Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

MTI Koto Panjang Lamposi, Sekolah PERTI Sejak 1935: Lahir Libatkan Ulama Besar

Novitri Selvia • Rabu, 5 April 2023 | 10:36 WIB
LINTAS ZAMAN: MTI Koto Panjang Lamposi sudah berdiri sejak tahun 1935.(FAJAR R VESKY/PADEK)
LINTAS ZAMAN: MTI Koto Panjang Lamposi sudah berdiri sejak tahun 1935.(FAJAR R VESKY/PADEK)
Berdiri sejak 1935 silam, MTI Koto Panjang Lamposi, masih bertahan sampai kini. Pernah menjadi markas bagi Laskar Muslimin Indonesia untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Pendiri madrasah ini, Syekh Haji Muchtar Engku Lakuang, meyakini salah satu guru madrasah tersebut, sebagai sosok yang mendekati waliyullah.

BAGI masyarakat Sumbar, khususnya warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), nama Syekh H. Abdul Wahid as-Shalihy Tabek Gadang, Syekh H. Sulaiman Arrasuli Candung, Syekh H. Abdullah Wali Jaho, Syekh H. Abdul Qadim Balubus, dan H. Rusli Abdul Wahid, tentu tidak asing. Mereka adalah ulama besar yang meski sudah tiada, namun tetap dikenang jua.

Kelima ulama besar Minangkabau itu ternyata ikut ambil andil dalam sejarah pendirian Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Koto Panjang Lamposi, Payakumbuh. Sebelum madrasah Perti bernomor induk 41 ini didirikan pada 1935 silam oleh Syekh H Muchtar Engku Lakuang (1913-1978), kelima ulama besar tadi, menghadiri tabligh akbar di Koto Panjang Lamposi.

Sejarah ini diketahui Padang Ekspres dari buku 50 Tahun MTI Koto Panjang Lampasi yang ditulis Drs Nurulhuda, mantan Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta. Adapun buku itu diperoleh Padang Ekspres dari Buya Imam Ranjani Datuak Tunaro, 84 tahun, Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Islamiyah H Muchtar Engku Lakuang.

“Dalam buku ini, ada sejarah pendirian MTI Koto Panjang Lamposi. Meski ada beberapa yang perlu disempurnakan. Namun buku ini masih relevan untuk. Bawalah buat Padang Ekspres,” kata Buya Imam Ranjani Datuak Tunaro yang bersuku Dalimo saat ditemui Padang Ekspres di Rumah Gadang Pitopang milik kaum istrinya di Lamposi Tigo Nagori, Selasa siang (4/3).

Dari buku yang diberikan Buya Imam Ranjani diketahui, tabligh akbar yang digelar di Koto Panjang Lamposi pada 1935 silam, bukan mengumpulkan masyarakat. Namun juga menjadi semacam ’psywar’ dan unjuk kekuatan kepada penjajah Belanda. Saat itu, Belanda yang berkuasa di Sumatera Barat, cukup berhati-hati dengan pengembangan agama dan pendidikan orang-orang pribumi.

Sehingga pemberian izin pendirian madrasah pada saat itu betul-betul diawasi Belanda. Bahkan, izin pendirian MTI Koto Panjang Lamposi yang sudah diberikan oleh Asisten Residen Belanda di Payakumbuh, sempat “ditahan” oleh Asisten Demang setempat karena alasan-alasan tertentu.

Akibat penahanan izin MTI Koto Panjang Lamposi ini, terjadilah unjuk perasaan di tengah masyarakat. Puncaknya, muncul gagasan dari H Abdul Latif, seorang ulama progresif pada zaman itu, untuk menggelar tabligh akbar, dalam menyambut pendirian madrasah. Tabligh akbar yang didukung oleh Kepala Negeri Lamposi saat itu, Djamin Dt Kondo, dihadiri lima ulama besar tadi, bersama sang pendiri MTI Koto Panjang Lamposi, Syekh H Muchtar Engku Lakuang.

Sebenarnya, selain mengundang Syekh H. Abdul Wahid as-Shalihy Tabek Gadang, Syekh H. Sulaiman Arrasuli Candung, Syekh H. Abdullah Wali Jaho, Syekh H. Abdul Qadim Balubus, dan H. Rusli Abdul Wahid, panitia tabligh akbar itu juga mengundang Syekh Abdullah Wali. Namun, ulama ini dicegat Asisten Demang di Payakumbuh dan dilarang menghadiri tabligh akbar tersebut.

Meski begitu, tabligh akbar tetap sukses digelar. Tabligh akbar inilah yang mengawali, pendirian MTI Koto Panjang Lamposi. Awal didirikan, madrasah ini cuma punya tiga lokal belajar yang beratapkan kelapa dan berdinding bambu. Dengan murid pertama 60 orang. Mayoritas dari luar Payakumbuh. Seperti dari Muko-Muko Bengkulu, Tanjuang Alai Solok, dan Bukittingi.

Sedangkan guru di MTI Koto Panjang Lamposi awal didirikan, baru empat orang. Yakni Syekh Haji Muchtar Engku Lakuang selaku pimpinan, Damanhuri Engku Luma, Jaludin dari Solok, dan Engku Akhmad Khatib. Nama terakhir ini diyakini seorang yang sosoknya mendekati waliyullah. Setidaknya, itu pernah diceritakan Syekh H Muchtar Engku Lakuang kepada Buya Imam Ranjani.

“Buya Akhmad Khatib ini, seumuran dengan Buya Engku Lakuang. Sama-sama dari Koto Panjang. Buya Akhmad Khatib mengajar di MTI. Pernah suatu ketika, hujan lebat turun di madrasah. Angin juga  kencang. Buya Akhmad Khatib, melaksanakan sholat. Tapi di atas meja dan menghadapnya ke Timur. Kami tanyakan ke Buya Lokuang, kenapa Buya Akhmad Khatib sholat menghadap ke Timur,” kata Buya Imam Ranjani.

Ternyata, jawaban dari Syekh Muchtar Engku Lakuang cukup mengejutkan. “Buya Lakuang bilang kepada kami, jan kalian ulah (jangan ganggu) Khatib itu. Biarlah,” kata Buya Imam Ranjani. Saat ditanya Padang Ekspres apa maksudnya, Buya Imam Ranjani mengatakan, Buya Engku Lakuang melarang dia dan guru-guru mengganggu Buya Akhmad Khatib. Alasannya, karena Buya Akhmad Khatib mendekati sosok waliyullah.

“Kata Buya Engku Lokuang, Buya Akhmad Khatib itu waliyullah. Ada keistimewaan beliau. Buya Akhmad Khatib memang tidak mengaji bona (tidak banyak mengajar dan tidak banyak berbicara). Tapi, beliau seorang alim (taat beribadah). Itu kelebihannya,” kata Buya Imam Ranjani, saat mengenang guru-guru yang pernah mengajar di MTI Koto Panjang Lamposi.

Pindah Lokasi

Menurut Buya Imam Ranjani, MTI Koto Panjang Lamposi, awalnya bukan berdiri di lokasi sekarang. Tapi di bagian dalam Kotopanjang. Cuma, lokasi pertama sempit dan sulit dikembangkan. Sehingga, pada tahun 1953, diputuskan untuk dipindahkan ke bagian depan. Itulah yang sampai kini menjadi lokasi madrasah.

“Awalnya, madrasah didirikan Buya Engku Lakuang, di bagian dalam Kotopanjang ini. Tepatnya di tanah milik bapak beliau. Kemudian, tahun 1953, baru dipindahkan ke lokasi sekarang. Itu tanah waqaf anggota kaum Salo. Luasnya 5.600 meter. Dan sudah bersertifikat madrasah,” kata Buya Imam Ranjani.

Pada masa kependudukan Jepang di Payakumbuh, MTI Koto Panjang Lamposi, pernah ditutup delapan hari. Tapi, kemudian diizinkan beroperasi lagi. Setelah beroperasi, madrasah ini tak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tapi juga berfungsi sebagai markas Laskar Muslimin Indonesia yang turut berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Pada zaman kepemimpinan Syekh Muchtar Engku Lakuang, MTI Koto Panjang Lamposi, memiliki murid tidak hanya dari Sumatera Barat dan daerah-daerah lainnya di Pulau Sumatera. Tapi, juga ada yang berasal dari Kedah (Malaysia). Setelah Engku Lakuang Wafat pada 19 Juni 1978 dalam usia 65 tahun, MTI Koto Panjang Lamposi oleh Buya Imam Ranjani.

“Syekh Muchtar Engku Lakuang masih jalan mamak (paman) bagi saya. Sebelum wafat, beliau berwasiat,  agar saya tidak meninggalkan MTI. Saya juga diminta untuk pergi ke Jakarta, pergi ke Mekkah, dan ikut melaksanakan suluk. Namun, untuk suluk itu, memang tidak terlaksana bagi saya. Dulu, di MTI juga ada tempat suluk (berkhalwat),” kata Buya Imam Ranjani.

Ulama sepuh itu menyebut, sejak Syekh Muchtar Engku Lakuang tiada, MTI Koto Panjang Lamposi, mengalami pasang surut. Sampai tahun 1980-an, murid-muridnya masih banyak. Sempat mencapai 600-an murid setiap tahun. Namun, sejak 1980-an sampai tahun 2018, jumlah murid menurun. Bahkan, tahun 2018 itu, cuma 45 orang. Untuk tsanawiyah dan aliyah.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, MTI Koto Panjang Lamposi, kembali dilirik masyarakat. Murid-murid, sudah mulai ramai lagi. Kini, di MTI Koto Panjang Lamposi, selain ada jenjang pendidikan Madrasah Tsaniwayah dan Madrasah Aliyah, juga ada Pondok Pesantren. Kemudian, ada pula Madrasah Ibtidaiyah dan Raudhatul Atfhal (RA) untuk anak usia dini.

“Jadi, di MTI Koto Panjang Lamposi, kini ada lima lembaga. Mulai dari tingkat RA, MI, MTS, MA, dan Ponpes. Masing-masing, ada pimpinannanya. Untuk RA dan MI, itu pimpinannya guru yang ditunjuk Kemenag. Untuk MTS, MA, dan Ponpes, pimpinannya ditunjuk yayasan. Jumlah murid keseluruhan, kini sekitar 448 orang. Sudah lumayan banyak,” kata Buya Imam Ranjani.

Buya Imam Ranjang sejak 2019 mulai pensiun mengajar di MTI Koto Panjang. Namun, dia tetap diminta sebagai ketua pembina yayasan. Sedangkan Ketua Yayasan Tarbiyah Islamiyah H Muchtar Engku Lakuang saat ini, adalah Profesor Dr Afrizal M.MA, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru Riau.

Padang Ekspres belum berhasil menghubungi Profesor Dr Afrizal MMA terkait dengan pengembangan MTI Koto Panjang Lamposi ke depannya. Namun, pada November 2022 lalu, Profesor Afrizal pernah mengajak Ustad Abdul Somad untuk tabligh akbar di Lamposi. Selain tausyiyah juga untuk mensosialisasikan MTI Koto Panjang yang telah berdiri sejak tahun 1935 lalu.

“Sekarang meskipun sekolah sedang tersendat di beberapa sektor, kita berupaya agar MTI Koto Panjang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga sekolah ini dapat melahirkan ulama-ulama yang dapat memenuhi kebutuhan ummat dalam semua hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan, keagamaan, dan kehidupan bisa diayomi oleh anak-anak kita,” kata Profesor Afrizal pada saat itu. (Fajar Rillah Vesky)

  Editor : Novitri Selvia
#Buya Imam Ranjani Datuak Tunaro #MTI Koto Panjang Lamposi #Syekh H Muchtar Engku Lakuang #Perti