Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, Sejuta Guru Untuk Pendidikan Indonesia

Novitri Selvia • Selasa, 4 April 2023 | 10:17 WIB
EKSIS: Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, terus eksis menggapai tekad mencetak sejuta guru untuk Indonesia.(IST)
EKSIS: Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, terus eksis menggapai tekad mencetak sejuta guru untuk Indonesia.(IST)
Didirikan tahun 1923 oleh Rahmah El Yunusiyyah, Perguruan Diniyyah Puteri tetap eksis dan menjadi tujuan pendidikan dalam usia genap 99 tahun pada 1 November 2022. Sesuai namanya, sekolah ini dikhususkan untuk kaum perempuan.

INI sesuai dengan cita-cita tinggi Rahmah El Yunusiyyah untuk memajukan keilmuan kaumnya dan keluar dari kebodohan. Sampai hari ini semangat tersebut melekat perguruan itu.

Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Fauziah Fauzan EL Muhammady mengatakan, sosok Bunda Rahmah menilai perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Utamanya dalam keluarga. Karena keluarga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara.

“Perguruan Diniyyah Puteri bertekad mencetak sejuta guru untuk Indonesia. Melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ada, termasuk Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) yang dikenal memiliki banyak keunggulan dibanding lembaga pendidikan sejenis,” ucap Fauziah Fauzan El-Muhammady yang akrab disapa Zizi itu.

Selain mencetak sejuta guru, Diniyyah Puteri juga bertekad mendidik calon-calon teknokrat, dokter, politisi, pengusaha dan ahli yang dibutuhkan untuk menyejahterakan umat manusia.

Untuk mewujudkan impian besar tersebut, Diniyyah Puteri telah melakukan persiapan dengan matang. Diantaranya penerapan QUBA Curriculum, yakni aplikasi kurikulum berbasis Quran, Sunnah, Qalbu, Brain, dan Attitude.

Fasilitas pendukungnya adalah divisi-divisi otonom, studi komparatif yang hingga kini sudah tembus 28 negara, 48 jenis program ekskul, 47 jenis sains dan sarana pendidikan yang cukup. Tekad menciptakan sejuta pendidik untuk Indonesia, juga mendapat dukungan dari Ketua Yayasan Rahmah El-Yunusiyyah.

“Diniyyah Puteri konsisten mendidik calon pendidik tangguh. Program pendidikan kita sudah jelas arah dan tujuannya. Kendati saat ini pesantren bertumbuhan, tapi tetap saja tidak menyamai konsep pendidikan yang dianut Diniyyah Puteri, sesuai cita-cita besar Rahmah El-Yunusiyyah,” tutur Zizi.

Ringkasan Sejarah

Bicara tetang sejarah perjalanan Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang, Zizi mengungkapkan, pondok pesantren khusus puteri yang didirikan Rahmah el-Yunusiyyah ini karena terinspirasi oleh kakaknya Zainuddin Labay el-Yunusy yang telah mendirikan Diniyyah School pada tahun 1915.

Beliau berpendapat bahwa pendidikan bagi perempuan penting, karena perempuan akan menjadi Ibu dan tiang dalam rumah tangga. Ibu yang terdidiklah yang dapat mengasuh anak dengan baik dan dapat melahirkan generasi yang baik pula. Para Ibu yang memiliki mimpi besarlah yang akan melahirkan orang-orang besar pula.

Pada tahap awal, sekolah diberi nama “Almadrasatul Diniyyah” atau Meisjes Diniyyah School yang dipimpin langsung Rahmah el-Yunusiyyah, yang kemudian lebih akrab dipanggil “Kak Amah” oleh murid- muridnya. Sekolah ini belum memiliki gedung sendiri dengan murid sebanyak 71 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan beberapa remaja puteri.

“Pada mulanya karena belum memiliki gedung, proses belajar mengajar dilakukan di Mesjid Pasar Usang (sekarang dikenal dengan Masjid Ashliyah). Murid-murid duduk di atas tikar (belum memiliki bangku, kapur dan papan tulis) menghadap ke guru untuk menerima pelajaran,” terang Zizi.

Pada tahun 1924, Rahmah mendirikan Sekolah Menyesal serupa sekolah Paket A, B dan C, yang ditujukan untuk para ibu rumah tangga yang belum bisa membaca dan menulis baik huruf latin maupun arab.

Pada tahun 1927, timbulah keinginan untuk membangun gedung sendiri dengan dua lantai, terdiri dari 3 lokal di lantai bawah dan lantai atas ruangan lepas untuk asrama. Ruangan baru tersebut ditempati 275 murid dari 350 murid. Sebanyak 75 orang murid tinggal bersama orangtuanya.

Kemudian pada tahun 1936, Rahmah mendirikan sekolah tenun yang bertempat di ruangan bawah asrama. Motivasi Rahmah memberikan pelajaran ini kepada muridnya adalah untuk menanamkan rasa cinta kepada hasil karya sendiri. Karena perempuan harus memiliki pendirian yang sabar, tabah, dan lapang dada dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.

“Seiring berjalannya waktu, perhatian masyarakat untuk menyekolahkan puteri-puteri mereka ke Diniyyah Puteri semakin bertambah. Surat-surat perihal meminta santri Diniyyah Puteri menjadi tenaga pengajar mulai masuk. Akan tetapi Rahmah belum puas dengan ilmu yang diterima santri selama 6 atau 7 tahun. Masih sedikit dan belum memadai untuk menjadi tenaga pendidik. Beliau mendirikan sekolah lanjutan Kulliyatul Mu’allimat El-Islamiyyah dan Darul Kutub demi meningkatkan kualitas calon guru tamatan Diniyyah Puteri,” sebutnya.

Dikatakan Zizi, Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang sekarang menyelenggarakan 5 program pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Tinggi. Jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyyah Menengah Pertama (DMP) yang didirikan 1923 dengan sistem boarding school (berasrama) ditujukan untuk mendidik lulusan sekolah dasar menjadi kader-kader muslimah sejati.

Sedangkan jenjang pendidikan di Kuliyyatul Mu’alimat El Islamiyah (KMI) setara Madrasah Aliyah yang didirikan 1937 adalah untuk menghasilkan kader-kader muslimah yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual sehingga mampu menjadi generasi Islam yang tangguh dengan kepribadian mulia.

Pada tahun 1957 Yayasan Diniyyah Puteri Padangpanjang telah mulai mengembangkan perguruan tinggi guna mencetak calon sarjana dan diploma yang memiliki wawasan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dasar sebagai guru sekolah menengah, staf personalia di berbagai industri trainer dan konsultan pendidikan.

Kemudian pada 1982, didirikan Taman Kanak-kanak Rahmah El Yunusiyyah. Ini adalah pendidikan pra sekolah dengan tujuan membantu mengembangkan potensi yang ada dan menanamkan kepribadian islami sedini mungkin untuk anak usia taman Kanak-kanak.

Demikian juga jenjang Madrasah Ibtidaiyyah Rahmah El Yunusiyyah Padangpanjang adalah salah satu jenjang pendidikan setingkat sekolah dasar melalui sistem pendidikan interaktif yakni pendidikan yang berdasarkan kepada keterpaduan yang utuh antara ilmu pengetahuan umum dan agama akan dapat melahirkan generasi muda dambaan umat.

Output Hebat

Khusus Kulliyatul Mu’allimat El Islamiyah (KMI) yang sudah terakreditasi A itu, dikatakan Zizi, telah menghasilkan lulusan hebat yang mampu melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi bergengsi di dalam dan luar negeri.

Diantaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Instutut Pertaian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Indonesia (UI), Universias Andalas (Unand), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, Al Azhar University Kairo, serta berbagai universitas lain di Timur Tengah.

Setiap tahun Madrasah Aliyah KMI Diniyyah Puteri mendapatkan tawaran PMDK dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, juga ada peluang beasiswa bagi lulusan berprestasi antara lain dari pemerintah pusat (kementerian pendidikan), pemerintah daerah, Al Azhar University Kairo Mesir, Sudan, Jepang, ITS, Universitas Air Langga, UI dan lain-lain.

Selain lulusan KMI, Perguruan Diniyyah Puteri sejak didirikan 99 tahun silam itu tercatat telah melahirkan banyak alumni dari generasi ke generasi. Beberapa diantaranya telah sukses merintis karir dan menjadi figur berpengaruh di sektor publik adalah pada generasi pertama Rasuna Said sebagai pahlawan nasional, dan Tinur M. Nur yang menjadi Penyiar RRI di Yogyakarta tahun 1945, yang merupakan Ibu dari sastrawan Indonesia Taufik Ismail.

Generasi selanjutnya adalah Ibu Aisyah Amini, anggota DPR/MPR pada tahun 1977-1997 yang memimpin politik Hankam selama 10 tahun dan tokoh politik Indonesia bergelar “singa podium”.

Lalu ada Tan Sri Aisha Gani, merupakan Menteri Sosial Malaysia pada tahun 1974-1983 dan ketua wanita Umno Malaysia pada tahun 1972-1984. Dra. Hj. Halimah Syukur pendiri pondok pesantren Diniyyah Puteri Lampung, Dra. Hj. Rosmaini, M.Pd pendiri pondok pesantren Diniyyah al-Azhar Lampung, Ibu Hj. Suryani Taher, Lc. MA pendiri at-Tahiriyah Jakarta.

“Selain itu ada Ibu Emma Yohana anggota DPD RI, dan Ibu Nurhayati Subakat pendiri kosmetik Halal Wardah. Beliau adalah wanita pertama penerima Doktor Honoris Causa dari ITB Bandung. Alumni-alumni lainnya tersebar di berbagai daerah, dinaungi dengan suatu organisasi bernama Ikatan Keluarga Diniyyah (IKD) yang berpusat di Jakarta,” pungkas Zizi. (Wardi Tanjung) Editor : Novitri Selvia
#Rahmah El Yunusiyyah #Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang #QUBA Curriculum #Perguruan Diniyyah Puteri #Fauziah Fauzan El Muhammady