Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hipertensi Remaja: The Silent Killer

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Fitrisia Amelin - Kandidat Doktor Ilmu Biomedik FK Universitas Andalas

Setiap tanggal 17 Mei, dunia merayakan World Hypertension Day. Peringatan ini menjadi bagian dari Hypertension Awareness Month. Tahun ini, tema yang dipilih oleh World Health Organization (WHO) adalah “Controlling hypertension together: Check your blood pressure regularly, defeat the silent killer.” Tema ini mengingatkan kita bahwa hipertensi bukan hanya masalah orang dewasa namun juga mengingatkan bahwa hipertensi dapat terjadi sejak usia remaja. Remaja sering tidak terdeteksi hipertensi karena memang kita belum terbiasa melakukan pemeriksaan tekanan darah anak secara rutin. Padahal sudah direkomendasikan sejak usia 3 tahun, tekanan darah anak diukur minimal 1 kali setahun. Tiba-tiba saat di bangku kuliah atau saat sudah diterima kerja mulai ketahuan dari pemeriksaan medis lengkap. 

Hipertensi disebut The silent killer. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Hipertensi diam diam merusak organ penting seperti jantung, otak, dan ginjal.

Advertisement

Banyak remaja tampak sehat dan aktif. Mereka tidak mengeluh apa pun. Namun, mereka ternyata memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kematian dini di masa depan.

Saat ini gaya hidup modern berkontribusi terhadap peningkatan kejadian hipertensi pada remaja. Remaja kurang melakukan aktivitas fisik, dan duduk terlalu lama di depan gawai. Kebiasaan makan makanan cepat saji melalui pesanan daring termasuk makanan dan minuman kekinian. Semua faktor itu menaikkan tekanan darah pada usia muda.

Beragam jenis makanan kekinian mengandung garam (natrium) yang tinggi seperti keripik berbumbu, mi instan, makanan cepat saji, makanan olahan, sosis, nugget, dan frozen food lainnya. Natrium tinggi membuat tubuh menahan banyak cairan sehingga  cairan berlebih di pembuluh darah akan menaikkan tekanan darah. Selain natrium, cemilan itu biasanya mengandung lemak jenuh dari penggorengan minyak berulang. Ditambah kurangnya konsumsi sayur, lemak jenuh dan serat rendah memperburuk pembuluh darah.

Advertisement

Tidak hanya garam, gula alami dan gula buatan juga perlu diperhatikan. Minuman boba, teh manis kekinian, soda, kopi susu dengan sirup, camilan manis tinggi gula dapat memicu obesitas dan gangguan metabolik. Obesitas menjadi faktor utama hipertensi pada remaja. Berat badan tinggi, lingkar pinggang lebar, meningkatkan risiko tekanan darah naik.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya adalah aktivitas fisik. Sayangnya, banyak remaja sekarang kurang bergerak (sedentary lifestyle). Mereka menghabiskan banyak waktu dengan telepon genggam, komputer, atau permainan daring. Padahal, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 30 menit setiap hari, bersepeda, berenang, atau olahraga rutin dapat menjaga tekanan darah tetap normal. Aktivitas fisik juga meningkatkan kesehatan jantung dan membantu mengontrol berat badan.

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin itu penting. Banyak orang pikir pemeriksaan tekanan darah hanya untuk orang tua. Padahal remaja juga harus periksa tekanan darah, terutama kalau remaja obesitas, punya riwayat keluarga hipertensi, atau kurang olahraga. Pada remaja usia e”13 tahun, hipertensi dianggap ada bila tekanan darah mencapai e”130/80 mmHg. Karena itu, harus melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sebagai bagian dari pemantauan kesehatan remaja seperti  program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tersedia di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan primer.

Program CKG menjadi langkah penting untuk mendeteksi tekanan darah tinggi pada remaja sejak dini, sebelum muncul komplikasi. Jangan tunda. Pemeriksaan rutin memungkinkan remaja dengan faktor risiko mendapatkan edukasi dan penanganan lebih cepat. Jika saat skrining ditemukan tekanan darah tinggi atau dicurigai hipertensi, remaja sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter anak terdekat untuk evaluasi lebih lanjut. Hal penting karena hipertensi pada remaja dapat berhubungan dengan obesitas, gangguan hormonal, penyakit ginjal, atau penyebab sekunder lainnya yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer