Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pilkada Payakumbuh dari Waktu ke Waktu (7): 2002, Pertama Kali Memilih Wako dan Wawako

Novitri Selvia • Senin, 29 April 2024 | 11:56 WIB

Josrizal Zain.(Fajar/Padek)
Josrizal Zain.(Fajar/Padek)
Setelah Wali Kota Payakumbuh yang keenam, Darlis Ilyas tumbang di tengah masa jabatannya, akibat dimakzulkan DPRD dan diberhentikan Mendagri, proses transisi kepemimpinan di Kota Galamai ini pun, berlangsung sengit dan legit.

Tahun 2002, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, digelar Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam satu paket yang sama. Seperti apa, suasana pemilihan pada saat itu?

BULAN April 2002, nama Payakumbuh mendadak ngetop di Indonesia. Menyusul  mosi tak percaya dari DPRD untuk wali kotanya. Konon kabarnya, itulah impeachment pertama di Tanah Air yang dibuat wakil rakyat tingkat daerah buat penguasa.

Setelah impeachment itu bergulir, sang wali kota akhirnya lengser keprabon. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kemudian menunjuk seorang bernama Yulrizal Bahrain, untuk menjadi Pejabat (Pj) Wali Kota yang bertugas menyukseskan pemilihan kepala daerah sekaligus menjaga stabilitas pemerintahan.

Tidak lama berselang, suksesi pemilihan Wali kota Payakumbuh dimulai. Berbagai lapisan masyarakat sibuk menimbang calon yang akan diusung. Dalam kesibukan, DPRD Payakumbuh dibawah pimpinan mendiang H Chin Star menulis surat buat para perantau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga SMA 1 atau kesma).

Dalam surat tersebut, DPRD meminta saran kepada para perantau soal kriteria pemimpin Payakumbuh periode 2002-2007. Begitu dimintai saran, perantau yang bertemu di rumah seorang presiden direktur perusahaan minyak bernama Reza, sepakat, wali kota berikutnya harus bisa berkomunikasi dengan segenap pihak.

Sekaligus jujur dalam perbuatan ataupun tindakan. Usai membuat kesepakatan, muncul pertanyaan siapakah sosok yang bisa mewujudkan kriteria tadi? Cukup lama  jawaban ditemukan.

Hingga akhirnya para perantau, termasuk H Azmi Syahbuddin (saat itu Ketua Bakor Perantau Luak Limopuluah di Jakarta) meminta pria yang saat itu memimpin rapat, agar pulang kampung, sekaligus mencalonkan diri sebagai wali kota.

Pria dimaksud bernama Josrizal Zain. Dia sebelumnya sebagai mualim dan nakhoda kapal. Mendengar bola digulirkan kepadanya, Josrizal Zain kaget bukan kepalang. “Habis, saat itu saya tidak punya pengalaman bidang pemerintahan. Pengetahuan saya dibidang politik saat itu juga nol,” kata Josrizal Zain apa adanya.

Josrizal boleh saja merasa tak punya pengalaman. Tapi dukungan perantau yang tergabung dalam wadah Ikesma Jabodetabek terus mengalir. Bahkan, mereka yang usianya berada dibawah atapun seangkatan dengan Josrizal mulai menggalang dukungan. Pengurus Ikesma pada sejumlah daerah juga di kontak.

Bersamaan dengan itu, sejumlah pengurus-partai politik di Payakumbuh juga menemui Josrizal Zain dan meminta kesediaan pulang kampung. “Mereka berasal dari PPP dan PDI-P. Diantaranya bernama Def. Saya masih ingat. Ada rekan wartawan juga yang ikut menyukseskan saya, yakni Nasril Kenong,” kata Josrizal Zain.

Melihat dukungan yang mengalir, Josrizal Zain  tak dapat mengelak. Walau saat itu istrinya Marina Damayanthi SE yang merupakan pengganti (Alm) Elmar, tidak begitu antusias. Tapi Josrizal menghargai kepercayaan  tokoh di rantau dan kampung. Ujungnya, Josrizal Zain pulang ke Payakumbuh.

Berkenalan dengan sejumlah tokoh politik, tokoh masyarakat dan wartawan. Tak beberapa lama, namanya melambung sebagai bakal calon wali kota. Mengingat saat itu sistem pemilihan sedang masa transisi (tetap dipilih DPRD tapi wali kota tidak sendiri karena harus ada calon wakilnya).

Maka Josrizal Zain dikenalkan dengan seorang birokrat asal Kubang, Kabupaten Limapuluh Kota, bernama Ir H Benny Muchtar MM. Kompetitor Josrizal Zain-Bhenny Muchtar diantaranya adalah Yulrizal Baharin dan Ismed, mantan Kadis PU.

Selain itu, juga ada Letkol Inf Amri Mahmud, putra Lintau berpasangan dengan pengacara Zahirman Zabir. Rupanya, Josrizal bersama Benny Muchtar sedang hoki saat itu. Mereka dipercaya DPRD.

“Kami terpilih sebagai wali kota dan wakil wali Kota Payakumbuh periode 2002-2007. Walau sempat terpisah karena berbagai dinamika, tapi saya tetap menghormati beliau sebagai seorang saudara, sekaligus sosok yang sudah memberi warna bagi Payakumbuh,” kata Josrizal Zain.

Rekam Jejak Josrizal-Benny

Josrizal Zain dan Benny Muchtar dilantik dengan SK bertanggal sama tapi bernomor beda. Josrizal ditetapkan sebagai wali kota melalui SK Mendagri No. 131.23-381 tertanggal 16 September 2002. Sedangkan Benny ditetapkan sebagai wakil wali kota melalui SK Mendagri No. 132.23-382 .

Pelantikan Josrizal Zain-Benny Muchtar berlangsung 23 September 2002. Tidak di gedung DPRD sebagaimana pelantikan wali kota sebelumnya. Melainkan digelar dalam GOR Prof M Yamin, Kubu Gadang.

Pelantikan juga tidak melalui rapat paripurna DPRD, karena mayoritas anggota DPRD sedang mengikuti kunjungan kerja. Namun, Gubernur Sumbar Zainal Bakar hadir dalam pelantikan tersebut.

Semasa Josrizal Zain-Benny Muchtar menjabat sebagai Wali Kota Payakumbuh, Pemko Payakumbuh untuk pertama kalinya mendapat Penghargaan Kota Sehat Tingkat Pembinaan dari pemerintah pusat. Kemudian, Pemko Payakumbuh juga menggagas program KTP dan berobat gratis pada tahun 2006.

Sehingga Josrizal Zain mendapat penghargaaan Prakarsa Pemban gunan Manusia Indonesia (PPMI) dari Presiden SBY pada 10 September 2006. Sedangkan pada tahun 2007, Payakumbuh memperoleh Piala Adipura dan penghargaan Aksara Madya dari Presiden SBY yang diwakili Mendiknas Prof Dr Bambang Sudibyo MBA.

Penghargaan Aksara Madya diberikan karena Payakumbuh pada tahun 2007 dianggap berhasil menghapus buta aksara dan menyukseskan wajib belajar sembilan tahun. Selain menyabet penghargaan aksara, Payakumbuh pada tahun 2007 kembali ditetapkan sebagai kota sehat.

Waktu itu, pemerintah kota melalui Dinas Kesehatan yang dipimpin dr Merry Yuliesday cukup berhasil dalam memfasilitasi masyarakat membuat water closed (wc) Sehingga, Indonesia Sanitasi Sektor Development Program (ISSDP) yang bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjadikan Payakumbuh sebagai pilot proyek atau daerah percontohan program sanitasi dan kota sehat tingkat nasional.

Bersama dengan Payakumbuh juga ada lima kota lain di Indonesia yang dijadikan sebagai daerah percontohan kota sehat pada tahun 2007 itu. Termasuk, Kota Surakarta atau Kota Solo yang semasa itu masih dipimpin oleh Ir. Joko Widodo atau Jokowi.

Dimana, Jokowi dalam perjalanan karirnya, dari Wali Kota Solo, terpilih sebagai Gubernur dan Presiden Indonesia dua periode.
Pemilu 2004

Semasa Josrizal Zain-Benny Muchtar menjadi wako dan Wlwawako, jabatan Sekko Payakumbuh diemban oleh Mahmuda Rivai. Sedangkan jabatan Kapolres Payakumbuh diemban AKBP Hindra Sussfitri yang dalam perjalanan waktu  digantikan AKBP Djoko Erwanto.

Sedangkan jabatan Dandim 0306/50 Kota diemban Letkol Inf Hardi Haryanto yang kemudian digantikan Letkol Inf Fachri. Adapun jabatan Kajari diemban  Syahruddimar yang kemudian digantikanZulbahri Munir dan Muhiddin SH.

Bersama unsur Muspida inilah,  pasangan Josrizal Zain-Benny Muchtar mencoba membangun Payakumbuh dalam kurun 2002-2007. Tentu saja dengan tetap berkordinasi dan bersinergi dengan DPRD Payakumbuh.

Dimana, pada saat Josrizal Zain-Benny Muchtar, DPRD Payakumbuh terdiri dari dua dua periode. Yakni, periode 1999-2004 dipimpin Chin Star dan periode 2004-2009. Adapun DPRD Payakumbuh periode 2004-2009 itu dipilih melalui hasil Pemilu 2004.

Dimana dalam Pemilu 2004 tersebut, Partai Amanat Nasional (PAN) kembali mengulang keberhasilan pada tahun 1999 dengan mendulang suara terbanyak di Payakumbuh. Suara Posisi partai yang didirikan Bapak Reformasi Indonesia Amien Rais tersebut diikuti oleh Partai Golkar, PKS, PBB, PPP, PDI-P, Partai Demokrat, dan disusul sejumlah parpol lainya.

Setelah Pemilu usai digelar dengan lancar dan terkendali, ditetapkanlah  anggota DPRD Payakumbuh periode 2004-2009. Mereka masing-masing adalah H Jendrial, Chandra Setipon, H Nusyirwan, Marhidayandi, Poppy Oktavia, Zuhril Amal (PAN).

Kemudian, Abdul Khair, Asmadi Thaher, H Sudirman Rusma, Mirwan, Roza Irwandi dan Widya (Golkar). Berikutnya, Armi Khalis, Tri Venindra, Wardi Munir, Yohandriwati Syamsu (PKS), Erlindawati dan Nasril Suri (PPP).

Selanjutnya,;Kamrizal, Supardi (PBB), ZA Datuak Tuluh (PDI-P) dan Syukri Najar (Partai Demorat). Hasil pemilihan, terpilihlah Haji Jendrial sebagai Ketua DPRD, H Abdul Khair sebagai Wakil Ketua DPRD, dan H Asmadi Thaher sebagai Wakil Ketua DPRD.

Dalam perjalanan kemudian, DPRD Payakumbuh mengalami perubahan anggota. Dua kader PAN harus mengikuti Pergantian Antar Waktu (PAW) sebagai konsensus dari kesepakatan suara terbanyak di internal PAN.

Mereka adalah Poppy Oktavia yang digantikan oleh Hurisna Jamhur, dan Zuhril Amar yang digantikan oleh Syukri Yusuf. Selain dua kader PAN, kader Golkar Widya Chin Star juga di-PAW.  Begitupula dengan kader Partai Demokrat Syukri Najar. (M. FAJAR RILLAH VESKYWartawan, Padang Ekspres)

Editor : Novitri Selvia
#josrizal zain #Darlis Ilyas #DPRD Payakumbuh #Pilkada Payakumbuh