Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

OJK: Sektor Keuangan RI Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Hendra Efison • Selasa, 7 April 2026 | 17:40 WIB
Stabilitas finansial Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Stabilitas finansial Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

JAKARTA—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada 1 April 2026.

Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah, menyatakan kondisi sektor jasa keuangan masih stabil meskipun dinamika ekonomi global dan domestik terus berfluktuasi.

Ketidakpastian global, menurutnya, meningkat akibat eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk. Situasi ini berdampak pada stabilitas ekonomi dunia dan meningkatkan risiko di pasar keuangan global.

Ia menjelaskan, konflik di Timur Tengah turut memengaruhi operasional infrastruktur energi dan memicu penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi global. Dampaknya, harga energi mengalami lonjakan dan volatilitas pasar keuangan meningkat.

Baca Juga: PT NAL Bantah Isu 10 TKA dan Tambang Aktif di Sawahlunto

Tekanan Global dan Suku Bunga

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sebelumnya memproyeksikan ekonomi global akan menguat. Namun, proyeksi tersebut dikoreksi akibat konflik di Timur Tengah.

Ketidakpastian global dan tekanan harga energi membuat ruang kebijakan moneter bank sentral semakin terbatas. Kondisi ini mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Di Amerika Serikat, ekonomi mengalami tekanan akibat inflasi yang masih tinggi dan meningkatnya pengangguran. Bank sentral AS, The Fed, pada Maret 2026 mempertahankan suku bunga kebijakan.

Seiring meningkatnya konflik Iran, pasar memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Hal ini turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global.

Baca Juga: Harga Emas Menanjak di Tengah Ultimatum Trump ke Iran Soal Selat Hormuz

Sementara itu, perekonomian Tiongkok mencatat kinerja lebih baik dari perkiraan. Hal ini didorong perbaikan permintaan dan penawaran serta stimulus sektor keuangan. Meski demikian, target pertumbuhan ekonomi tetap diturunkan.

Ekonomi Domestik Tetap Terjaga

Di dalam negeri, inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun. Konsumsi masyarakat pada awal tahun juga masih kuat.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan serta penjualan kendaraan bermotor yang tetap solid.

Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi nasional masih berada pada jalur positif meskipun mengalami moderasi. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur tetap berada di zona ekspansi.

Ketahanan eksternal Indonesia juga terjaga, dengan cadangan devisa pada Februari 2026 berada pada level memadai dan neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.

Baca Juga: Peresmian Gedung SKB Pariaman, Fasilitas Gratis Paket A–C

IHSG Berfluktuasi, Investor Bertambah

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dinamis sepanjang Maret 2026 dan ditutup pada level 7.048,22.

Secara bulanan, IHSG terkoreksi 14,42 persen dan secara tahun berjalan turun 18,49 persen. Peningkatan volatilitas dipicu ketidakpastian global, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, jumlah investor terus meningkat. Sepanjang Maret 2026 terdapat penambahan 1,78 juta investor baru, sehingga total investor pasar modal mencapai 24,74 juta.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Padang Naik, Belanja Rp200 Ribu Kini Tak Cukup

Perbankan Tetap Kuat

Di sektor perbankan, kinerja intermediasi tumbuh positif. Kredit perbankan pada Februari 2026 meningkat 9,37 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit investasi sebesar 20,72 persen, diikuti kredit konsumsi 6,34 persen dan kredit modal kerja 3,88 persen.

Likuiditas perbankan tetap memadai dan kualitas kredit terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada level rendah, sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,83 persen.

Kondisi ini mencerminkan ketahanan industri perbankan nasional di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.(*)

Editor : Hendra Efison
#OJK 2026 #sektor keuangan Indonesia #IHSG tahun 2026 #ekonomi global