PADEK.JAWAPOS.COM-Kenaikan harga plastik yang melonjak hingga 60 persen dalam sepekan terakhir, jelang dan pasca Lebaran, mulai menekan aktivitas perdagangan di Kabupaten Pasaman Barat.
Lonjakan tajam ini tidak hanya membebani pedagang, tetapi juga berdampak pada penurunan omzet serta kelangkaan barang di tingkat pelaku usaha.
Salah seorang pedagang, Nanda Putra, 31, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sudah terjadi sejak sepekan sebelum Lebaran. Kondisi ini memaksa para pedagang mencari cara agar tetap bertahan di tengah meningkatnya biaya operasional.
Baca Juga: Beli Motor Yamaha, Peluang Jadi Miliarder Lewat Program Undian Rp1 Miliar
“Dari sebelum Lebaran harga plastik sudah mengalami kenaikan, tapi sekarang naiknya hampir sekitar 60 persen. Ini cukup memberatkan kami sebagai pedagang, karena plastik ini kebutuhan utama untuk membungkus barang dagangan,” ujarnya, Rabu (8/4).
Nanda menjelaskan, sejumlah jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. Plastik asoy merek 888 yang sebelumnya Rp550.000 per bal kini naik menjadi Rp 650.000. Harga ecerannya pun meningkat dari Rp22.000 menjadi Rp27.000.
Selain itu, plastik asoy Idola naik dari Rp960.000 menjadi Rp 1.290.000 per bal, dengan harga eceran dari Rp 13.000 menjadi Rp 17.000. Plastik HD merek Sparta juga mengalami kenaikan dari Rp900.000 menjadi Rp 1.200.000 per bal, sementara harga ecerannya naik dari Rp36.000 menjadi Rp48.000 per kilogram.
Baca Juga: Sumbar Genjot Pajak Air Permukaan Sektor Sawit, Potensi Capai Rp1 Triliun
“Kemudian cup Starindo sebelumnya Rp 360.000 sekarang menjadi Rp 520.000 per bal. Untuk harga eceran dari Rp 18.000 jadi Rp 27.000 per 50 pcs. Styrofoam juga naik, sebelumnya Rp 35.000 kini menjadi Rp 45.000 per tim. Sangat jauh naiknya,” tambahnya.
Akibat lonjakan harga tersebut, omzet penjualan Nanda turun drastis hingga hampir 50 persen. Ia menyebutkan, pembeli kini lebih selektif dalam berbelanja dan cenderung mengurangi pembelian.
“Sejak harga plastik ini naik, omzet kami turun hampir 50 persen. Pembeli jadi lebih sedikit, dan banyak juga yang mengurangi belanjanya, apalagi kami juga tidak bisa bebas menaikkan harga di pasaran,” katanya.
Baca Juga: Sumbar Pacu Transformasi Ekonomi, Target Investasi Rp13,3 Triliun dan Peran CEO Daerah
Kondisi serupa juga diungkapkan oleh Boy Martin Putra, 52, seorang pemasok plastik ke sejumlah toko di wilayah Sumatera Barat hingga Riau. Ia menilai, selain harga yang melonjak, ketersediaan barang juga menjadi persoalan serius.
“Sekarang ini bukan cuma mahal, tapi barangnya juga susah didapat. Beberapa hari lalu saya pesan plastik senilai Rp50 juta di Medan, tapi yang datang cuma sekitar Rp5 juta, itu pun tidak lengkap jenisnya,” ungkap Boy.
Menurutnya, situasi ini mengganggu rantai distribusi karena banyak permintaan toko yang tidak dapat dipenuhi tepat waktu.
Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Kunci Gencatan Senjata, AS-Iran Sepakat Hentikan Perang Dua Pekan
“Biasanya kami bisa memenuhi permintaan toko-toko secara rutin, tapi sekarang banyak yang harus menunggu. Ini tentu berdampak pada kepercayaan pelanggan,” jelasnya.
Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pedagang minuman. Puji Helya Putri, 23, penjual minuman Pop Ice, mengatakan hampir seluruh kebutuhan usahanya bergantung pada bahan berbahan plastik.
“Usaha saya ini hampir semuanya pakai plastik, mulai dari cup, tutup cup, pipet, sampai plastik asoy untuk bungkus. Jadi kalau harga plastik naik, dampaknya langsung terasa karena modalnya makin besar,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Plastik Naik Drastis, Pelaku Usaha Coffee Shop di Padang Tertekan
Ia menambahkan, kondisi ini membuat keuntungan pedagang kecil semakin menipis. Untuk bertahan, ia terpaksa menaikkan harga jual meski berisiko mengurangi jumlah pembeli.
“Kami pedagang kecil sangat merasakan dampaknya. Untung sekarang sangat tipis. Terpaksa menaikkan harga sedikit supaya tidak rugi, meskipun pembeli ada yang mengeluh,” katanya.
Kenaikan harga plastik ini menjadi perhatian serius karena berdampak luas, tidak hanya bagi pedagang besar, tetapi juga usaha mikro dan konsumen. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga berbagai barang dan jasa di tingkat masyarakat. (cr6)
Baca Juga: Beli Motor Yamaha, Peluang Jadi Miliarder Lewat Program Undian Rp1 Miliar
Editor : Novitri Selvia