Status emas sebagai aset safe haven kembali bersinar di tengah pelemahan indeks Dolar AS dan investigasi terhadap otoritas moneter Amerika Serikat, The Fed.
Emas Sebagai Lindung Nilai di Tengah Isu The Fed
Ketidakpastian pasar saat ini didorong oleh investigasi Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Isu ini memicu kekhawatiran pasar mengenai risiko intervensi terhadap bank sentral yang dapat memaksa penurunan suku bunga lebih dalam, sehingga berisiko melonjakkan inflasi.
Harga emas menembus angka $4.600 per ons untuk pertama kalinya, sebelum stabil di angka $4.582.
Analis Strategis RBC Capital Markets, Christopher Louney menegaskan peran krusial emas dalam kondisi ini.
"Emas berfungsi sebagai lindung nilai terakhir atas ketakutan dan ketidakpastian mengingat statusnya sebagai safe haven dan penyimpan nilai," ujarnya, dikutip dari Investing.
Louney memproyeksikan momentum ketidakpastian pada 2026 ini dapat mendorong harga emas hingga menyentuh level $5.200 per ons pada akhir tahun.
Pelemahan Dolar AS dan Dampak Mata Uang Global
Kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan moneter AS menekan Dolar, yang memberikan ruang bagi penguatan emas.
Indeks Dolar berada di posisi 98,883 (Turun 0,25%), Euro menguat ke level $1,1665, dan Dolar menguat terhadap Yen pada posisi 158,40 atau mendekati level terendah multi-tahun.
Pasar Saham Asia Capai Rekor Baru Dipicu AI
Berseberangan dengan ketidakpastian di AS, bursa saham Asia justru bergerak menguat secara masif. Nikkei Jepang melonjak 3,4% ke rekor tertinggi setelah libur, didorong pelemahan Yen dan sentimen AI.
Selain itu, Taiwan dan Korea Selatan mencetak rekor indeks baru. Saham blue chip Tiongkok menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Analis Citi menyebut dalam laporan riset bahwa ekuitas global berpotensi terus naik pada 2026. Target kenaikan sekitar 10% untuk MSCI AC World hingga akhir tahun, dengan faktor pendukung berupa momentum revisi yang solid dan dorongan dari sektor AI.
Data Inflasi dan Harga Minyak
Sementara itu, pasar global kini mengalihkan perhatian pada perilisan data inflasi inti Desember AS yang diperkirakan naik ke angka 2,7% - 2,8%.
Di sisi lain, sektor energi juga mengalami gejolak. Harga minyak mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan: Brent naik 0,5% ke $64,19 per barel, dan WTI naik 0,5% ke $59,81 per barel.
Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran penurunan ekspor dari Iran akibat ketegangan domestik di negara anggota OPEC tersebut.(*)
Editor : Heri Sugiarto