Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Peringatan Lima Tahun WTBOS sebagai Warisan Dunia dalam Galanggang Arang, Dekolonialisasi dan Ruang Kreatif yang Menjanjikan

Ganda Cipta • Selasa, 9 Juli 2024 | 10:41 WIB
GANDACIPTA PADANG EKSPERS
GANDACIPTA PADANG EKSPERS

PADEK.JAWAPOS.COM-Peringatan Lima Tahun WTBOS sebagai Warisan Dunia dalam Galanggang Arang Dekolonialisasi dan Ruang Kreatif yang Menjanjikan Sawahlunto, kota kecil di pedalaman Sumatera. Kota yang hidup dengan beragam kultur dari beberapa suku bangsa. Keberagaman tersebut dihadirkan lewat sejumlah pertunjukan di lokus ketiga Galanggang Arang 2024, Sabtu (6/7) lalu.

PULUHAN seniman musik secara hampir bersamaan naik ke sebuah pentas di tengah-tengah komplek Museum Goedang Ransoem, Kota Sawahlunto, Sabtu malam lalu itu. Mereka adalah seniman tradisi dari komunitas musik etnik di Sawahlunto. Antara lain Subur Budoyo, Bina Satria, Alang Babega, Bima Sakti, Ngalau Nan Sati, Nusa Indah, Tapian Janiah/Sasian Tapian Janiah dan Cemeti.

Kehadiran musisi tradisi diperkuat musisi kontemporer yang telah malang-melintang di berbagai panggung nasional juga dunia. Yakni Taufik Adam, Gilang Ramadhan, serta Miho dan Katsu dari Jepang. Jam session dari puluhan musisi itu menampilkan sebuah karya kolaboratif. Sebuah karya yang coba mencari kesamaan dari keragaman budaya musik yang ada di antara pelaku kolaborasi. Bagaimana karakter musik gendang, gamelan, talempong dan tetabuhan lainnya bersinergi membentuk sebuah orkestra musikal yang sangat dinamis.

Hasilnya, warna lokal Sawahlunto dengan karakter multikulturalnya. Begitulah Sawahlunto Rhythm memuncaki Galanggang Arang lokus ketiga dari delapan lokus tahun ini.
Semangat keberagaman dan kebersamaan multikulutural tersebut sejatinya juga sudah hadir sejak awal. Dimulai lewat tari kreasi Ronggeng Sayuik. Sebuah koreografi yang terinspirasi dari kehidupan masa lalu di Sawahlunto.

Tepatnya saat kolonial Belanda berkuasa dan mengeruk batubara dari perut bumi daerah tersebut dengan para pekerja kontrak dan dan “orang rantai”. Pertunjukan ronggeng adalah satu kegiatan hiburan yang ditunggu-tunggu para pekerja tambang. Namun kegiatan ini dihentikan penguasa Belanda, karena momen tersebut sering digunakan para pekerja, terutama “orang rantai” untuk melarikan diri. Setelah itu berlanjut kepada penampilan Miho dan Katsu.

Dua musisi Jepang ini mengekspresikan kebebasan dalam bermain musik. Mereka tampil dengan sejumlah karya yang salah satunya khusus dibuat untuk Kota Sawahlunto.
Sedangkan seniman multiinstrumen Taufik Adam memainkan tiga karya musik. Dua di antaranya adalah Three Kontinental, sebuah karya kolaboratif dengan Bernhard Batchelet dari Swiss dan Ndombemba Kanoute dari Sinegal.

Digelar sejak, Rabu (3/7), event aktivasi dari Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) di Kota Arang tersebut sedari awal memang kuat dengan sajian-sajian multikuluturnya. Salah satunya terlihat pada pameran foto bertajuk Melihat WTBOS dari Lensa Anak Muda Sawahlunto. Ada sekitar 20 foto dari sembilan fotografer yang terpajang di salah satu ruangan di komplek Museum Goedang Ransoem tersebut.

Selain melihatkan momen-momen seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat, juga dihadirkan objek-objek bersejarah yang menjadi bagian dari WTBOS. Termasuk juga beberapa spot ikonik Kota Sawahlunto. “Sembilan fotografer yang notabene sebagian besar berasal dan berdomisili di Sawahlunto, seluruhnya bersepakat melakukan pendekatan etnofotografi dalam pameran fotografi ini,” kata salah seorang kurator Galanggang Arang Mahatma Muhammad.

Melalui pendekatan etnofotografi ini, ingin menyajikan kehidupan sehari-hari masyarakat Sawahlunto beradaptasi dengan kondisi yang ada. Sebab, foto-foto yang dipamerkan, terang Atma, menangkap momen-momen kecil namun penuh makna, seperti aktivitas harian di pemukiman warga pekerja tambang, interaksi sosial di antara berbagai komunitas etnis, dan cara-cara masyarakat lokal mempertahankan budaya mereka di tengah pengaruh kolonial yang telah menahun.

“Pendekatan etnografi dalam pameran ini juga membantu untuk memahami dampak jangka panjang dari kolonialisme dan bagaimana kita dapat mendekolonialisasi narasi sejarah tersebut,” terangnya.

Upaya untuk dekolonialisasi juga tampak dan menjadi proses penting dalam memahami dan mereinterpretasi warisan kolonial pada pameran. “Ini bukan tentang upaya menghapus jejak-jejak kolonial, tetapi lebih kepada memberikan makna baru yang lebih inklusif dan adil,” paparnya.

Dalam konteks Sawahlunto, dekolonialisasi berarti mengakui dan menghargai kontribusi dari masyarakat lokal dan generasi keturunan pekerja tambang yang selama ini seringkali terabaikan dalam narasi sejarah. “Pameran ini berupaya untuk menghadirkan suara-suara mereka yang selama ini tenggelam oleh dominasi kolonial,” tukasnya.

Potensi Besar Ruang Publik

Penyelenggaraan Galanggang Arang di Kota Sawahlunto kali ini bertepatan dengan lima tahun WTBOS menjadi Warisan Dunia, setelah ditetapkan UNESCO pada 6 Juli 2019. Sebagaimana diketahui, banyak ruang-ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan yang ada di sekitar objek WTBOS tersebut. Apalagi, WTBOS tidak hanya berada di Sawahlunto tapi juga di Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanahdatar, Kota Padangpanjang, Kabupaten Padang pariaman, dan Kota Padang.

Koordinator Kurator Galanggang Arang Edy Utama mengatakan, keberadaan objek-objek WTBOS tersebut, merupakan potensi besar untuk menghadirkan ruang-ruang publik baru untuk pemajuan dan pengembangan kebudayaan. Di antaranya adalah PLTU Salak, Taman Silo, dan, yang pada Galanggang Arang kali ini dimanfaatkan sebagai venue pertunjukan. “Ini adalah sebuah potensi besar untuk berkembang. Sebagai sebuah situs cagar budaya yang penting dalam sejarah Warisan Budaya Dunia dari Kota Sawahlunto,” sebutnya.

Ruang-ruang publik ini, menurut dia, dapat dimanfaatkan untuk mengekspresikan dan mencari berbagai kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kebudayaan ke depan. “Ini ruang-ruang publik yang bisa menjanjikan berbagai kemungkinan kreatif bagi berbagai kegiatan seni dan budaya,” tukasnya. (GANDA CIPTA — Sawahlunto)

Editor : Novitri Selvia
#mahatma muhammad #UNESCO 2019 #warisan dunia #WTBOS #dekolonialisasi #Galanggang Arang #ruang publik #ganda cipta