Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Film Hotaru no Haka: Kisah Pedih Dua Anak di Tengah Perang Dunia II

Rafiul Refdi • Senin, 10 November 2025 | 09:54 WIB

Hotaru no Haka: Ketika Kunang-Kunang Menyala di Tengah Abu Perang. (Showpoiler)
Hotaru no Haka: Ketika Kunang-Kunang Menyala di Tengah Abu Perang. (Showpoiler)
PADEK.JAWAPOS.COM--Hotaru no Haka (Grave of the Fireflies) merupakan salah satu karya paling menyayat hati dalam sejarah animasi Jepang.

Film garapan Isao Takahata dan diproduksi oleh Studio Ghibli ini diadaptasi dari novel semi-otobiografi karya Akiyuki Nosaka.

Menceritakan perjuangan dua bersaudara, Seita dan Setsuko, bertahan hidup setelah Kobe hancur akibat serangan udara pada Perang Dunia II.

Namun, karya ini bukan sekadar kisah perang. Hotaru no Haka adalah potret mendalam tentang kehilangan, kasih sayang, dan keteguhan hati keluarga di tengah kehancuran.

Menurut laporan NHK World Japan, Takahata tidak bermaksud menjadikan film ini sebagai propaganda anti-perang secara langsung.

Ia justru menyoroti sisi paling manusiawi dari tragedi—bagaimana perang menelanjangi ketidakpedulian sosial dan menyingkap kerapuhan harapan di tengah dunia yang terbakar.

Dari segi sinematografi, film ini tampil lembut namun menghujam. Warna pastel dan pencahayaan natural digunakan untuk menyeimbangkan keindahan visual dengan kesedihan emosional.

Adegan ikonik ketika Seita dan Setsuko bermain dengan kunang-kunang menjadi simbol kerapuhan hidup—cahaya kecil yang hanya bersinar sesaat sebelum padam, sebagaimana dikutip dari Anime News Network.

Kritikus film legendaris Roger Ebert bahkan menyebut Hotaru no Haka sebagai “film anti-perang paling menyedihkan yang pernah dibuat.”

Menurutnya, karya ini tidak berupaya menanamkan kebencian terhadap perang, tetapi menggugah simpati terhadap penderitaan manusia yang paling murni—anak-anak yang kehilangan segalanya.

Kajian University of Tokyo Film Studies menilai film ini juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap masyarakat Jepang pascaperang, yang digambarkan gagal menunjukkan empati terhadap korban di sekitarnya.

Seita dan Setsuko menjadi representasi nyata dari korban perang dan ketidakpedulian sosial sekaligus.

Baca Juga: Topan Fung-wong Terjang Filipina, Lebih dari Sejuta Warga Dievakuasi Saat Angin Capai 230 Km/Jam

Musik gubahan Michio Mamiya memperkuat kedalaman emosi film ini. Melodi lembutnya menyerupai doa di antara asap dan abu, berpadu dengan gaya penyutradaraan Takahata yang tenang tanpa dramatisasi berlebihan—menciptakan kekuatan naratif yang subtil namun menghantam.

Lebih dari sekadar animasi, Hotaru no Haka adalah pengalaman emosional tentang kemanusiaan, yang mengingatkan penonton bahwa di balik setiap perang selalu ada cerita kecil tentang kasih sayang dan kehilangan.

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Takahata pernah mengatakan bahwa tujuannya bukan membuat penonton menangis, melainkan “membangunkan empati yang tertidur di dalam diri manusia.”

Itulah kekuatan sejati Hotaru no Haka—film yang tidak berteriak, namun meninggalkan keheningan panjang yang sulit dilupakan.(CC5)

 

Editor : Hendra Efison
#Hotaru no Haka #Studio Ghibli #Isao Takahata #film perang Jepang