Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Marta Gunawan, Anak Muda Saudagar Pinang di Tepi Batang Kuranji: Dari Belawan ke India, Pinang pun jadi Gula-gula

Mhd Nazir Fahmi • Jumat, 11 Juli 2025 | 12:00 WIB

PROSPEK: Direktur Mutiara Pinang Marta Gunawan (kanan) lagi cek kualitas pinang, kemarin.(MHD NAZIR FAHMI/PADEK)
PROSPEK: Direktur Mutiara Pinang Marta Gunawan (kanan) lagi cek kualitas pinang, kemarin.(MHD NAZIR FAHMI/PADEK)

PADEK.JAWAOS.COM-Hamparan belahan pinang ratusan ton terjemur di halaman beralaskan semen. Di tengah terik matahari, dua orang laki-laki mengisi gerobaknya dengan pinang kering. Lalu, mendorongnya ke dalam sebuah gudang.

Puluhan ibu-ibu sibuk memilah pinang kualitas tinggi dan rendah. Dicek kadar airnya hingga 0 persen, lalu dimasukkan ke karung goni untuk selanjutnya siap ekspor.

KEMARIN saya berkunjung ke Mutiara Pinang di tepi Batang Kuranji, Padang. Disambut hangat Marta Gunawan, sang direktur. Anak muda gigih ini, membawa saya keliling gudang perkantorannya.

Onggokan pinang ada di mana-mana. Beberapa pekerja sedang mengelas mesin pengering besar yang bisa memuat ratusan ton.
Marta menunjukkan kualitas pinang yang bisa ekspor.

“Ini harus 0 persen air. Baru bisa kita ekspor. Biasanya kita beli dari pengumpul, kadar airnya 18 sampai 20 persen. Makanya kita lakukan pengeringan dengan dijemur di terik matahari dan pakai mesin pengering menggunakan bahan bakar kayu,” katanya membuka cerita.

Pinang berkualitas tinggi itu, kata Marta, berasal dari Lubukbasung. Mungkin faktor geografis daerah ini, sehingga pinang dari Lubukbasung bagus-bagus. Warnanya keputih-putihan.

Di daerah lain di Sumatera Barat juga banyak produksi pinang. Paling banyak dari Pesisir Selatan, lalu Padangpariaman, Pasaman Barat dan Solok. Rata-rata kabupaten kota di Sumatera Barat ada komoditas pinangnya.

“Karena potensi ini, saya tertarik terjun ke bisnis pinang. Cukup besar tonasenya. Walaupun untung Rp 100 atau Rp 200 per kilogram, kita menangnya di tonase. Peluangnya cukup besar. Setiap bulan ada 500 ton pinang yang bisa diproduksi di Sumbar. Di Riau dan Jambi ada 5.000 ton setiap bulannya. Kalaupun dibagi ke beberapa eksportir, kita masih bisa kebagian di tonasenya,” ungkap laki-laki kelahiran Sasak, Pasaman ini.

Walaupun peluang bisnis ini cukup besar, kata Marta, saat ini persaingan juga makin ketat. Beberapa negara memberi fasilitas kepada importir di negara mereka. Diberikan fasilitas kuota seperti di Indonesia. Mungkin namanya kuota ekspor.

“Nah kalau orang di luar negeri tentu kuota impor. Kita juga punya kuota impor untuk beberapa item seperti beras, gula atau tepung. Untuk pinang seperti itu juga. Di India dan Pakistan ada beberapa perusahaan ditunjuk oleh negaranya untuk mendapatkan kuota impor pinang itu,” ujarnya.

Marta meluruskan kekeliruan orang selama ini terkait komoditas pinang yang diekspor ke luar negeri. Seratus persen pinang di luar negeri itu bertolak belakang dengan gambaran yang ada di masyarakat Indonesia. Ada yang mengatakan untuk tekstil dan pewarna.

“Jadi tidak ditemukan 1 kilo pun di luar negeri untuk jadi bahan kimia tekstil. 100 persen pinang untuk konsumsi seperti gula-gula sebagai bahan cemilan.

Terkait prospek ke depan, ujar Marta, tetap bagus. Bisnis makanan tidak akan pernah berhenti. Pinang adalah salah satu konsumsi pokok masyarakat di Asia Selatan seperti Pakistan, India, Bangladesh, Nepal.

Di Myanmar, Thailand dan beberapa negara di Eropa, Inggris juga mengonsumsi pinang. Di Arab Saudi juga mengonsumsi pinang, terutama India keturunan yang ada di sana.

Ada peluang, juga ada tantangan, kata Marta. Tantangan yang dihadapi untuk saat ini adanya beberapa kartel oleh perusahaan-perusahaan importir sebut saja mereka perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang berada di Indonesia.

Mereka diberi akses sebagai PMA tapi di support oleh negara mereka. Seperti PMA dari India yang berada di Indonesia. Mereka bisa beli bahan baku langsung ke masyarakat Indonesia.

“Jadi, mereka selaku importir di negaranya mendapat kebijakan khusus. Mereka disokong negaranya untuk mendapatkan kuota tarifnya lebih rendah untuk masuk ke negara tujuan. Sementara kita yang tidak di-support oleh beberapa negara tujuan ekspor pinang, tidak mendapatkan tarif yang murah alias mahal,” ungkapnya.

Dari dalam negeri, kata Marta, juga mendapatkan tantangan dari sisi transportasi. Seringnya, pinang untuk ekspor dikapalkan di Pelabuhan Belawan Medan. Ada biaya transportasi dari Kota Padang ke Belawan.

Kalau melalui Teluk Bayur, biayanya lebih mahal karena tujuan ekspor ke Asia Selatan. Harus memutar dulu ke Tanjungpriok Jakarta. Kalau Belawan, langsung masuk jalur Asia Selatan.

Untuk memudahkan bisnis ke depan, jelasnya, berharap kepada pemerintah atau para pengambil kebijakan agar mempercepat pembangunan jalan tol Sumatera Barat ke Sumatera Utara mungkin via Riau.

Sehingga komoditi-komoditi yang ada di Sumatera Barat bisa lebih cepat aksesnya ke luar negeri maupun ke negara tetangga. “Kita berharap dengan adanya Danantara bisa saja pemerintah meng-cover investasi untuk komoditi pinang,” katanya. (MHD NAZIR FAHMI—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Mutiara Pinang #Batang Kuranji Padang #Ekspor Pinang #Marta Gunawan