Hal ini dibuktikan oleh Rozak (35), penjual batako yang membuka usaha di Jalan Raya By Pass, Kasang, Batang Anai, Padang Pariaman.
Rozak memulai usahanya sejak 2019. Awalnya, ia berjualan di kawasan Jalan Bandara selama empat tahun sebelum pindah ke lokasi baru dua tahun terakhir.
Menurutnya, usaha batako menawarkan keuntungan yang lebih menjanjikan dibanding material lain.
“Kalau dihitung, batako bisa kasih keuntungan sampai 50 persen,” ujar Rozak, Kamis (25/9).
Ia menjelaskan, batako juga lebih efisien dari segi waktu dan tenaga. “Kalau pasang dinding pakai bata merah, butuh waktu sekitar dua bulan. Tapi kalau pakai batako, cukup satu bulan sudah selesai,” tambahnya.
Untuk harga, Rozak mematok Rp2.500 per buah bagi pembeli yang mengambil langsung di lokasi. Sementara untuk pengantaran ke seluruh Kota Padang, harga naik menjadi Rp3.000 per buah.
Bahan baku batako berasal dari pasir Lubuk Alung yang dicampur dengan pecahan abu batu. Komposisi ini, menurutnya, membuat batako lebih padat dan kuat dibandingkan campuran biasa.
Pemasaran tidak hanya terbatas di Padang. Rozak menyebut batakonya sudah dikirim hingga ke Mentawai, Sungai Garingging, dan Pasaman Barat, termasuk daerah Kinali.
Meski begitu, ia mengaku menghadapi tantangan dari persaingan tidak sehat. “Kadang ada pihak lain yang jual ke konsumen padahal konsumen itu sebenarnya sudah berurusan sama kita,” ungkapnya.
Situasi ini kerap menimbulkan kebingungan hingga salah paham. “Itulah yang saya sebut sedikit peniupan dari pihak lain. Konsumen kadang tidak tahu mereka beli ke siapa sebenarnya,” kata Rozak.
Meski menghadapi kendala, ia tetap optimis. Rozak menilai, menjaga kualitas dan pelayanan menjadi kunci agar konsumen tetap kembali. “Kepercayaan lebih penting daripada sekadar jual beli,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bisnis, Rozak berharap usahanya bisa membuka lapangan kerja. “Setidaknya usaha ini bisa jadi pembuka lapangan kerja. Kawan-kawan yang belum punya pekerjaan bisa ikut bekerja di sini,” tutupnya.(andre/mg9)
Editor : Hendra Efison