Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

CAR Tembus 25 Persen, Perbankan Diklaim Solid

j
Penulis: jpg❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi industri perbankan nasional masih cukup kuat menghadapi tekanan global. Termasuk risiko yang muncul akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, hasil stress test yang dilakukan regulator menunjukkan ketahanan modal perbankan nasional masih berada pada level aman untuk menghadapi berbagai skenario tekanan ekonomi global.

“Permodalan perbankan dipandang masih cukup kuat untuk menjadi bantalan mitigasi risiko dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” ujarnya kemarin (17/5).

Advertisement

Per Maret 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 25,09 persen. Angka tersebut dinilai masih jauh di atas ambang batas minimum dan cukup memadai untuk menyerap potensi risiko akibat gejolak global.

Selain permodalan, kualitas kredit perbankan juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 2,14 persen. Sementara pencadangan kerugian kredit (CKPN) dinilai tetap stabil

Menurut Dian, konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga energi global dan tekanan inflasi. Dampaknya bisa merembet ke sektor perbankan melalui peningkatan risiko pasar maupun risiko kredit.

Advertisement

Dari sisi risiko pasar, volatilitas pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat memengaruhi portofolio keuangan bank. Terutama bagi bank yang memiliki eksposur liabilitas valuta asing cukup besar. Sedangkan dari sisi risiko kredit, kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dunia usaha dan menekan kemampuan bayar debitur.

Di sisi lain, OJK juga mencermati tren penurunan net interest margin (NIM) yang diikuti kenaikan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).

Per Maret 2026, NIM tercatat sebesar 4,38 persen, turun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 4,51 persen. Sementara BOPO naik menjadi 86,96 persen dari sebelumnya 85,84 persen.

Namun, regulator menilai kondisi tersebut masih wajar dan sejalan dengan upaya penurunan suku bunga kredit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

LPS sebagai Lembaga Negara: Dilema Antara Checks and Balances dan Intervensi Politik?

LPS sebagai Lembaga Negara: Dilema Antara Checks and Balances dan Intervensi Politik?

LPS dibentuk untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional pascakrisis 1997 melalui sistem penjaminan simpanan dan stabilitas keu

Iran-Israel Saling Tembak Rudal, Harga Minyak Melonjak

Iran-Israel Saling Tembak Rudal, Harga Minyak Melonjak

Konflik Israel dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan udara, memicu ketegangan baru kawasan.

Intervensi BI Belum Mampu Dongkrak Rupiah

Intervensi BI Belum Mampu Dongkrak Rupiah

Rupiah melemah ke Rp17.517 per dolar AS akibat penguatan dolar dan meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah kawasan Selat Hormuz.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer