Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perjuangan Prof Yulia Hendri Yeni Meraih Gelar Guru Besar Unand, Digerogoti Kanker Tulang tak Patahkan Semangatnya

Rommy Delfiano • Rabu, 19 Februari 2025 | 14:56 WIB

BERSAHAJA: Prof Yulia Hendri Yeni ketika berbincang dengan Padang Ekspres di Departemen Manajemen FEB Unand, Kampus Limaumanih Padang, kemarin (17/2).(ROMI DELFIANO/PADEK)
BERSAHAJA: Prof Yulia Hendri Yeni ketika berbincang dengan Padang Ekspres di Departemen Manajemen FEB Unand, Kampus Limaumanih Padang, kemarin (17/2).(ROMI DELFIANO/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Sempat down divonis terjangkit kanker tulang. Namun, Prof Dr Yulia Hendri Yeni SE MT Ak berhasil bangkit dari keterpurukan. Hari ini (18/2), kerja kerasnya itu terbayarkan.

Bersama sembilan koleganya sesama dosen Unand, Prof Yulia dikukuhkan menjadi Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Pemasaran Strategik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand.

“SAYA ingin menyenangkan kedua orangtua, terutama ibu sampai saat ini masih diberi kesehatan,” tutur Yeni—begitu panggilan akrabnya kepada Padang Ekspres di Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unand, Kampus Limaumanih Padang, kemarin (17/2).

Mantan Ketua LP3M Unand ini diketahui mengidap Kondrosarkoma sejak tahun 2016 lalu. Sekadar diketahui, Kondrosarkoma merupakan kanker tulang ganas yang berasal dari tulang rawan.

Kanker ini termasuk kanker tulang kedua paling ganas. Awal-awal divonis kanker tulang, Yeni down. Bahkan, sang dokter menyebutkan dirinya tidak bisa ngapa-ngapaian lagi.

Tak sedikit pula, beberapa koleganya menyarankan rehat dulu. Termasuk, meninggalkan jabatannya sebagai ketua LP3M Unand.

“Namun, hati kecil saya melawan. Saya ingin membuktikan, saya bisa. Terlebih, waktu itu tidak terasa terlalu sakit. Cuma, badan terasa sering capek,” ujar putri sulung (alm) Hasrul Kahar dan Dahnizar Hasrul ini.

Setelah menghimpun masukan kerabatnya, Yeni akhirnya menjalani operasi di RSCM Jakarta tahun 2017. Operasi ini memakan waktu cukup lama. Mulai pukul 07.30 sampai 20.30.

Mujurnya, tim dokter yang ikut mengoperasi Yeni terbilang sangat peduli. Bahkan, sampai sekarang perkembangan kesehatannya tetap dipantau.

“Akibat kanker ini, kaki kiri sulit digerakkan karena pin titanium dipasang sewaktu operasi sampai sekarang,” ujar Yeni.

Akibatnya, ruang gerak Yeni pun serba terbatas. Bahkan, awal-awal dia kesulitan mengemudi mobil, termasuk naik jenjang. Namun, Yeni tidak menyerah dengan keterbatasannya.

Terapi jangka panjang pun dijalaninya. Kini, Yeni sudah bisa menaiki jenjang. Begitu pula, mengendarai mobil matic walaupun dengan cara tak normal.

“Keterbatasan itu tidak untuk diratapi, tapi harus dicoba. Saya yakin, tidak ada yang tidak bisa tanpa seizin Allah SWT,” ujar Yeni yang juga pernah memimpin Universitas Dharma Andalas (Unidha) itu.

Baca Juga: UPTD SD Negeri 01 Sungaikamuyang, Bangun Karakter lewat Persami Pramuka

Mujurnya, Yeni didukung penuh orang-orang terdekatnya. Bukan hanya dorongan cepat sembuh, namun juga mengejar gelar guru besar.

Dia ingat betul, salah seorang koleganya pernah menasihatinya, “Cepat lah raih gelar profesor Yen. Kan bukan tergantung kaki, tapi pikiran,” ingat Yeni.

Diakui Yeni, bukan pekerjaan mudah bagi dirinya memenuhi persyaratan menjadi guru besar. Bukan akibat keterbatasan pisiknya saja, namun juga background keilmuannya. Soalnya, Yeni backg round keilmuwannya Akuntansi.

“Awalnya, saya memang dosen Akuntansi (S-1 Akuntansi). Namun, katertarikan saya terhadap pemasaran waralaba waktu itu, membuat saya lebih tertarik menekuni manajemen. Jadinya, S-2 dan S-3 saya berkaitan dengan manajemen,” aku Yeni.

Sempat tidak disetujui pimpinan pindah departemen, akhirnya tahun 2020 dia diizinkan pindah ke Departemen Manajemen. Sejak itulah, Yeni mengebut persiapan menjadi guru besar.

Menurut dia, dia memperoleh SK guru besar setelah pengajuan ketiga. “Alhamdulillah, perjuangan keras selama ini berbuah menjadi guru besar. Saya ingin menjadi motivator orang-orang mengidap penyakit kanker,” ujar dia.

Dekan FEB Unand Dr Fery Andrianus SE MSi mengenal Yeni sosok pekerja keras dan tidak gampang menyerah. “Harusnya, kita banyak belajar kepada beliau. Keterbatasan bukan untuk melemahkan, tapi menguatkan kita,” ujar dia. (ROMMI DELFIANO
—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Guru Besar Unand #kanker tulang #Prof Yulia Hendri Yeni #unand