Harga emas sempat berada di posisi $3.217,20, turun 0,3% dibandingkan sesi sebelumnya.
Penurunan ini terjadi setelah pasar merespons dua data ekonomi penting dari AS. Pertama, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) bulan April turun 0,5%, di bawah ekspektasi pasar.
Kedua, data penjualan ritel AS bulan April hanya tumbuh 0,1%, jauh melambat dibandingkan Maret yang tercatat 1,7%.
Analis pasar dari TradingNEWS menyebut data tersebut memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali mulai September 2025.
“Penurunan tekanan inflasi mengurangi prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut, sehingga menekan imbal hasil obligasi dan dolar, tetapi belum cukup mengangkat harga emas,” tulis TradingNEWS dalam laporannya, Jumat (16/5/2025).
Meskipun tekanan jual masih membayangi, ketegangan geopolitik global tetap menjadi penopang utama permintaan emas sebagai aset aman.
Konflik yang masih berlangsung di Ukraina serta aksi militer Israel di Gaza memicu kekhawatiran pasar.
“Risiko geopolitik tetap menjadi faktor pendukung utama emas. Selama konflik di Ukraina dan Gaza terus berlanjut, permintaan aset safe haven seperti emas akan tetap tinggi,” ujar analis komoditas dari TradingNEWS.
Namun, penguatan indeks dolar AS sebesar 0,4% dalam sepekan terakhir menjadi faktor kontra yang menahan lonjakan harga emas.
Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global non-AS, sehingga permintaan cenderung melemah.
Level Teknis Harga Emas
Secara teknikal, XAU/USD menghadapi resistensi kuat di kisaran $3.220 hingga $3.255.
Jika gagal menembus zona ini, harga emas berpotensi turun ke level support di $3.177-$3.178. Penembusan ke bawah bisa membawa harga mendekati area $3.120, bahkan $3.100.
Sebaliknya, jika emas mampu menembus dan bertahan di atas $3.220, reli jangka pendek bisa terjadi, dengan potensi menuju $3.266 dan $3.300.
Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 50, menandakan belum ada arah tren dominan antara tekanan jual dan beli.
Outlook Jangka Pendek
Dalam waktu dekat, prospek harga emas masih bias bearish selama tidak mampu menembus $3.220 secara meyakinkan.
Namun, jika data inflasi AS terus melandai dan The Fed tetap dovish, logam mulia ini dapat kembali diminati sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.
“Investor harus mencermati rilis data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa pekan ke depan karena itu akan sangat menentukan arah harga emas ke depan,” tambah TradingNEWS.(*)
Editor : Heri Sugiarto