PADEK.JAWAPOS.COM-Di sebuah jorong yang terletak di antara indahnya alam Koto Marapak, Kecamatan Ampekangkek Kabupaten Agam, ada sebuah cerita lama yang mengalir dari mulut ke mulut. Cerita yang tak lekang oleh waktu, tentang sebuah musajik yang kini dikenal dengan nama Musajik Usang.
Usang, ya, meski begitu kondisinya. Namun di balik keusangannya itu, ia tetap berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah umat, dan memegang erat jejak-jejak budaya yang tak ternilai harganya. Pada awalnya, Musajik Usang bukan sekadar bangunan.
Ia adalah harapan, cermin persatuan, dan simbol gotong royong. Seperti yang diceritakan oleh orang-orang tua di Koto Marapak, di balik berdirinya musajik ini ada semangat dari tujuh surau yang bertekad untuk mendirikan sebuah tempat ibadah yang mampu menghimpun masyarakat.
Dengan niat yang tulus dan kerja keras, mereka mencari lokasi yang pas, yang menurut pepatah kuno. Maukua Samo Panjang, Mambilai Samo LawehKa Mudiak Indak Senteng, Ka Hilia Indak Mauleh( (Artinya: Mengukur sama panjang, menambah sama luas, ke hilir tak kurang panjang, ke mudik tak berlebih).
Akhirnya, sebuah tanah yang terletak di tengah-tengah kampung, di tanah Kaum Datuak Marajo dan Datuak Majo Lelo di Simabua Kayu, dipilih sebagai lokasi yang tepat. Di sanalah, sekitar tahun 1896, mulai dibangun Musajik Usang.
Hal ini selaras dengan cerita salah seorang ketua kampung, Yulidar (72) mengatakan Melalui gotong royong, masyarakat menyumbangkan tenaga dan kayu dari kaki Gunung Marapi.
Kayu-kayu tersebut dipilih dengan hati-hati, dipotong dan dibawa dengan penuh semangat, untuk menjadi tonggak kokoh tempat beribadah.
Seiring berjalannya waktu, atap ijuk yang dulu membalutnya diganti dengan seng, sementara ukiran kayu Minang yang khas menghiasi setiap detailnya. Pada tahun 1926, pendopo mesjid pun dibangun, menambah keindahan dan kemegahan Musajik Usang.
Di bawah pendopo, terdapat sebuah kolam kecil, tempat untuk mencuci kaki sebelum masuk ke dalam mesjid. Di sampingnya, ada kolam yang lebih luas yang digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari.
“Tak hanya tempat ibadah, Musajik Usang juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, termasuk Madrasah Ibtadaiah yang kini telah berganti menjadi Madrasah Diniyah Awwaliyah Takmiliyah (MDTA), tempat para generasi penerus belajar dan mendalami agama,” jelasnya.
Meski kini, mesjid ini tidak lagi digunakan untuk ibadah seperti dahulu, namun daya tariknya tetaplah abadi. Bangunan kokoh dengan tonggak kayu yang masih tegak berdiri menjadi simbol budaya yang harus dilestarikan. Sebuah warisan yang tak boleh pudar begitu saja.
Masyarakat Koto Marapak kini memiliki niat besar untuk menghidupkan kembali Musajik Usang. Dengan semangat pelestarian, mereka ingin menjadikan Musajik Usang sebagai pusat kegiatan keagamaan, tempat Tahfiz Al Quran, dan juga sebagai ikon wisata religi dan budaya.
Sebuah gerakan untuk kembali ke surau, menghidupkan kembali nilai-nilai keagamaan, serta menjaga warisan budaya yang telah berdiri lebih dari satu abad lamanya.
“Kini sudah mulai kembali, masjid ini bukti sejarah masyarakat dan sudah dipakai sejak adanya gotong royong warga beberap waktu lalu,” jabarnya. (shy)
Editor : Novitri Selvia