Dalam laporan Regional Economic Outlook: Asia and Pacific – Oktober 2025, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi Asia tumbuh 4,5 persen pada 2025 dan sedikit menurun menjadi 4,1 persen pada 2026.
IMF melaporkan bahwa Asia akan menyumbang sekitar 60 persen dari total pertumbuhan ekonomi global dalam dua tahun ke depan.
Namun, lembaga tersebut juga memperingatkan risiko pelemahan akibat meningkatnya tensi geopolitik, kebijakan perdagangan proteksionis, dan perlambatan permintaan ekspor global.
Menurut IMF, Asia Tenggara—termasuk Indonesia, Vietnam, dan Malaysia—masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat berkat diversifikasi sektor industri dan peningkatan konsumsi domestik.
Struktur ekonomi yang terbuka serta kebijakan fiskal yang hati-hati dinilai menjadi faktor utama menjaga stabilitas kawasan.
Sementara itu, laporan Reuters mencatat adanya pergeseran rantai pasok global yang membuka peluang baru bagi kawasan ini.
Sejumlah perusahaan multinasional mulai memindahkan basis produksi mereka dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara untuk mengurangi risiko tarif dan ketidakpastian politik.
Untuk Indonesia, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada 2025 dengan inflasi yang tetap terkendali di kisaran 1,8 persen.
Bank Dunia menilai Indonesia berhasil menjaga momentum pertumbuhan melalui reformasi birokrasi serta peningkatan investasi di sektor energi dan infrastruktur.
Namun, Reuters memperingatkan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia hingga 1,3 persen dari PDB pada paruh kedua 2025 akibat meningkatnya impor bahan baku industri dan energi.
Kondisi ini dinilai membutuhkan keseimbangan antara kebijakan pertumbuhan dan stabilitas eksternal.
IMF juga menyoroti tekanan harga pangan global yang mulai dirasakan beberapa negara di kawasan.
Karena itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dianggap penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan menahan inflasi.
Meski menghadapi sejumlah risiko, IMF memuji langkah negara-negara Asia Tenggara dalam memperkuat ketahanan ekonomi melalui digitalisasi sektor publik dan peningkatan investasi hijau.
Program transisi energi di Indonesia dan Malaysia disebut sebagai contoh kebijakan berorientasi jangka panjang.
Analis ekonomi Asia, Takashi Watanabe, kepada Bloomberg menilai bahwa Asia Tenggara berhasil menunjukkan pola pertumbuhan berkelanjutan di tengah tekanan eksternal.
“Asia Tenggara mampu menyeimbangkan antara kebutuhan pembangunan dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, prospek ekonomi Asia Tenggara dinilai tetap cerah dengan pertumbuhan di atas 4 persen dan inflasi yang terkendali.
Disiplin kebijakan ekonomi, reformasi birokrasi, serta strategi digitalisasi menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.(cc5)
Editor : Hendra Efison