Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kepemimpinan, Investasi dan Pariwisata Jadi Kunci Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Sumbar

Heri Sugiarto • Minggu, 26 Oktober 2025 | 13:35 WIB

Potensi pariwisata Sumbar yang belum tergarap optimal dan investasi kunci peningkatan ekonomi, menurut Ricky Donals. (Foto ilustrasi)
Potensi pariwisata Sumbar yang belum tergarap optimal dan investasi kunci peningkatan ekonomi, menurut Ricky Donals. (Foto ilustrasi)
PADEK.JAWAPOS.COM-Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) tercatat rendah dibandingkan rata-rata nasional. Data triwulan II 2025 menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar 3,94%, terendah di Sumatra dan hanya lebih tinggi dibanding empat provinsi di Papua.

Pengusaha nasional asal Sumbar Ricky Donals, kembali mendorong perlunya upaya serius dan konkret mengatasi rendahnya pertumbuhan ekonomi meski provinsi ini memiliki potensi besar dan komoditas melimpah.

Menurutnya, lemahnya integrasi kebijakan dan investasi produktif menjadi faktor utama.

“Semelimpah apapun potensi, tapi kalau pemimpin daerah—gubernur, bupati, dan wali kota—tidak berperan maksimal, pertumbuhan ekonomi Sumbar tidak akan naik ke angka optimal,” ujar Ricky Donals yang juga ninik mamak Tanjung Alam Tanahdatar, Minggu (26/10/2025).

Lebih lanjut disampaikannya bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi kontributor utama PDRB Sumatera Barat. Ketergantungan pada sektor primer dan konsumsi domestik masih menjadi tantangan.

Diversifikasi ekonomi dan peningkatan investasi di sektor-sektor non-primer sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

"Faktor pendukung antara lain biaya logistik tinggi akibat akses tol terbatas, pelabuhan belum optimal sebagai jalur ekspor, serta sektor investasi yang rendah. Komoditas ekspor seperti pinang dan gambir masih harus melalui Belawan, Sumut, sehingga biaya logistik tinggi," jelas Datuak Ricky.

Selain itu, sambungnya, perizinan lambat, persoalan tanah ulayat, koordinasi fiskal antar kabupaten yang lemah, pemanfaatan APBD yang kurang produktif, serta sumber daya manusia dan riset yang terbatas, turut menurunkan produktivitas dan inovasi.

Dampak terhadap masyarakat Sumbar terlihat dari kenaikan harga bahan pokok, transportasi, dan daya beli yang stagnan. Investasi baru menurun, sementara urbanisasi tinggi ke kota-kota seperti Padang dan Bukittinggi tanpa dukungan lapangan kerja dan infrastruktur memadai.

Pariwisata Sumbar yang memiliki potensi besar sejauh ini belum tergarap secara optimal. "Padahal sektor ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah," tandasnya.

Untuk itu, Ricky Donals juga menekankan perlunya kepemimpinan yang kuat dan koordinasi antardaerah progresif untuk mendorong ekonomi Sumbar.

“Gubernur harus menjadi motor ekonomi Sumatera bagian tengah. Dengan dukungan program hilirisasi produk pertanian, perikanan, dan sektor pariwisata, kita berharap pertumbuhan ekonomi Sumbar bisa meningkat pada 2026. Untuk itu, semua stakeholder harus diajak duduk bersama sehingga tidak menjadi persoalan jangka panjang,” ujarnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#pertumbuhan ekonomi #ekonomi sumatera barat #inflasi #pariwisata #Ricky Donals Dt Paduko Marajo #investasi