Orang itu adalah Hamdani Alwi. Di usianya yang menginjak 60 tahun, Hamdani tidak memilih menghabiskan hari dengan berdiam diri di rumah. Ia justru dikenal sebagai pemilik sekaligus pengelola Pemandian Air Panas Sapan Balun, salah satu objek wisata air panas yang cukup populer di Kecamatan Sungaipagu, Kabupaten Solsel.
Usaha ini dirintis Hamdani sejak 2014. Saat itu, sumber air panas di sekitar rumahnya belum banyak dilirik sebagai peluang ekonomi. Sebagian warga menganggapnya sekadar fenomena alam biasa yang tidak memiliki nilai lebih.
Hamdani melihat hal sebaliknya. Ia menilai air panas tersebut sebagai anugerah alam yang bisa dimanfaatkan secara sederhana tanpa harus mengubah lingkungan secara besar-besaran. Dengan modal terbatas dan dikelola bersama keluarga, ia mulai membendung aliran air panas dan membangun kolam pemandian sederhana.
”Awalnya saya berpikir, sumber air panas ini rezeki dari Tuhan. Sayang kalau dibiarkan mengalir begitu saja ke selokan. Dari situ, sejak 2014, saya dan keluarga berinisiatif membuat kolam pemandian seadanya,” kata Hamdani mengenang awal usaha tersebut.
Pilihan Hamdani menjadikan Sapan Balun sebagai usaha berbasis keluarga menjadi salah satu kunci efisiensi. Operasional pemandian dilakukan langsung dari lingkungan rumah, sehingga biaya pengelolaan bisa ditekan dan pengawasan berjalan maksimal.
Selain itu, Hamdani menerapkan konsep pengelolaan yang menyatu dengan alam. Ia tidak melakukan perubahan ekstrem terhadap kondisi lingkungan sekitar, melainkan menyesuaikan fasilitas dengan karakter alami sumber air panas tersebut.
Salah satu aspek yang paling diperhatikan adalah sistem pengelolaan air. Hamdani memilih menggunakan konsep air mengalir atau flowing water. Air panas dari sumber langsung dialirkan ke kolam, kemudian keluar kembali, tanpa dibiarkan mengendap terlalu lama.
”Airnya harus terus mengalir. Masuk ke kolam, lalu keluar lagi. Dengan begitu, air selalu baru dan bersih. Ini cara alami supaya pengunjung nyaman dan tidak gatal-gatal,” ujar Hamdani menjelaskan.
Sistem tersebut membuat kebersihan kolam relatif terjaga meski jumlah pengunjung meningkat, terutama pada akhir pekan. Sensasi mandi dengan air panas yang terus berganti juga memberi efek relaksasi yang lebih maksimal bagi pengunjung.
Kepuasan itu dirasakan langsung oleh Andika, 22, salah seorang pengunjung. Ia mengaku Sapan Balun sudah lama menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah.
”Kalau badan capek, saya sering ke sini. Suasananya tenang, air panasnya pas, cocok buat relaksasi,” kata Andika saat ditemui di lokasi.
Selain kenyamanan, Andika menilai harga tiket yang diterapkan sangat terjangkau. Dengan tarif Rp 3.000 per orang, pengunjung bebas menikmati pemandian tanpa batasan waktu.
”Murah sekali. Dengan Rp 3.000, kita bisa mandi sepuasnya, tidak diburu waktu. Itu yang bikin saya sering ke sini,” ujarnya.
Terkait tarif murah tersebut, Hamdani mengaku memiliki pertimbangan tersendiri. Ia memilih tidak menaikkan harga meski biaya perawatan tetap ada dan jumlah pengunjung terus bertambah.
Menurutnya, tujuan utama usaha ini bukan mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat, melainkan menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memberi manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
”Rp 3.000 itu sudah cukup. Untungnya memang tidak besar per orang, tapi kalau pengunjung ramai dan lancar, usaha tetap jalan. Yang penting tempat ini bisa dinikmati semua kalangan,” tutur Hamdani.
Konsistensi menjaga kualitas air, pengelolaan yang sederhana, serta harga yang ramah di kantong membuat Pemandian Air Panas Sapan Balun tetap bertahan hingga kini. Usaha rumahan yang dirintis lebih dari satu dekade lalu itu terus hidup di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Kini, Sapan Balun tidak hanya menjadi tempat mandi air panas, tetapi juga menjadi contoh bagaimana potensi alam lokal dapat dikelola secara cerdas dan berkelanjutan.
Dari halaman rumahnya, Hamdani Alwi membuktikan ketekunan dan kepedulian terhadap lingkungan mampu menjelma menjadi aset ekonomi yang bernilai bagi keluarga dan masyarakat. (*)
Editor : Eri Mardinal