Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Geliat Kota Padangpanjang Pascabanjir Bandang, Kota Wisata Kuliner Itu seperti Kota Mati

Yuwardi Tanjung • Rabu, 22 Mei 2024 | 12:25 WIB

IMBAS BENCANA ALAM: Pasar kuliner Padangpanjang sekitar pukul 18.00 kemarin, terlihat lengang dari pengunjung. (YUWARDI/PADEK)
IMBAS BENCANA ALAM: Pasar kuliner Padangpanjang sekitar pukul 18.00 kemarin, terlihat lengang dari pengunjung. (YUWARDI/PADEK)
Bencana banjir bandang 11 Mei lalu tidak hanya meluluhlantakkan infrastruktur di Sumbar. Namun juga berdampak hebat terhadap perputaran ekonomi di berbagai daerah. Termasuk Kota Padangpanjang yang merupakan kota wisata kuliner. Bagaimana kondisinya?

BERADA di simpul akses lalu lintas angkutan barang, umum dan kendaraan pribadi dari pusat ibukota Sumbar (Padang) menuju Pasaman, Bukittinggi, Payakumbuh dan Tanahdatar atau sebaliknya, Kota Padangpanjang selalu ramai dan identik dengan kemacetan.

Bukan hanya sekadar menjadi jalur tujuan ke berbagai daerah, Padangpanjang juga telah menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Baik wisata alam, budaya, religi dan pendidikan, namun juga sangat dikenal dengan wisata kuliner yang menjadi magnet tingkat kunjungan orang luar membelanjakan uang di kota berjuluk Serambi Mekah itu.

Namun geliat sektor perekonomian tersebut saat ini terlihat memiriskan. Diawali peristiwa erupsi Gunung Marapi yang masih terus terjadi hingga saat sejak awal Desember 2023 lalu, tidak sedikit sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengalami kerugian.

Terutama pascabanjir bandang yang terjadi pada Sabtu (11/5) malam lalu, menjadi titik nadir kritisnya ekonomi masyarakat pelaku usaha di Padangpanjang. Objek-objek wisata tidak ada kunjungan, rumah makan, cafe, restoran dan bofet banyak yang tidak beroperasi.

Hanya sejumlah saja masih terus beraktivitas mengharapkan penghuni kota sebagai pembeli, termasuk Pasar Kuliner yang tidak lagi sesak pengunjung dan hilir mudik kendaraan.

Banjir bandang yang memutus total jalan lintas utama Padang-Bukittinggi di kawasan Lembah Anai tersebut, berimbas total terhadap pedagang seperti komunitas asongan, ikonik kuliner Sate Mak Syukur, Katupek Pitalah Silaiang, Rumah Makan Pak Datuk dan banyak lainnya.

Kota Wisata Kuliner itu, hampir seperti kota mati, sepi sejak siang hingga malam. Jalanan sepi kendaraan, usaha kuliner lebih diramaikan karyawannya.

Sondri, 36, pedagang pergedel jagung yang merupakan cemilan khas kota sejuk mengaku semua rekan-rekan yang bermata pencarian dari berdagang asongan di Lembah Anai kehilangan pemasukan. Bahkan kondisi tersebut diperparah setelah akses Padangpanjang-Batusangkar juga sempat mengalai putus total beberapa waktu lalu.

“Mau berkata apa. Kami hanya mengandalkan akses lalu lintas angkutan umum dan kendaraan pribadi yang melitasi Lembah Anai. Pascabanjir bandang, semua terhenti dan kami harus kehilangan mata pencarian. Sedihnya lagi, bulan ini banyak libur panjang yang biasanya kendaraan ramai dan pendapatan kami bisa sepekannya mencapai Rp5-7 juta,” ungkap Sondri sembari berharap pemerintah segera membuka akses jalan utama tersebut.

Sate Mak Syukur (SMS), salah satu kuliner terkenal ke seantoro nusantara bahkan mancanegara itu tidak beroperasi sejak hari H peristiwa banjir bandang memutus akses jalan utama Padangpanjang-Padang. Terhentinya aktivitas SMS, juga memiliki rantai dampak terhadap ekonomi pedagang lainnya seperti daging dan ketupat yang merupakan bahan utama kuliner tersebut.

Oyong selaku pengelola SMS menyebutkan, putus totalnya akses jalan tersebut diperkirakan menghantam perekonomian Padangpanjang hingga 80-90 persen. Khususnya SMS sejauh ini sebagai pembeli terbanyak itu merupakan orang luar yang melintasi kota kecil itu, dan hanya 20 persen paling banyak dari dalam kota seperti pegawai negeri dan masyarakat lokal.

“Jika melihat kondisinya seperti, pimpinan memilih untuk tidak berjualan dulu karena sudah diyakini tidak akan dapat menutupi biaya operasoinal. Dengan begitu, banyak pedagang lainnya jadi turut terimbas, seperti pedagang daging, bumbu dan kebutuhan lainnya,” tutur Oyong yang setiap hari biasanya bisa 500-700 porsi dengan daging setidaknya 70 kilogram.

Hal yang sama juga dialami kuliner khas Padangpanjang, Katupek Pitalah di Silaiang ini merupakan tujuan sarapan masyarakat yang melintasi kota sejuk itu. Eri selaku pemilik bofet sarapan pagi favorit ini menyebut saat sejak pascabencana, terjadi penurunan daya jual beli hingga 90 persen.

“Jika sebelumnya bisa sampai 300 porsi mulai buka pukul 07.00 WIB hingga 11.00 WIB, setelah jalan putus di Lembah Anai, paling bisa habis hanya 30 porsi. Baik ketupat, soto, maupun menu lainnya seperti bubur,” sebut Eri karena saat ini hanya mengandalkan warga lokal.

Kondisi miris juga dirasakan pedagang di Pasar Kuliner. Salah satunya Warung Ampera Tanpa Nama H Ryan. Selain banyak pedagang memilih tutup karena sepi pembeli, warung nasi yang populer ini tetap bertahan berjualan sekadar untuk menjaga pelanggan.

“Hampir semua usaha perdagangan di Padangpanjang terimbas dampak bencana banjir bandang dan putusnya akses jalan di Lembah Anai. Termasuk kami, daya jual setiap harinya lebih kurang hanya 30 persen dibanding biasanya,” beber salah seorang karyawan Ampera Tanpa Nama, Paul melalui selularnya. (WARDI TANJUNG—Padangpanjang)

Editor : Novitri Selvia
#wisata kuliner #Pascabanjir Bandang #Sate Mak Syukur #kota mati #Geliat Kota Padangpanjang #Pasar Kuliner Padangpanjang