Kue Talam Ubi Kayu Laris Manis, Kisah Ikil Lestarikan Warisan Nenek di Koto Tangah
Mengki Kurniawan• Senin, 10 November 2025 | 12:31 WIB
KUE TALAM LEGENDARIS: Ikil Saputra ketika sedang menjajakan kue talam dagangannya di kawasan Jl. Raya Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, (08/11).
PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah maraknya serbuan penganan impor dan kuliner cepat saji, Kue Talam, salah satu jajanan tradisional otentik Indonesia, terus membuktikan eksistensinya.
Kue ini tetap kokoh memegang tempat di hati masyarakat dan menjadi primadona bagi pecinta cita rasa klasik Nusantara.
Kue Talam terbuat dari bahan-bahan dasar yang sederhana namun berkualitas, seperti tepung beras, santan kelapa, dan gula.
Penganan ini kemudian dikukus di dalam sebuah loyang bundar yang dikenal sebagai ‘talam’, yang kemudian menjadi asal nama dari kue tersebut.
Ciri khas dari Kue Talam adalah perpaduan rasa yang unik, yakni manis dan gurih, yang berpadu harmonis dalam satu sajian. Teksturnya yang lembut, lentur, dan sedikit kenyal menjadikannya mudah dinikmati oleh berbagai kalangan usia.
Secara filosofis, tekstur kue ini yang lengket dan memiliki kekentalan tertentu seringkali dimaknai sebagai simbol yang mendalam.
Dalam tradisi masyarakat, hal ini melambangkan kekentalan dan keakraban dalam hubungan kekerabatan atau persaudaraan.
Kue yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 500 tahun ini memiliki banyak variasi di seluruh Indonesia, mulai dari talam pandan hingga talam dengan taburan abon.
Di Kota Padang, Sumatera Barat, Kue Talam masih mudah ditemui, salah satunya dijajakan oleh Ikil Saputra, 32.
Ikil adalah salah satu penjual yang berkomitmen untuk melestarikan kuliner otentik ini, sebuah dedikasi yang muncul dari keinginan untuk melanjutkan usaha turun temurun keluarganya. Ia telah menekuni profesi ini selama empat bulan terakhir.
Usaha Kue Talam yang kini dijalankan oleh Ikil merupakan warisan dari sang nenek, yang diketahui sudah aktif berjualan sejak tahun 2000-an di kawasan Pasar Lubuk Buaya Padang.
Ikil, yang merupakan warga asli Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, saat ini tinggal dan berproses bersama mertuanya di Kampung Pisang, Anak Air, Batipuh Panjang, Koto Tangah.
Sebelumnya, ia sempat bekerja selama dua tahun di sebuah gudang pabrik makanan ringan di Kota Padang. Namun, tuntutan pekerjaan yang berat membuatnya mengambil keputusan berani untuk berhenti dan beralih profesi.
“Beban kerja di pabrik itu berat sekali, rasanya kurang seimbang. Selain itu, ini kan kue tradisional peninggalan Nenek, sayang kalau tidak dilestarikan,” ujar Ikil pada Sabtu (08/11).
Keputusan Ikil untuk berjualan kue talam ternyata membawa berkah tersendiri. Ia mengakui bahwa penghasilannya saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat ia masih bekerja di pabrik. Setiap hari, ia mulai menjajakan dagangannya menggunakan becak motor dari pukul 07.00 pagi.
Rute yang ia tempuh meliputi sekitaran Simpang Lampu Merah Anak Air hingga Jalan Raya Air Dingin. Kue talamnya dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp3.000 per potong.
Dengan harga tersebut, Ikil mampu meraup omzet harian antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, dengan keuntungan bersih yang bisa mencapai sekitar Rp150 ribu. Dagangannya ini biasanya sudah ludes terjual pada pukul 13.00 WIB.
Ia menawarkan dua varian utama, yaitu talam ubi kayu dan talam tepung beras. Di antara keduanya, talam ubi kayu menjadi primadona yang paling laris, dengan rasio penjualan 2:1 dibandingkan talam tepung beras.
Namun, usahanya tak luput dari kendala, seperti fluktuasi harga bahan baku. "Harga ubi kayu dan tepung itu sering naik, jadi modalnya juga ikut mahal,” keluhnya.
Ia juga menyebutkan bahwa cuaca panas terik turut memengaruhi minat beli konsumen.
Menariknya, usaha Ikil sempat menjadi perbincangan di media sosial setelah dibagikan oleh pembelinya, yang berdampak positif pada peningkatan penjualannya.
Saat ditemui, ia didampingi oleh adiknya, Novri Muhammad Rizky, 14, yang sedang ia ajari cara berdagang. Upaya ini menunjukkan keseriusan Ikil dalam melestarikan warisan keluarga ini demi kelangsungan hidup kedua anak laki-lakinya yang masih kecil (berusia 4 tahun dan 5 bulan). (cr3/Padek).