Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Temuan Baru di Gua Manusia Purba Tertua: Ratusan Gambar Berbentuk Silek Minangkabau

Novitri Selvia • Senin, 18 September 2023 | 10:54 WIB
TOTAL 252: Gambar cadas antropomorfik Gua Lidah Air yang diteliti arkeolog Muhamad Faisal Chair  pada Januari dan Agustus tahun lalu.(IST)
TOTAL 252: Gambar cadas antropomorfik Gua Lidah Air yang diteliti arkeolog Muhamad Faisal Chair pada Januari dan Agustus tahun lalu.(IST)
Masih ingat dengan Gua Lida Ajer? Gua yang diyakini ilmuwan dunia pernah dihuni manusia purba tertua di Asia Tenggara itu ternyata juga dipenuhi ratusan gambar cadas atau lukisan bermotif manusia. Termasuk, lukisan yang bentuknya menyerupai gerakan-gerakan dasar silek (silat) Minangkabau. Seperti apa?

MUHAMMAD Faisal Chair adalah periset di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Pada Agustus 2022, Faisal ditemani mahasiswa Arkeologi Universitas Jambi, melakukan riset di Gua Lida Ajer, Nagari Tungkar, Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

“Riset pada Agustus 2022 adalah riset kedua saya di Gua Lida Ajer atau Gua Lidah Air. Setelah sebelumnya atau Januari 2022, saya ditemani Kepala Jorong Dalam Nagari, Harianto, juga mengunjungi gua yang lebih dikenal penduduk lokal sebagai Ngalau Lidah Ayia tersebut,” kata Faisal Chair kepada Padang Ekspres, Minggu (17/9).

Dari dua kali risetnya, Faisal Chair terpesona. Ternyata, Gua Lida Ajer, menyimpan banyak gambar cadas atau lukisan gua. Totalnya, ada 252 gambar cadas yang ditemukan Faisal. Tersebar diseluruh penjuru gua. Dengan rincian, di bagian timur ada 90 gambar dan barat 101 gambar. Kemudian, bagian selatan 27 gambar dan utara 34 gambar.

Ini lebih banyak dari jumlah lukisan gua yang pernah didapat Dodi Chandra, arkelog Balai Pelestarian Kebudayaan Sumbar. Pada 2017 silam, Dodi juga melakukan observasi di Gua Lida Ajer.

Dia menemukan 72 lukisan gua. Sebanyak 67 lukisan berwarna putih berbentuk manusia prasejarah yang sedang berlari dan mengangkang, serta 5 lukisan berwarna hitam berbentuk manusia menunggangi hewan.

Serupa dengan Dodi, Faisal juga menemukan lukisan gua atau gambar-gambar cadas bermotif antropomorfik di Gua Lida Ajer. Menurut Faisal, gambar bermotif antropomorfik atau menyerupai manusia itu ditemukannya di Gua Lida Ajer dengan jumlah mencapai 25 kelompok gambar berkaitan dengan kegiatan silek. Pada setiap kelompok gambar terdiri dari dua sampai tiga antroporfik yang seolah-olah menyerupai orang berlatih silek (silat) Minangkabau.

“Ada yang memimpin di depan. Ada yang di belakang. Gambar-gambar tersebut amat dinamis. Kalau dimasukkan ke animasi, ada geraknya. Bisa divisualisasikan gambar orang bergerak, bagaluik (bergelut), dan berlatih silat,” kata Faisal Chair yang lahir 4 September 1996 dan berasal dari Dobok, Limokaum, Kabupaten Tanahdatar.

Sesuai kajian desain gambar cadas arkeologis, Faisal melambangkan gambar menyerupai figur manusia di Gua Lida Ajer, dengan dua jenis gerak. Yakni, gerak dinamis dan gerak statis. Untuk gambar gerak dinamis, menurut Faisal, secara morfologi desain gambar, ada kaitannya dengan gerak-gerak pencak silat.

“Hipotesisnya, sebagai orang Minang, tetua-tetua silat dulu, mencari pengalaman spritual ke gua-gua,” kata Faisal. Dari proses itulah, Faisal meyakini, terbuat gambar-gambar cadas di dalam Gua Lida Ajer yang berkaitan dengan gerak, tangkis, garak basamo (gerak bersama), dan berkelahi.

“Semua itu, sangat erat hubungannya dengan silat bela diri Minangkabau yang berdasarkan ilmu spritual. Apa yang saya pelajari di kampung mengenai silek, saya dapati dalam gambar cadas yang ada di dalam Gua Lidah Air,” ujar Faisal.

Temuan Faisal tentang gambar cadas di Gua Lida Ajer, mirip dengan orang bersilat tentu merupakan sesuatu yang baru. Karena selama ini, seperti diakui Faisal, nyaris tidak ada catatan dalam naskah kuno tentang silek Minang.

“Yang kita warisi, kebanyakan tradisi lisan. Nah, gambar cadas di Gua Lida Air, bisa menjadi catatan masa lalu tentang bentuk gerakan silek di Minangkabau,” katanya.

Dia menjelaskan, pola-pola morfologi yang terdapat pada gambar cadas di Gua Lida Ajer, bukan seolah-olah lagi menyerupai gerakan silat. Tapi, memang betul-betul mirip dengan gerakan asli silat. Baik gerakan tangannya, maupun gerakan kakinya.

Bahkan, Faisal yakin, gambar gerak silat di Gua Lida Ajer mirip dengan silek Kumango nan terkenal itu. “Karena saya mempelajari silek Kumango, maka saya tahu persis, gambar cadas di Gua Lida Ajer itu, mirip gerakan dasar dalam silek Kumango,” kata Faisal Chair.

Tidak hanya gerakannya, senjata yang digunakan dalam silat Minangkabau, juga ditemukan Faisal Chair, dalam gambar-gambar cadas di dinding Gua Lida Ajer. Misalnya, gambar tongkat dan ladiang (golok) sebagai bagian atribut antropomorfik.

“Kalau kerambit memang tak ada. Ini kan senjata yang digunakan dalam silek harimau. Saya yakin, gambar-gambar di sana, lebih mendekati silek Kumango,” tekannya.

Meski meyakini gambar-gambar cadas di Gua Lida Ajer, lebih mendekati gerakan silek Kumango. Namun, Faisal tetap menyebut, gambar-gambar berpigmen putih atau berwarna putih di Gua Lidah Ajer tersebut, hampir seluruhnya merupakan dasar-dasar silek Minangkabau atau gerakan-gerakan dasar dalam silat Minangkabau.

Faisal memperkirakan, gambar cadas menyerupai figur manusia yang sedang ditelitinya di Gua Lida Ajer, berusia antara kurang dari 600 tahun. Ini dihubungkan Faisal dengan sejarah perluasan penyebaran Agama Islam di Minangkabau dan ajaran-ajaran silat Minang yang lebih berkaitan dengan Islam.

“Kapan Islam menjadi agama utama di Minangkabau? Kita berpatok saja ke Sumpah Sati Bukit Marapalam yang diperkirakan terjadi pada abad ke-15 yang menandakan peralihan Minangkabau dari Siwa-Buddha menjadi Islam dengan berdirinya Kesultanan Pagaruyung,” ujar Faisal.

Namun, diakui Faisal, gambar cadas di Gua Lida Ajer yang ada sekarang belum dilakukan pengecekan kronologi absolut menggunakan carbon dating mengenai usia gambar cadas di Gua Lidah Ajer.

“Saat ini kita hanya berpatokan kepada sejarah perkembangan Islam paling tua sekitar kurang 600 tahun. Karena, gambar cadas itu, betul-betul mirip dengan gerakan silat. Aliran silat di Minangkabau, lebih berkaitan dengan Islam, ketimbang dipengaruhi zaman Hindu-Budha,” tukuk Faisal.

Lantas, bagaimana cara para tetua dulu atau orang Minang zaman dahulu, membuat gambar cadas atau lukisan gua dengan pigmen putih di Gua Lida Ajer? Perkiraannya, pigmen putih itu ada kaitannya dengan tradisi manyiriah (menyirih) di Minangkabau.

“Kapur sirih itu berasal dari pensi (kerang) yang ditumbuk dan dihaluskan sehingga tercipta pigmen putih. Namun untuk ini harus ada penelitian lebih lanjut. Karena, kalau memang prosesnya mengunakan kapur sirih, tentu ada bahan pelekatnya. Untuk ini, perlu penelitian lanjutan,” ujar Faisal.

Pigmen Hitam

Dia mengakui, selain gambar cadas dengan pigmen putih, di Gua Lida Ajer juga terdapat gambar cadas dengan pigmen hitam. Peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumbar Dodi Chandra pernah meyakini gambar cadas atau lukisan gua berwarna hitam itu lebih tua dibandingkan dengan warna putih.

Akan tetapi, Faisal Chair justru meragukan lukisan gua berwarna hitam, lebih tua dari lukisan gua berwarna putih. “Kalau kita pergi melihat gambar cadas di Sarolangun, Jambi, itu warnanya juga hitam. Kemudian, di Lembah Lenggong, Malaysia, juga ada lukisan gua warna hitam. Usianya terbilang sangat muda dibuat pada abad ke-20. Karena warna hitam pada lukisan juga bisa dibuat dari arang,” kata Faisal Chair.

Meski ada sedikit perbedaan analisa, namun Faisal Chair sepakat, bahwa Gua Lida Ajer adalah aset berharga bagi dunia ilmu pengetahuan. Selain perlu diselamatkan dari kemelut pertanahan dan konflik pertambangan, Gua Lida Ajer juga perlu dijaga dari kerusakan secara biologis. Termasuk, dari ancaman gangguan lumut, rayap, dan paling penting lagi dari bahaya vandalisme (corat-coret oleh manusia).

Menurut Faisal Chair, selain dirinya, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Profesor Cecep Eka Pramana juga melakukan penelitian berkenaan gambar cadas. Salah satunya di Gua Ngalau Tompuak Syohiah, Nagari Situmbuak, Kabupaten Tanahdatar. Nagari Situmbuak ini berbatasan dengan Nagari Tungkar, tempat Gua Lida Ajer berada.

Berbeda dengan Faisal Chair yang menemukan hipotesis spritualisme silat di dalam gambar cadas atau lukisan Gua Lida Ajer. Profesor Cecep memiliki hipotesis yang berkaitan dengan ajaran thariqat naqsabadiyah, dalam gambar cadas yang didapatinya di Gua Ngalau Tompuak Syohiah, Nagari Situmbuak.

“Pakem-pakem dari tarekat naqsabandiyah, menurut Profesor Cecep mirip dengan sosok gambar di Ngalau Tompuak Syohiah. Ini juga dikuatkan dengan kehadiran jamaah tarekat naqsabandiyah ke gua itu pada waktu-waktu tertentu,” terang Faisal.

Hanya saja, menurutny, gambar cadas di Ngalau Tompuah Syohiah itu memiliki bentuk desain antropomorfik yang statis. Tidak menunjukan ada gerakan dinamis. Berbeda dengan gambar di Gua Ngalau Lidah Ajer yang dinamis.

“Gambar di Ngalau Lida Aia ini, setahu yang saya pahami desainnya yang berkaitan dengan morfologi, itu terlihat gerak tanganya dan gerak kakinya. Berkaitan erat dengan gerak dasar silek Minangkabau,” ulas Faisal.

Saat ini, Faisal sedang menunggu hasil penelitiannya tentang gambar cadas di Gua Lida Ajer dimuat jurnal ilmiah dunia. Faisal juga mendorong pentingnya menjaga Gua Lida Ajer sebagai warisan ilmu pengetahuan.

“Insya Allah, Universitas Andalas Padang, akan punya Program Studi Arkeologi. Kalau memang ada kegiatan eskavasi, kita dorong nanti diusahakan ada penggalian di Gua Lida Ajer. Karena memang banyak, hal-hal menarik dari gua ini yang masih perlu untuk dilakukan penelitian susulan,” pungkasnya. (M. FAJAR RILLAH VESKY, Situjuah Limo Nagari) Editor : Novitri Selvia
#Gua Manusia Purba Tertua #Gua Lidah Air #Gua Lida Ajer #Muhamad Faisal Chair #temuan baru #Situjuah Limo Nagari