Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kotorajo, Perkampungan Minangkabau Tempo Dulu: Kampung Si Bungsu di Tikam Samurai

Novitri Selvia • Senin, 25 September 2023 | 10:55 WIB
JEJAK MASA LALU: Situs Batu Sandaran Rajo di Kotorajo, perkampungan Minangkabau tempo dulu.(M. FAJAR RILLAH VESKY/PADANG EKSPRES)
JEJAK MASA LALU: Situs Batu Sandaran Rajo di Kotorajo, perkampungan Minangkabau tempo dulu.(M. FAJAR RILLAH VESKY/PADANG EKSPRES)
Kotorajo adalah perkampungan Minangkabau tempo dulu. Seperti apa perkampungan itu sekarang? Masih adakah rumah gadang yang berdiri di tengah rimba belantara? Masih adakah tinggalan arkeologi berupa stone chair yang disebut penduduk sebagai Batu Sandaran Rajo?

JALAN menuju Kotorajo mulai dipenuhi semak belukar, saat Padang Ekspres mengunjungi kampung itu Sabtu (23/9) lalu. Kotorajo berada dalam wilayah Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.

Kampung ini berada persis di tengah rimba belantara. Dikelilingi bukit-bukit yang masih perawan. Diantaranya, Bukit Kemenyan, Bukit Batu Badorong, Bukit Puncak Aie Lupo, Bukit Batu Simanyi, Bukit Batu Kudo, Bukit Ngalau Lanteh, dan Bukit Kampuang Panjang. Semuanya berada dalam gugusan Bukit Barisan.

“Di Kotorajo, dulunya terdapat rumah gadang (rumah adat Minangkabau). Kemudian, ada pula musajik (masjid), pandam pakuburan (pemakaman umum), dan tapian tampek mandi (pemandian umum) yang sumber airnya bernama Batang Limbago,” kata Syahrul Erman Datuak Parpatiah Nan Sabatang, 64, tokoh adat Kotorajo kepada Padang Ekspres.

Selain dilengkapi rumah gadang yang kini sudah rubuh, Kotorajo dulu kala juga memiliki balai (tempat pertemuan). “Balai tersebut dilengkapi dengan situs Batu Kadudukan Rajo atau Batu Sandaran Rajo, sebagai tempat musyawarah Raja Alam Minangkabau yang datang dari Pagaruyuang (Pagaruyung),” tukuknya.

Sampai sekarang, situs Batu Sandaran Rajo masih terdapat di Kotorajo. Batu-batu itu tersusun seperti layaknya tempat rapat. Jumlahnya tujuh buah. Dua di antaranya masih asli. Sedangkan lima lainnya adalah replika. Batu paling besar yang masih asli, berada di tengah-tengah dan ditumbuhi pohon beringin kecil. Ada cerita menarik tentang pohon beringin ini.

“Dulu, beringin  itu tumbuh besar. Ketika Ustano Basa Pagaruyuang di Tanahdatar terbakar, beringin besar itu dalam waktu bersamaan juga disambar petir yang memercikkan api. Entah kebetulan atau tidak, namun itu fakta yang pernah terjadi,” kata Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh Mawardi Dt Sinaro Nan Paneh, didampingi Kasi Pemerintahan Edilla Deferdo, Kepala Jorong Atas Riswan, dan Kepala Jorong Bawah Rijola Andiko.

Kotorajo memang memiliki banyak cerita unik. Termasuk cerita tentang tanaman lagenaria atau labu botol alias labu cokiak yang tidak pernah bisa berbuah, bila ditanam di kawasan Kotorajo. Ini erat kaitannya dengan legenda Raja Pagaruyung yang berkunjung ke Kotorajo dan tersedak saat minum air putih dalam kendi yang terbuat dari labu botol atau lobo cokiak.

“Konon, spontan saja, raja itu bersumpah, agar tanaman labu cokiak jangan pernah berbuah di Kotorajo. Dan sampai sekarang, sumpah itu seakan berlaku. Bagaimanapun cara dan teknik menanamnya, labu botol alias labu cokiak, tak bisa berbuah di Kotorajo,” kata Erizon Ramli, budayawan di Situjuah Limo Nagari.

Cerita tentang Kotorajo yang punya pertalian dengan Kerajaan Pagaruyung, juga diungkapkan oleh Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Situjuah Ladang Laweh, Drs Suhatril, M.Si. Datuak Rajo Mangkuto,74. Menurut pensiunan dosen Universitas Negeri Padang ini, Raja Pagaruyung yang melawat ke Kotorajo dan bermusyawarah di situs Batu Sandaran Rajo, datang atau turun dari Nagari Sungaipatai, Kabupaten Tanahdatar.

“Dalam tambo (riwayat kuno) Minangkabau, ada ungkapan bajanjang ka Koto Rajo, bapintu ka Sungai Patai (berjenjang ke Koto Rajo,berpintu ke Sungai Patai). Ungkapan ini mengambarkan perjalanan Raja Alam Minangkabau dari Pagaruyuang menuju Luhak Limopuluah (Limapuluh Kota dan Payakumbuh), melewati Nagari Sungaipatai dan Kotorajo di Situjuah Ladang Laweh,” kata Suhatril Datuak Rajo Mangkuto.

Pewaris Kerajaaan Pagaruyung, Prof. Dr. Ir. Raudha Thaib, M.P. yang bernama lengkap Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib, 76, turut membenarkan pertalian Kotorajo di Situjuah Ladang Laweh dengan Pagaruyung. “Kotorajo itu adalah tepatan Pagaruyung sebelum masuk ke Luhak Limopuluah (Payakumbuh dan Limapuluh Kota, red). Dia menjadi tempat yang istimewa karena menjadi tepatan raja. Sebab itu, Kotorajo diberi kebesaran (keagungan),” kata Raudha Thaib kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu.

Selain Kotorajo, menurut Raudha Thaib, ada banyak kampung di Sumatera Barat yang menjadi tepatan raja Pagaruyung. “Ke mana raja berjalan, ada tepatan yang didatangi. Perjalanan itu sudah dimulai sejak abad ke-16 ketika Pagaruyung dipimpin Sultan Ahmadsyah. Memang boleh dikatakan, Kotorajo adalah perkampungan Minangkabau tempo dulu,” kata Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar ini.

Arkeolog dari Universitas Andalas (Unand) Herwandi juga menyebut Kotorajo sebagai salah satu perkampungan Minangkabau tempo dulu. “Kotorajo itu termasuk kampung tua di Minangkabau. Karena di sana, selain dulunya terdapat rumah gadang, juga ada tinggalan arkeologi berupa beberapa buah stone chair (kursi batu) yang disebut penduduk sebagai Batu Sandaran Rajo. Stone chair itu berfungsi sebagai tempat sidang pimpinan kelompok atau suku,” katanya.

Profesor arkeologi satu-satunya yang ada di Unand ini menyebut, peninggalan arkeologi berupa stone chair, biasanya memang hanya ada di kampung-kampung tua di Minangkabau.

“Misalnya, di Tanahdatar, ada sekitar 20-an stone chair yang ditemukan. Kemudian, juga ada di Sawahlunto dan di Limapuluh Kota. Salah satunya di Kotorajo. Kalau dibawa ke sejarah demokratis Minangkabau, kawasan di sekitar stone chair itu dulunya adalah Medan Nan Bapaneh, asal munculnya demokrasi di setiap nagari,” beber Herwandi.

Dalam Novel

Keberadaan Kotorajo sebagai salah satu perkampungan Minangkabau tempoe doeloe diungkapkan pula oleh Makmur Hendrik, 76, penulis novel Tikam Samurai dan Giring-Giring Perak. Dalam novel Tikam Samurai nan terkenal itu, Makmur Hendrik bercerita tentang tokoh Si Bungsu dari Kotorajo, Situjuah Ladang Laweh, yang melalangbuana sampai ke Jepang.

Warga Situjuah Ladang Laweh mengira, tokoh Si Bungsu dalam Tikam Samurai adalah tokoh asli. Ini terjadi karena pada zaman Jepang, memang ada warga Kotorajo bernama Si Bungsu yang dibawa tentara Jepang dan tak pernah kembali pulang. Namun, Makmur Hendrik memastikan Si Bungsu dalam Tikam Samurai adalah imajinasinya sebagai penulis.

“Saya baru tahu, kalau di Kotorajo juga ada warga bernama Si Bungsu yang dibawa tentara Jepang dan tak pernah kembali ke kampungnya,” kata Makmur Hendrik.

Meski begitu, Makmur Hendrik yang merupakan guru besar Perguruan Silat Empat Banding Budi (Pat Ban Bu) dan kini menetap di Pekanbaru, Riau, mengakui, jika dia pernah datang dan bermalam di Kotorajo, Situjuah Ladang Laweh sekitar tahun 1951-1952. Waktu itu, Wakil Presiden  Mohammad Hatta menghadiri peringatan Peristiwa Situjuh 15 Januari 1949 sebagai mata rantai sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949.

“Dua hari sebelum Bung Hatta tiba di Situjuah, saya bermalam di Kotorajo. Kampung ini memang perkampungan tua di Minangkabau. Di Kotorajo, dulu ada rumah gadang dan situs peninggalan zaman Kerajaan Pagaruyung. Jujur saya akui, tokoh Si Bungsu dalam Tikam Samurai itu, memang terinspirasi dari perjalanan saya ke Kotorajo dan diskusi saya dengan wartawan asal Payakumbuh, Yusfik Helmi,” kata Makmur Hendrik.

Sayang, keberadaan Kotorajo yang cukup penting dalam sejarah Minangkabau, mulai terlupakan dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, boleh dibilang, Kotorajo nyaris hilang dari peta peradaban. Untung saja, di negeri ini, masih ada TNI yang tidak hanya bertugas menjaga kedaulatan NKRI, tapi juga bertanggung jawab melestarikan keragaman budaya nusantara.

Melalui program TMMD/N ke-106 tahun 2019 lalu, TNI Angkatan Darat yang bersinergi dengan rakyat dan pemerintah daerah, membuka akses jalan penghubung antara Nagari Situjuah Ladang Laweh dengan Nagari Tungkar. Hanya saja, belakangan ini, jalan tersebut mulai dipenuhi semak belukar. Ke depan ini tentu perlu menjadi perhatian bersama.

Tak hanya jalan ke Kotorajo, jalan sebelum masuk kawasan Kotorajo, yakni Jalan Ujuang Ladang, juga perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Karena jalan yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Situjuah Ladang Laweh tersebut, kondisinya betul-betul sudah rusak parah dan membutuhkan penanganan segera.

Untuk kawasan Kotorajo sendiri, perlu disiapkan pemerintah daerah melalui dinas terkait sebagai perkampungan Minangkabau tempo dulu. Ini diyakini bisa menjadi magnet bagi wisatawan. Apalagi, jika Rumah Gadang yang pernah ada di Kotorajo, dibangun kembali melalui Program Revitalisasi Desa Adat dan Rumah Adat yang terdapat di Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud. Untuk ini, tentu harus ada yang mampu dan berani menyuarakannya. Semoga saja. (M FAJAR RILLAH VESKY—Situjuah Limo Nagari) Editor : Novitri Selvia
#Batu Sandaran Rajo #perkampungan Minangkabau tempo dulu #M Fajar Rillah Vesky #Kadudukan Rajo #Kotorajo #Nagari Situjuah Ladang Laweh