Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bupati Dharmasraya Tinjau Hutan Lubuak Karak, Dorong Alih Sawit ke Kopi

Zulfia Anita • Jumat, 19 Desember 2025 | 12:05 WIB

TINJAUAN: Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani berdialog dengan warga saat meninjau kawasan hutan Lubuak Karak, Kecamatan Sembilan Koto, Dharmasraya.
TINJAUAN: Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani berdialog dengan warga saat meninjau kawasan hutan Lubuak Karak, Kecamatan Sembilan Koto, Dharmasraya.

PADEK.JAWAPOS.COM-Belajar dari bencana ekologis di sejumlah wilayah Sumatera akibat badai siklon dalam dua pekan terakhir, Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani meninjau langsung wilayah tutupan hutan di daerahnya.

Dalam kunjungan tersebut, Annisa menggandeng Indonesia Offroad Federation (IOF) untuk menerobos kawasan hutan Lubuak Karak di Kecamatan Sembilan Koto menggunakan kendaraan offroad.

Sepanjang perjalanan, Annisa menemukan sejumlah aktivitas penebangan hutan, baik ilegal logging maupun pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Kondisi tersebut membuat kawasan hutan dengan kontur berbukit tampak rapuh. Padahal, wilayah ini merupakan daerah hulu bagi sungai-sungai besar, termasuk Batang Momong, yang mengalir melewati banyak permukiman warga.

“Saya sedih. Dalam kepala saya, jika hutan ini semakin gundul, suatu hari nanti banjir bandang yang hari ini kita lihat di media sosial akan terjadi di depan mata kita,” kata Annisa sambil memandangi kebun sawit yang baru ditanam di lereng salah satu bukit.

Menanggapi kondisi tersebut, Annisa menyampaikan kepada Wali Nagari Lubuak Karak agar komoditas perkebunan yang dikembangkan ke depan adalah kopi.

Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, kata dia, akan menerima bantuan bibit kopi dari Kementerian Pertanian untuk lahan seluas 2.000 hektare pada tahun 2026.

“Selain nilai ekonominya lebih tinggi dibandingkan sawit, kopi juga merupakan tanaman yang bisa ditanam di bawah naungan. Nanti akan diatur, pohon dengan diameter di atas 20 sentimeter tidak boleh ditebang. Jadi kopi ditanam dengan menyesuaikan struktur alami hutan yang sudah ada,” ujar Annisa.

Kecamatan Sembilan Koto saat ini menjadi wilayah pertahanan terakhir ekosistem hutan alami yang tersisa di Dharmasraya. Secara demografis, kawasan ini didominasi perbukitan dan merupakan pusat hulu sungai.

Dalam satu dekade terakhir, hutan di wilayah tersebut menghadapi tekanan akibat praktik ilegal logging dan ilegal mining secara masif.

Dampaknya, daerah yang sebelumnya dikenal bersahabat dengan alam mulai mengalami banjir bandang dan longsor hampir setiap musim hujan dalam beberapa tahun terakhir.

“Jika tidak kita atasi dari sekarang, masyarakat Sembilan Koto akan menjadi korban bencana yang tidak berkesudahan ke depannya, terlebih dengan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi,” kata Annisa.

Sementara itu, Wali Nagari Lubuak Karak, Apri Doni, menyatakan kesiapan warganya untuk mengembangkan komoditas kopi.

Menurutnya, pengembangan kopi sejalan dengan semangat masyarakat dan para tokoh adat yang ingin melestarikan hutan serta sungai di wilayah mereka.

“Kami berharap bantuan bibit kopi dapat segera direalisasikan agar warga tidak perlu menanam sawit. Sesuai instruksi bupati, kami sedang menyiapkan kelompok tani kopi. Kami yakin ini bisa terlaksana karena, menurut Bupati Annisa, akan ada pendampingan intensif bagi para petani,” ujar Doni usai menerima arahan bupati di kawasan hutan Lubuakkarak. (ita)

Editor : Novitri Selvia
#Annisa Suci Ramadhani #hutan Lubuak Karak #tanam kopi #hutan gundul