Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Gadang Koto Nan Ompek Payakumbuh: Punya 48 Tiang Penyangga

Novitri Selvia • Kamis, 7 April 2022 | 11:31 WIB
Photo
Photo
Masjid Gadang Koto Nan Ompek, Payakumbuh, punya arsitektur nan unik dan klasik. Bila ditilik dari bentuk dan coraknya, masjid ini mirip dengan Masjid Bodi Chaniago dalam buku “Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau” yang ditulis oleh budayawan kondang AA Navis. Lantas, seperti apa arsitektur Masjid Gadang Koto Nan Ompek?

HUJAN yang mengguyur Kota Payakumbuh Selasa malam (5/4), disambut sebagian besar jamaah Masjid Gadang Koto Nan Ompek dengan penuh rasa syukur. Maklum saja, sudah berpekan-pekan cuaca di Payakumbuh, terasa panas sekali dan menyengat kulit.

“Alhamdulillah. Hujan hujan,” kata Ebtisar, tokoh masyarakat Kelurahan Balai Nan Duo, Kecamatan Payakumbuh Barat, yang tinggal tidak jauh dari Masjid Gadang Koto Nan Ompek.

Meski cuaca hujan, namun semangat masyarakat Kelurahan Balai Nan Duo untuk melaksanakan ibadah Shalat Isya, Shalat Tarawih, dan Witir berjamaah di Masjid Gadang Koto Nan Ompek, tidaklah kendor. Masyarakat merasa nyaman beribadah di masjid ini karena arsitektur bangunannya nan unik dan klasik.

Meski sampai kini belum ditemukan bukti tertulis, kapan masjid yang dikelilingi kolam ikan, pohon kelapa, dan kayu-kayu rimbun itu mulai dibangun. Namun, dari masyarakat Nagari Koto Nan Ompek, Padang Ekspres mendengar tiga versi sejarah  Masjid Gadang di Balai Nan Duo.

Versi pertama menyebutkan, Masjid Gadang Koto Nan Ompek dibangun bersamaan dengan pembangunan Rumah Gadang Sutan Chedoh yang berada sekitar 200 meter di depannya. Adapun Rumah Gadang Sutan Chedoh diperkirakan berdiri semasa kolonial Belanda menaklukkan Payakumbuh pada 1823 atau 199 tahun silam.

“Waktu itu, Belanda menunjuk Sutan Chedoh sebagai Regen atau pemipin Distrik Payakumbuh. Karena diangkat menjadi Regen, Sutan Chedoh mendirikan rumah gadang sebagai istana regen dan masjid gadang sebagai tempat beribadah,” kata Nurberita Ben Yuza, tokoh masyarakat Koto Nan Ompek.

Sedangkan versi kedua menyebutkan, Masjid Gadang Koto Nan Ompek, berdiri setelah Sutan Chedoh tutup usia. Untuk mendirikan Masjid Nagari ini, masyarakat Koto Nan Ompek,  membentuk semacam kelompok tukang yang disebut sebagai “Tukang Nagari Nan Tigo Baleh”.

Kelompok “Tukang Nagari Nan Tigo Baleh” ini, seperti ditulis tokoh pendiri Kota Payakumbuh HC Israr dalam autobiografinya,  dipimpin oleh tiga penghulu yang ahli dalam pertukangan.

Yakni,  Datuk Kuniang (Suku Kampai, Parikrantang), Datuk Pangka Sinaro (Suku Piliang, Payolansek), dan Datuk Siri Dirajo (Suku Melayu, Payolansek). Sementara, versi ketiga menyebutkan, Masjid Gadang Koto Nan Ompek berdiri tidak semasa Sutan Chedoh berkuasa dan tidak pula setelah “Sang Regen” wafat.

Tapi sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya. Ini dibuktikan dengan penemuan tulisan huruf Arab 1812 Masehi pada kayu pamimpie atau lesplank tingkat dua masjid tersebut.

Sayang, lesplang yang menghadap ke Selatan masjid tersebut, telah hilang bersama tulisan arabnya. Sehingga  versi ketiga sejarah Masjid Gadang Koto Nan Ompek, tidak ubahnya  seperti tambo dalam kebudayaan Minangkabau: hanya bisa didengar-dengar saja!

Akulturasi Arab dan Minang

Masjid Gadang Koto Nan Ompek sendiri memiliki tinggi 40 meter dan luas 20 x 20 meter. Masjid ini berdiri dengan 48  tiang penyangga, terbuat dari kayu juar yang kokoh.

Bila dilihat dari bentuk dan coraknya,  masjid ini sangat mirip dengan Masjid Bodi Chaniago yang ditulis budayawan AA Navis dalam buku “Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau” terbitan Grafiti Pers.

“Disebut mirip dengan  Masjid Bodi Chaniago, karena Masjid Gadang Koto Nan Ompek, punya atap bertingkat tiga, berkuncup gonjong di atas, dan berbentuk menyerupai piramida,” kata Haji Wendra Yunaldi dan Teddi Rahmat, dua generasi muda Koto Nan Ompek yang bergelut di dunia property dan arsitektur.

Menariknya lagi, Masjid Gadang Koto Nan Ompek yang konon berdiri di atas tanah wakaf Suku Bodi dan Suku Simabua, dalam sejarahnya sebagai tempat ibadah anak nagari, pernah dipengaruhi atau bersentuhan dengan kebudayaan  Arab.

Ini dibuktikan dalam khotbah jumat pada zaman dahulu, dimana khatibnya selalu menggunakan bahasa Arab. Penggunaan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah dalam khotbah jumat di Masjid Gadang Koto Nan Ompek,  menurut mendiang HC Israr,  baru dilakukan sekitar 1923.

Saat itu, pendiri Perguruan Mahad Islamy Buya Haji Zainuddin Hamidy yang terkenal sampai ke Malaysia,  dipercaya sebagai imam masjid gadang. Selain pernah diwarnai nuansa arab, Masjid Gadang Koto Nan Ompek  juga kaya akan nilai-nilai “Adat Basyandi Syarak, Syarak Basyandi Kitabullah”.

Buktinya, pada zaman dahulu, masjid  ini tidak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah. Tapi juga menjadi tempat menyelesaikan masalah  yang terkait dengan adat dan agama. Karena memiliknfungsi ganda ini pula, sebanyak 4 panghulu atau niniak-mamak, memiliki kebesaran (kekuasaan) di Masjid Gadang Koto Nan Ompek.

Yakni, Datuk Sinaro Nan Pandak (Bodi Caniago), Datuk Bangso Dirajo Nan Hitam (Suku Sambilan), Datuk Marajo Nan Putiah (Ampek Niniak), dan Datuk Marajo Adie (Suku Limo Nan Tujuah).

Menariknya, walau keempat penghulu itu punya kebesaran di Masjid Gadang Koto Nan Ompek, tapi dalam menentukan imam masjid yang disebut sebagai imam adat, mereka mesti bermusyawarah dengan niniak-mamak lain. Terutama para penghulu suku atau Tunggua Imam.

Adapun para Tunggua Imam itu, selain Datuk Sinaro Nan Pandak dari Suku Bodi Chaniago, adalah Datuk Rajo Penghulu (Suku Pitopang/Imam Adat Pasukuan Ampek Niniak). Kemudian, Datuk Kiraiang (Suku Kampai/Imam Adat Pasukuan Limo Nan Tujuah), dan Datuk Bangso Dirajo (Imam Adat Pasukuan Sambilan).

Apabila  pasukuan-pasukuan ini tidak memiliki anak kemenakan yang layak menjadi Imam atau tidak punya syarat sebagai Imam, seperti qari, alim, dan lainnya. Maka, Nagari Koto Nan Ompek dapat menunjuk di luar Imam Adat tersebut untuk menjadi Imam Masjid Gadang.

Begitu tradisi tempo dulu yang dinukilkan HC Israr dalam sejumlah tulisannya. Kini, beberapa tradisi  tersebut, mulai tergerus seiring perubahan  zaman.

Kendati demikian, anak nagari Koto Nan Ompek, seperti pernah dikemukakan oleh mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Haji Asman Sahar  Datuak Paduko Rajo, masih memiliki semangat kebersamaan dalam menjaga adat dan budaya, termasuk dalam menjaga Masjid Gadang sebagai warisan sejarah.

Masjid Gadang Koto Nan Ompek sampai kini juga masih sering menjadi tempat tujuan wisata religi di Payakumbuh, karena arsitekturnya yang unik dan terbuat dari kayu. “Kita berharap,  keaslian arsitektur masjid Gadang Koto Nan Ompek, dapat terus  dipertahankan oleh pengurus dan masyarakat,” kata Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi, secara terpisah. (*) Editor : Novitri Selvia
#Masjid Gadang #Koto Nan Ompek Payakumbuh #Akulturasi Arab dan Minang