Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kemarau Picu Kenaikan Harga Sayur di Tanahdatar

Rian Afdol • Jumat, 11 Juli 2025 | 13:30 WIB

TERDAMPAK: Suasana los sayur di Pasar Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Kamis (10/7). Cuaca panas menyebabkan pasokan sayur menurun dan harga melonjak.(RIAN AFDOL/PADEK)
TERDAMPAK: Suasana los sayur di Pasar Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Kamis (10/7). Cuaca panas menyebabkan pasokan sayur menurun dan harga melonjak.(RIAN AFDOL/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Tanahdatar merangkak naik akibat dampak musim kemarau yang melanda wilayah tersebut.

Penurunan pasokan dari petani menyebabkan lonjakan harga di tingkat pasar. Cuaca panas yang berkepanjangan mengganggu pertumbuhan tanaman, sehingga produksi sayuran tidak optimal.

Kenaikan harga di pasar cukup bervariasi. Beberapa komoditas bahkan mengalami lonjakan harga lebih dari 100 persen. Meski begitu, ada juga komoditas yang relatif stabil, bahkan mengalami penurunan harga.

“Karena cuaca panas, hasil panen dari petani terganggu. Akibatnya, pasokan ke pasar menurun dan harga naik. Salah satunya seledri dari Bukittinggi dan Agam, sekarang harganya Rp 50.000 per kilogram, padahal normalnya hanya sekitar Rp 20.000,” ujar Ita, 44, pedagang sayur di Pasar Batusangkar, Kamis (10/7).

Ita menambahkan, seledri dari Solok saat ini dijual seharga Rp40.000 per kilogram, naik dua kali lipat dari harga normalnya yang hanya sekitar Rp 20.000 per kilogram.

“Kenaikan juga terjadi pada tomat, kini Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 15.000. Wortel saat ini Rp 15.000 per kilogram, relatif stabil dari kondisi normal. Terong juga naik, dari Rp 8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram,” jelasnya.

Sawi, yang merupakan salah satu sayuran favorit pembeli, kini dijual seharga Rp10.000 per kilogram dari sebelumnya Rp7.000. Kenaikan tajam juga terjadi pada buncis, yang kini dibanderol Rp 20.000 per kilogram. Sebelumnya, harga buncis berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogram.

Sementara itu, beberapa komoditas masih menunjukkan stabilitas harga. Bawang merah tetap di angka Rp 35.000 per kilogram, bawang putih Rp 30.000 per kilogram, dan kentang bertahan di Rp15.000 per kilogram.

“Cabai hijau juga cukup stabil di harga Rp30.000 per kilogram. Cabai merah justru mengalami penurunan. Hari ini harganya Rp40.000, padahal tiga hari lalu sempat menyentuh Rp 50.000 per kilogram,” lanjut Ita.

Namun, ia mengakui bahwa meskipun harga beberapa komoditas stabil atau menurun, daya beli masyarakat tetap lesu. “Tak hanya sayur yang naik harganya, bahkan yang stabil pun kurang laku. Daya beli masyarakat memang turun,” ujarnya.

Di lokasi yang sama, salah satu pengunjung pasar, Dini Puspita, 39, mengaku kenaikan harga sayuran cukup memberatkan kondisi keuangannya.

“Kita paham cuaca jadi penyebab utama. Tapi sebagai pembeli, kita harus pintar-pintar mengatur keuangan. Jumlah pembelian sayur pun terpaksa dikurangi,” katanya.

Dini juga mengeluhkan tekanan ganda yang dirasakan masyarakat saat ini, terutama bagi orang tua yang sedang menghadapi kebutuhan tahun ajaran baru.

“Selain harga naik, sekarang juga lagi libur sekolah. Biaya untuk kebutuhan pendidikan anak juga harus dipikirkan. Jadi uang belanja rumah tangga harus dibagi lagi. Otomatis kita harus lebih bijak mengatur semuanya agar tetap cukup,” tutupnya. (rna)

Editor : Novitri Selvia
#kemarau #Sayuran Naik #komoditas sayuran