Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Assikolaki Nak Mancaji Tau: Petuah Ayah yang Mengantarkan Nasaruddin Umar Menjadi Menteri Agama

Hendra Efison • Rabu, 9 April 2025 | 07:11 WIB

Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah debu jalanan Ujung Bone, Sulawesi Selatan, tak ada yang menyangka seorang bocah yang pernah bercita-cita menjadi mantri, kini menapaki karpet merah istana sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Dialah Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, sosok kharismatik yang kini memimpin urusan keagamaan negeri ini, membawa serta kisah masa kecil yang bersahaja namun sarat makna.

Di balik retorika menyejukkan dan jubah keulamaan, tersimpan sosok anak desa yang dibesarkan dalam kerasnya perjuangan hidup.

H Andi Muhammad Umar, sang ayah, bukan hanya figur orang tua, tetapi guru kehidupan pertama bagi Nasaruddin. Meski hanya guru bantu tanpa gaji di Sekolah Rakyat, sang ayah menanamkan nilai-nilai penting tentang arti ilmu dan harga diri.

Kesulitan ekonomi tak melumpuhkan idealismenya. Bahkan saat terpaksa menjadi buruh pelabuhan di Surabaya, panggilan untuk kembali dan mengajar di kampung tak bisa diabaikan.

Sikap itu membekas dalam sanubari Nasaruddin kecil. Sebuah pesan sang ayah terus terngiang, “Jangan balas dendam secara fisik. Jika ingin membalas, balaslah dengan menempuh pendidikan.

Didikan keras namun penuh cinta itu membentuk karakter Nasaruddin. Nasionalisme ayahnya, yang dikenal sebagai perintis Gerakan Pemuda Ansor di Sulsel, juga menanamkan rasa cinta tanah air dalam-dalam.

Nilai-nilai keagamaan tumbuh seiring masa kecilnya di Madrasah As’adiyah Cabang 7, tempat ia belajar agama pada sore hari, setelah mengikuti pendidikan umum di pagi hari dengan sistem Massikola Ara’.

Cita-citanya sempat singgah pada profesi mantri, terinspirasi dari sang paman. Namun, takdir mengarahkannya ke dunia keagamaan lewat nasihat seorang alim, KH Muh Amin, yang menyarankannya melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren As’adiyah.

Di sanalah bakatnya melejit, melampaui teman-teman sebayanya, meneguhkan jalan hidupnya di ranah spiritual dan akademis.

Masa kecilnya pun tak lepas dari kisah getir, seperti ketika ia pingsan dua hari pasca dikhitan karena tak kuat menahan sakit dan lapar. Namun semua itu tak menyurutkan tekadnya. Justeru pengalaman pahit itu mengajarkannya keteguhan dan empati.

Petuah orang tuanya, "Assikolaki nak mancaji tau" (sekolah nak, agar jadi orang), menjadi mantra sakral yang mengantarkannya ke jenjang pendidikan tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Jejak akademiknya membentang panjang. Namun hidupnya bukan semata-mata tentang gelar. Ia pernah menjadi penasihat spiritual dua tokoh besar bangsa: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kini Presiden Prabowo Subianto.

Bahkan, Prabowo disebut sempat membantu Nasaruddin saat menempuh pendidikan di luar negeri, menandai persahabatan yang melintasi jabatan dan kepentingan.

Kini, dari kursi Menteri Agama, Prof. KH. Nasaruddin Umar menyuarakan semangat yang diwariskan ayahnya. “Para anak-anakku santri, tidak boleh tunduk dengan keadaan. Kita harus tetap berjuang,” pesannya saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Senin (7/4/2025).

Pesantren Al Ikhlas adalah warisan visi sang ayah—pendidikan sebagai jalan perubahan. Dengan 15 cabang di seluruh Indonesia, pesantren ini menjadi mercusuar pendidikan yang memadukan nilai agama, kebangsaan, dan teknologi. Visi global yang berakar pada kearifan lokal.

Lebih dari sekadar pemimpin, Nasaruddin Umar adalah gambaran nyata bagaimana seorang anak desa bisa menjelma menjadi tokoh nasional, selama ia membawa bekal nilai-nilai luhur dalam perjalanan hidupnya.

Kini, ia berkomitmen menjadikan pesantren sebagai garda depan moderasi beragama, sekaligus penjaga tradisi keindonesiaan yang majemuk.

Dari jalanan berdebu di Ujung Bone hingga singgasana birokrasi kenegaraan, Prof. KH. Nasaruddin Umar terus melangkah, mengusung cita-cita sang ayah, dan menyalakan lentera perubahan bagi generasi mendatang.

Bahwa dari desa terpencil pun, pemimpin besar bisa lahir—asalkan tak menyerah pada keadaan dan terus berjalan dengan hati yang bersih dan akal yang terdidik. (*)

Editor : Hendra Efison
#Assikolaki Nak Mancaji Tau #Nasaruddin Umar Menjadi Menteri Agama #Petuah Ayah yang Mengantarkan