Yuwardi, Padangpanjang
CUKUP lama terpuruk dalam ketidakpopuleran, Perguruan Thawalib Padangpanjang dalam usia 112 tahun pada Mei mendatang itu terus menunjukkan kebangkitan sebagai sang pembaharu pendidikan Islam di Minangkabau.
Pimpinan Perguruan Thawalib Padangpanjang, Dr Zulkarnaini mengatakan kebangkitan tersebut tepatnya sudah terasa sejak tiga tahun belakangan. Penguatan manajemen pengelolaan, sumber daya manusia dan penataan sistem, telah membawa dampak perubahan tren positif terhadap kemajuan perguruan.
“Saat ini Thawalib sudah memiliki regulasi dan sistem yang mengatur seluruh unsur yang terlibat dalam yayasan seperti pembina, pengurus dan pengawas.
Demikian juga dalam perguruan sebagai pelaksana unit yang ada di Thawalib, seperti Kuliatul Ulum el Islamiah (KUI), Madrasah Tsnawiyah, Madrasah Ibtidaiyyah Unggul Terpadu (MIUT), TK Al Quran dan PAUD. Semuanya terikat dalam Peraturan Thawalib, yang baru diterbitkan dan berjalan sejak 3 tahun belakangan,” ungkap Zulkarnaini kepada Padang Ekspres, beberapa waktu lalu.
Zulkarnaini mengaku sangat bersyukur tiga unsur yayasan yang dapat berjalan sangat kompak dalam komitmen kuat. Hal ini sangat disadarinya, mengingat tiga unsur tersebut merupakan alumni Thawalib yang sudah memiliki ekonomi mapan. Hal ini terbukti sejak tiga tahun belakangan, Thawalib sudah stabil dari berbagai sektor kebutuhan.
“Mulai dari kondisi keuangan yayasan yang minus dan terbelit utang, dapat dituntaskan dalam setahun. Demikian juga kebutuhan gaji guru dan karyawan, sudah dapat dipenuhi tepat waktu. Demikian juga dengan kebutuhan sarana dan prasarana. Saat ini sudah tuntas pembangunan satu dari tiga lantai asrama Thawalib Putra,” bebernya sembari menyebut telah menghabiskan dana Rp 2,2 milliar lebih untuk satu lantai itu.
Demikian juga di bidang akademik, Perguruan Thawalib Padangpanjang meski masih dalam proses kebangkitan, telah mampu mengukir prestasi di tingkat nasional. Salah satunya berhasil menyabet peringkat dua nasional, pada ajang lomba Membaca Kitab Kuning tingkat Tsanawiyah pada 2022 lalu.
“Di tengah proses kebangkitan ini, alhamdulillah Perguruan Thawalib makin diminati calon santri dari berbagai daerah. Saat ini untuk jumlah santri Aliyyah dan Tsanwiyah putra dan putri lebih kurang 600 orang. Jumlah ini terhukum karena keterbatasan ketersediaan, khususnya asrama dengan konsep Perguruan Thawalib sebagai sekolah boarding,” ucap Zulkarnaini.
Dikatakan Zulkarnaini, Perguruan Thawalib di tengah proses kebangkitan dan makin diminati saat ini, terus melakukan perbaikan kualitas SDM. Sejak tiga tahun berjalan kepengurusan baru, perguruan menerapkan seleksi terhadap calon santri saat masuk dan seleksi kemampuan mengajar terhadap guru sesuai dengan keilmuan yang diajarkan.
“Saat ini untuk peningkatan kualitas, kita sudah bekerja sama dengan Yayasan Gontor berupa penguatan guru dan kuliah gratis bagi 10 orang tamatan Thawalib. Beberapa orang guru ditugaskan 4-6 bulan di Gontor untuk penguasaan dialek Arab. Sedangkan santri yang melanjutkan kuliah gratis di Gontor, dengan syarat harus bersedia kembali mengabdi ke Thawalib,” katanya.
Thawalib saat ini selain memiliki Gedung Asrama, 11 lokal belajar dan ruangan pratikum santri yang dilengkapi dengan peralatan tata boga. “Bangunan ini merupakan bantuan dari kementerian melalui Anggota DPR RI Suir Syam,” sebut Zulkarnaini.
Kilas Sejarah
Bicara sejarah lahirnya Perguruan Thawalib, Zulkarnaini menyebut yakni dari perubahan surau menjadi sekolah berkelas diawali Surau Jembatan Besi Padangpanjang di bawah pimpinan Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) pada tahun 1911 dengan sistem pengajarannya sistem halaqah. Murid-murid dan guru sama-sama duduk di lantai membentuk lingkaran.
Tahun 1918 terjadi pembaharuan, murid-murid dibagi sesuai umur dan tingkatan pendidikannya menjadi tujuh kelas. Tingkatan permulaan, murid-murid diajar oleh guru-guru bantu, termasuk Zainudin Labai, buku-buku yang diajarkan pun terbatas pada buku-buku yang dikarang Zainudin Labai eL-Yunusi sendiri atau yang ditulis oleh guru-guru lainnya.
Pada tingkatan tertinggi diajarkan kitab-kitab dari Mesir di bawah asuhan Haji Rasul. Tahun 1920, Haji Rasul menukar berbagai kitab yang selama ini dipakai dengan kitab-kitab baru, di antarannya Bidayat la-Mujtahid, Ushul la-Ma’mul, Al-Muhazzab, dan lain-lain.
“Tokoh lain yang berperan dalam kemajuan Sumatra Thawalib adalah Haji Jalaluddin Thaib, yang menerapkan sistem berkelas yang sempurna, memakai bangku dan meja murid, kurikulum diatur dengan baik dan disempurnakan, organisasi dan administrasi sekolah mulai disusun, uang sekolah mulai dipungut dari murid-murid, dan tamatannya diberi ijazah,” terangnya.
Nama lainnya yang penting dicatat sebagai orang yang berpengaruh yaitu Engku Mudo Abdul Hamid Hakim. Ia mendampingi (sebagai asisten) Haji Rasul untuk memajukan Perguruan Sumatera Thawalib Padangpanjang. Berkat kecerdasan dan ketekunannya mempelajari Islam, Engku Mudo tampil sebagai ulama yang saleh dan warak.
“Mulai tahun 1922, ia menjadi pemimpin Sumatera Thawalib Padangpanjang karena Haji Rasul mengundurkan diri. Sumatera Thawalib Padangpanjang merupakan pelopor perguruan Islam di wilayah Sumatera. Murid yang datang dari berbagai daerah ditempa, dibina dan dimandirikan. Hasil didikannya disebar ke segala pelosok tanah air sebagai guru, ulama, dan mubalig yang semuanya mampu mendirikan Sumatera Thawalib di mana saja mereka berada,” jelas Zulkarnaini.
Pada tahun 1926 di saat-saat Sumatera Thawalib sedang memuncak kehebatannya, Padangpanjang ditimpa musibah gempa bumi yang amat dahsyat sekali. Sumatera Thawalib menghadapi dua persoalan besar, Guru Besar Haji Rasul pulang ke kampungnya di Sungai Batang Maninjau, dan pimpinan tertinggi Perguruan Islam Sumatera Thawalib pindah kepada Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim dibantu oleh guru-guru yang lain.
Meskipun demikian Sumatera Thawalib tetap berjalan baik dan semakin maju. “Di tangan Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padangpanjang, dan seluruh milik dan kekuasaan Thawalib Padangpanjang jatuhlah menjadi hak milik dan kekuasaan Yayasan tersebut dengan Akte Notaris,” terang Zulkarnaini.
Dikatakannya pada tahun 1963 dengan tenaga beberapa orang pecinta Perguruan Islam Thawalib, dimulai meneruskan kembali dengan langkah pertama melengkapkan Pengurus Yayasan yang terdiri dari Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, Adam Sutan Tjaniago, Mawardi Muhammad, Kamili, Datuk Tumamad dan beberapa pembantu yang lain-lain.
“Maka dibukalah kembali Perguruan Islam Thawalib Padangpanjang dengan murid sebanyak 23 orang, di gedung Thawalib yang sudah rusak berat itu. Dimana kalau hari hujan anak-anak belajar bagai orang berteduh di bawah rumpun betung, amat menyedihkan,” sebutnya.
Ketekunan guru-guru Thawalib di bawah pimpinan Buya Mawardi Muhammad dibantu guru-guru lain yang tidak memandang keuntungan benda (gaji), menjadi modal pertama bagi pembukaan kembali Perguruan Islam Thawalib Padangpanjang. Murid-murid bertambah, dari tempat yang jauh berangsur datang.
Buya Mawardi Muhammad memimpin Perguruan Thawalib sampai tahun 1994 dengan jumlah santri ribuan orang dari seluruh Indonesia. Pada tahun 1989 dibuka pendidikan untuk perempuan dengan nama Thawalib Putri.
“Kemudian 2002/2003 Perguruan Thawalib membuka sekolah Taman Kanak-kanak al-Qur’an dan 2004/2005 didirikan Madrasah Ibtidaiyyah Unggul Terpadu (MIUT) yang memadukan kurikulum Depag dan Diknas disamping mempunyai program unggulan berupa kurikulum asli Thawalib yang ditambah dengan program keterampilan,” pungkas Zulkarnaini. (***) Editor : Novitri Selvia