang relatif singkat sekitar 100 hari sejak tebar benih, maka sangat menguntungkan secara ekonomi. Dari itu kita akan terus mendorong petani tambak untuk terus mengembangkan udang jenis vaname ini di Pesisir Selatan,” ujarnya. (YONI SYAFRIZAL—Pessel)
Editor : Novitri Selvia