Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 100.000 dibanding dua hari sebelumnya, yang berada pada kisaran Rp 4.400.000 per emas.
“Lagi naik sedikit dari kemarin, dari dua hari yang lalu. Sekarang udah sekitar Rp 4.450.000 sampai Rp 4.500.000 kalau sama rupa dan bentuk,” ujar Karim, Sales Marketing Toko Murni.
Karim menjelaskan, kenaikan harga ini disebabkan oleh berbagai faktor eksternal, terutama fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat serta kondisi pasar global yang belum stabil. “Iya, pengaruh dari luar, harga dolarnya juga lagi goyang kan. Jadi emas ikut naik,” ungkapnya.
Konflik geopolitik yang masih berlangsung antara China dan Amerika Serikat turut memperkuat sentimen pasar terhadap emas.
Ketegangan tersebut menciptakan ketidakpastian global, yang secara historis mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Menurut Karim, puncak kenaikan harga emas sempat mencapai Rp 4.600.000 per emas, dengan harga jadi (emas siap pakai) bahkan menyentuh Rp 4.900.000.
Menariknya, meskipun harga emas sedang berada di titik yang tinggi, hal tersebut tidak terlalu memengaruhi penjualan di pasaran. Toko Murni tetap mencatatkan volume transaksi yang stabil.
“Alhamdulillah, penjualan masih stabil walau harga naik. Pembeli tetap ada, mungkin karena emas masih dianggap investasi aman,” tambah Karim.
Ia menambahkan, minat masyarakat terhadap emas perhiasan tetap tinggi, meskipun ada pilihan lain seperti emas batangan atau logam mulia.
Menurutnya, salah satu alasan masyarakat tetap memilih emas perhiasan adalah karena kemudahan sistem transaksi jual belinya yang relatif praktis dan langsung, dibandingkan dengan logam mulia yang memiliki proses transaksi lebih ketat dan formal.
“Kalau perhiasan itu kan lebih gampang jualnya. Bisa langsung dibawa ke toko, dijual, dan dapat uang saat itu juga. Kalau logam mulia lebih cocok buat hadiah atau investasi jangka panjang, tapi prosesnya agak panjang,” jelas Karim.
Harga logam mulia saat ini juga mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Toko Murni, harga logam mulia berada pada kisaran Rp 2.150.000 per gram.
Karim menjelaskan bahwa meskipun logam mulia diminati terutama untuk kebutuhan hadiah dan simpanan jangka panjang, emas perhiasan tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena fungsionalitasnya yang bisa dipakai sekaligus dijual kembali saat dibutuhkan.
Kondisi ini mencerminkan bahwa emas, dalam berbagai bentuknya, masih menjadi instrumen investasi yang dipercaya masyarakat, terutama dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu. (cr1)
Editor : Adetio Purtama