Pada pukul 23:50 WIB, harga emas spot tercatat naik 1,7 persen menjadi 4.673,30 dolar AS per ons, sementara harga emas berjangka AS meningkat 1,8 persen menjadi 4.677,81 dolar AS per ons.
Kenaikan tersebut terjadi setelah emas menembus rekor intraday 4.690,75 dolar AS per ons di awal sesi.
Reli Emas Menguat di Tengah Meningkatnya Risiko Geopolitik
Reli kuat harga emas melanjutkan tren pekan lalu setelah Trump mengumumkan rencana tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menolak upaya AS mengakuisisi Greenland.
Tarif itu direncanakan sebesar 10 persen mulai 1 Februari dan meningkat menjadi 25 persen pada Juni jika tidak tercapai kesepakatan.
Negara yang terdampak mencakup Prancis, Jerman, Inggris Raya, serta beberapa negara Nordik dan Eropa utara.
Pengumuman tersebut memicu kritik tajam dari berbagai pejabat Eropa. Di sisi lain, meningkatnya potensi sengketa perdagangan transatlantik mendorong investor mengalihkan aset mereka ke logam mulia.
“Munculnya kembali gesekan tarif kemungkinan akan membebani aset berisiko hari ini,” tulis ING dalam catatan riset, dikutip dari Investing. “Dukungan untuk emas dan perak semakin kuat dengan ancaman tarif terbaru Presiden Trump terhadap beberapa negara Eropa.”
Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve turut memperkuat pasar emas.
Data ekonomi AS yang melemah serta tanda pendinginan inflasi memperbesar peluang penurunan suku bunga, sehingga menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Perak Ikut Melonjak, Sentimen Pasar Tetap Volatil
Tidak hanya emas, harga perak juga melonjak lebih dari lima persen hingga mencetak rekor baru di 94,35 dolar AS per ons.
Logam putih itu mendapat dorongan ganda, baik sebagai aset aman maupun sebagai komoditas industri.
Di sisi lain, kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap berita membuat pergerakan harga logam mulia menjadi semakin dinamis.
“Pasar tetap menjadi lingkungan yang didorong oleh berita utama, yang berarti terkadang akan terasa kurang tentang fundamental dan lebih tentang momentum,” kata Monte Safieddine, Kepala Riset EMEA di Capital.com.
Ia menambahkan bahwa kenaikan perak yang begitu cepat membuat volatilitas meningkat, sehingga pergerakan harga besar ke arah mana pun tidak dapat dikesampingkan.
Dengan ancaman tarif yang kembali memicu ketegangan AS–Eropa serta prospek perubahan kebijakan moneter, pasar logam mulia diperkirakan tetap berada dalam fase penuh ketidakpastian dalam waktu dekat.(*)
Editor : Heri Sugiarto