Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bunda Sungayang: Penjaga Tradisi yang Tersisih oleh Zaman

Shyntia Aprizani • Jumat, 10 Januari 2025 | 20:42 WIB

Bunda Sungayang
Bunda Sungayang
Di tengah teriknya matahari menusuk kulit, Seorang wanita paruh baya datang dengan penuh senyum. Sembari memperbaiki Tingkuluak Tanduak yang ia pakai. Ia adalah Bunda Sungayang. Usianya telah menua, tetapi semangatnya tak pernah padam. Setiap hari, ia keluar rumah dengan anggun mengenakan baju kurung Minangkabau dengan motif kotak-kotak khas tahun 70-an. Bajunya dijahit sendiri, hasil tangannya yang terampil dan penuh cinta pada tradisi.

Shyntia Aprizani, Jurnalis

Bunda Sungayang bukan sekadar wanita biasa. Di masa remajanya, ketika teman-teman sebayanya sibuk mengagumi hal-hal baru dari luar, ia sudah memikirkan nasib budaya leluhurnya. Ia khawatir baju kurung Minangkabau—simbol keanggunan dan keindahan gadis Minang—akan terlupakan.

Sejak saat itu, ia bersumpah dalam hati untuk menjaga agar tradisi ini tetap hidup, meskipun zaman terus berubah.

Bunda Sungayang mendirikan sebuah tempat kerajinan di desa Sungayang. Ia mengajarkan seni menenun kain dan menganyam kepada siapa saja yang ingin belajar. Tempat itu menjadi saksi dedikasinya. Namun, di tengah gempuran modernitas, sedikit sekali yang peduli.

Orang-orang mulai menganggap Bunda sebagai seseorang yang aneh. "Mengapa ia masih memakai baju seperti itu? Bukankah lebih baik mengikuti tren zaman sekarang?" gumam beberapa orang.

Hari-hari Bunda dihabiskan di sudut tempat kerajinannya. Ia duduk di depan alat tenun, tangannya lihai merangkai benang menjadi kain indah. Namun, ada kesedihan di matanya.

Setiap kali ia berjalan di desa, anak-anak kecil menertawakannya, sementara orang dewasa memandangnya dengan tatapan kasihan. Bahkan, tak jarang ia mendengar bisikan:
"Bunda Sungayang itu gila. Siapa lagi di zaman sekarang yang berpakaian soal baju kurung?"

Di malam hari, ketika suasana sepi, Bunda Sungayang kerap duduk di beranda rumahnya, menatap bulan. Ia berbicara kepada dirinya sendiri, mengenang masa-masa ketika orang-orang bangga mengenakan baju kurung Minangkabau. Air matanya mengalir, membasahi pipinya yang keriput. Ia bertanya kepada angin malam.

"Apakah salah jika aku ingin melestarikan warisan leluhurku? Apakah aku benar-benar gila karena mencintai tradisi ini?"

Namun, di balik kepiluan itu, Bunda tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa apa yang dilakukannya bukanlah sia-sia. Ia yakin suatu hari nanti, akan ada generasi yang memahami nilai dari apa yang telah ia jaga. Setiap kain yang ia tenun, setiap baju kurung yang ia jahit, adalah sebuah harapan yang ia titipkan pada masa depan.

Dan benar, harapannya perlahan mulai terwujud. Suatu hari, seorang gadis muda dari kota datang ke tempat kerajinan Bunda. Dengan penuh kekaguman, gadis itu berkata, "Bunda, aku ingin belajar menenun. Aku ingin tahu bagaimana cara menjahit baju kurung seperti yang Bunda pakai."

Mata Bunda Sungayang berbinar. Meski hanya seorang, kedatangan gadis itu adalah awal dari harapan baru. Ia tersenyum dan menjawab, "Mari, Nak. Aku akan mengajarkanmu, agar tradisi ini tetap hidup."

Di kecil desa Sungayang, Bunda Sungayang terus menenun, tidak hanya kain, tetapi juga mimpi-mimpi tentang tradisi yang takkan pernah padam. Meski dunia menganggapnya gila, ia adalah penjaga kebudayaan yang sesungguhnya, seorang pahlawan dalam diam.

Namun, di tengah pembicaraannya dengan awak media. Tangisan pilunya tak henti mengalir. Ia berharap adanya sokongan dari pemerintah untuk tetap mendukungnya menghidupkan budaya yang hampir padam.

“Kita sangat berharap pemerintah bisa membantu kita. Ini adalah bentuk penjagaan kebudayaan kita,” tutupnya dengan mata berkaca. (***)

Editor : Hendra Efison
#Bunda Sungayang #Penjaga Tradisi yang Tersisih oleh Zaman #Shyntia Aprizani #Tenunan #Menenun #Baju Kurung Basiba