Pada pukul (19.55 WIB), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$4.242,09 per ons, sementara emas berjangka Desember menguat 0,8% ke US$4.247,80 per ons.
Kenaikan harga emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang baru untuk membuka kembali pemerintahan, hanya beberapa jam setelah Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) menyetujui rancangan tersebut.
Penutupan pemerintahan yang berlangsung selama hampir 43 hari itu disebut Trump telah menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$1,5 triliun.
Pembukaan kembali lembaga pemerintah diharapkan memungkinkan rilis data ekonomi resmi yang sempat tertunda, sehingga memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Menurut catatan analis ANZ yang dikutip Investing, prospek data ekonomi yang lemah pasca-penutupan turut mendorong harga emas, ditambah dengan pembelian emas oleh bank sentral dan meningkatnya ketidakpastian global.
Logam mulia lainnya juga menguat. Harga platinum spot naik 1,2% menjadi US$1.650,20 per ons, sementara perak spot meningkat 1% ke US$53,96 per ons.
Pasar logam tetap positif meskipun pelaku pasar memangkas ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada Desember.
Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin kini berada di level 50,4%, turun dari 62,4% sehari sebelumnya.
Kenaikan harga emas juga mendapat dukungan dari pembelian berkelanjutan oleh bank sentral Tiongkok, yang telah menambah cadangan emasnya selama 12 bulan berturut-turut hingga September lalu.
Sementara itu, harga tembaga ikut naik seiring dibukanya kembali pemerintahan AS. Kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange naik 0,6% menjadi US$10.975 per ton, sedangkan COMEX copper futures menguat 0,6% ke US$5,1340 per pon.
Peningkatan harga tembaga juga didukung oleh rencana stimulus ekonomi baru Tiongkok dalam rencana pembangunan lima tahunnya untuk memperkuat aktivitas industri dan produksi domestik.(*)
Editor : Heri Sugiarto