Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Tambal Ban ke Rumah Sakit Elite Jakarta: Perjuangan Rahmat Lubis Mengantar Anak Raih Cumlaude

Mengki Kurniawan • Selasa, 4 November 2025 | 20:09 WIB

Rahmat Lubis, tukang tambal ban di Padang, berhasil mengantarkan putrinya, Isfatma Saleha, meraih gelar cumlaude dan bekerja di rumah sakit elite Jakarta. (Foto: Mengki Kurniawan/ Padeks)
Rahmat Lubis, tukang tambal ban di Padang, berhasil mengantarkan putrinya, Isfatma Saleha, meraih gelar cumlaude dan bekerja di rumah sakit elite Jakarta. (Foto: Mengki Kurniawan/ Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di antara deru kendaraan yang melintas di Jalan Baypass Padang, tepat di dekat Kampus Universitas Islam Sumatera Barat (UISB) Anak Air, seorang pria paruh baya tampak sibuk menambal ban motor.

Tangannya berlumur oli, wajahnya basah oleh peluh. Dialah Rahmat Lubis, atau yang akrab disapa Pak Ucok (52), tukang tambal ban yang sejak dua dekade lalu menggantungkan hidup dari bengkel kecilnya di tepi jalan.

“Dulu jaya, Pak,” katanya sambil tersenyum mengenang masa lalu, Selasa (4/11/2025). “Banyak truk yang lewat. Sehari bisa dapat sampai lima ratus ribu.”

Sejak merantau dari kampung halamannya di Polongan Dua, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, tahun 2004, Rahmat memilih pekerjaan itu demi menafkahi keluarga kecilnya yang tinggal di Batipuh Panjang, Koto Tangah.

Namun, seiring waktu, jalan yang dulu ramai kini kian lengang. Proyek-proyek berhenti, ekonomi melambat, dan razia kendaraan membuat truk enggan melintas.

“Sekarang jauh berbeda. Kadang sehari cuma dapat cukup untuk makan,” ujarnya lirih.

Pandemi COVID-19 sempat membuat usahanya nyaris lumpuh. Tapi Rahmat tak menyerah. Ia terus menambal ban, menambal pula harapan untuk masa depan anak-anaknya.

Anak Sulung Raih Cumlaude

Kerja keras Rahmat tidak sia-sia. Putri sulungnya, Isfatma Saleha (25), baru saja lulus cumlaude dari Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners STIKES Indonesia Padang di Jalan Khatib Sulaiman.

“Waktu saya lihat dia pakai toga, rasanya semua capek ini terbayar. Saya bangga sekali,” tutur Rahmat dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Isfatma telah diterima bekerja sebagai perawat di Royal Taruma Hospital, rumah sakit bergengsi di Jakarta Barat yang dikenal memiliki reputasi internasional.

Bagi Rahmat, kabar itu bukan sekadar kebanggaan, melainkan penegasan bahwa keringatnya di jalanan Baypass berubah menjadi masa depan yang lebih terang.

Baca Juga: 55 Kepala Desa di Pariaman Didorong Terapkan Tata Kelola APBDes yang Baik

Menambal Harapan, Membangun Masa Depan

Selain Isfatma, Rahmat memiliki dua anak laki-laki. Anak keduanya baru menyelesaikan pendidikan di salah satu pesantren di Kota Padang, sedangkan si bungsu masih bersekolah di MTsN 1 Kota Padang, Jalan Adinegoro.

“Saya ini cuma tukang tambal ban. Penghasilan tidak menentu, tapi saya yakin pendidikan itu satu-satunya jalan agar mereka hidup lebih baik,” ujarnya.

Ia tidak punya sawah, kebun, atau harta warisan. Yang dimilikinya hanya besi tambal ban dan semangat pantang menyerah.

Rahmat sering memberi pesan sederhana namun penuh makna kepada anak-anaknya.

“Jangan lihat bapakmu yang kotor dan bau oli. Kalian harus jadi orang bersih, berilmu, dan sukses. Sekolah setinggi-tingginya, Nak,” ucapnya tegas.

Bagi Rahmat, keberhasilan anaknya bukan hanya hasil dari kerja keras, tapi juga keteguhan hati dan keyakinan bahwa setiap perjuangan kecil akan membawa hasil besar.

Cahaya dari Pinggir Jalan

Kisah Rahmat Lubis bukan sekadar tentang seorang ayah yang menambal ban, melainkan tentang seorang pejuang yang menambal kehidupan.

Di tengah kerasnya jalanan dan sepinya pelanggan, ia tetap percaya bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga.

Dari bengkel kecil di Baypass Padang, Rahmat telah membuktikan: keterbatasan bukan penghalang untuk menyalakan cahaya masa depan.(cr3)

Editor : Hendra Efison
#Isfatma Saleha #tukang tambal ban Padang #Rahmat Lubis #STIKES Indonesia Padang